Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino

Kompas.com, 11 Juni 2026, 18:47 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi peluang intensitas El Nino berada pada kategori sedang (moderat) sebesar 98 persen.

BMKG juga memprediksi peluang intensitas El Nino untuk berkembang ke arah kategori kuat sudah sebesar 62 persen.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan masyarakat Indonesia untuk bersiap menghadapi kemungkinan intensitas El Nino kategori kuat terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif atau fenomena El Nino Godzilla.

"Jadi, kita harus bersiap menghadapi itu, sekaligus juga coupling-nya biasanya itu dengan IOD positif ya," ujar Ardhasena dalam webinar Prescribed Burning, El Nino, and Fire Management in Indonesia, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani

Sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami akumulasi curah hujan musiman di bawah normal, yang menunjukkan kondisi lebih kering dari rata-rata dibandingkan dengan kondisi iklim dasar.

Sebanyak 325 zona musim (ZOMs) atau 46,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya secara klimatologis

Sebanyak 400 ZOMs atau 57,2 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal klimatologis. Lalu, sebanyak 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang kondisi keringnya di bawah dari normal klimatologis.

"Normalnya musim kemarau sendiri kan bukan sesuatu yang baik ya karena normal relatif terhadap curah hujan yang rendah gitu. Kalau di bawah normal untuk kemarau berarti dia lebih kering lagi," tutur Ardhasena.

Selama periode 1 Januari-8 Juni 2026, BMKG mencatat total 2.312 titik api (hotspots), dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di Riau atau 607 titik api. Kemudian, diikuti Kalimantan Barat dengan 478 titik api dan Aceh sebanyak 220 titik api.

Antisipasi kebakaran

Selama dua tahun terakhir, kata dia, BMKG mengimbau Kementerian Kehutanan dan pemerintah provinsi Kalimantan Barat untuk mengantisipasi kebakaran tanpa menunggu periode kering (dry spell) yang lama.

"Masyarakat membakar gitu dan saya pernah juga iseng-iseng menjumlahkan hotspot selama sekian hari hingga sekian sekitar dua minggu untuk bulan-bulan tertentu. Di situ bisa terlihat kalau hotspot-nya di-plot itu terdelineasi dengan batas provinsi. Dengan Kalimantan Tengah. Kadang kalau kita jeli melihat sesuatu ya, hotspot-nya itu ditumpuk kelihatan itu. Jadi, hotspot-nya itu berbatas Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," ucapnya.

Jumlah titik api pada awal tahun 2026 sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ketika terjadi El Nino moderat pada 2023 lalu, sebanyak 9.595 titik api terkonsentrasi di distrik dan kota-kota utama, dengan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan menjadi yang tertinggi di Indonesia.

Baca juga: Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah

Disusul kemudian, Merauke, Papua Selatan, dengan 1.640 titik api dan Kupang sebanyak 710 titik api.

"Sebenarnya, kita ini kan menghadapi El Nino 4-7 tahun sekali. Di antaranya itu diselingi dengan tahun-tahun basah sebenarnya dan El Nino itu kan tidak pernah lama dari beberapa musim, satu musim kalau kita definisikan tiga bulan ya, sebenarnya ada banyak kesempatan untuk kita mengelola isu-isu terkait lingkungan, tidak hanya untuk kehutanan, tetapi juga sumber daya air dan pertanian di sela-sela tahun-tahun El Nino," ujar Ardhasena.

Sebelumnya, Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A’an Johan Wahyudi mengatakan, tingkat keparahan dampak El Nino terhadap Indonesia juga ditentukan oleh interaksi dengan IOD di Samudra Hindia. Ketika El Nino kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif, tingkat keparahan dampaknya akan semakin kuat atau bisa terjadi El Nino Godzilla.

Kata dia, sebagian besar permodelan memprediksi El Nino pada 2026 cenderung berada pada kategori sedang hingga kuat.

"Dari semua sistem model atau prediksi itu, itu memang kecenderungan untuk nanti menjadi moderate ke strong itu lebih besar peluangnya," ujarnya.

Ia mengungkapkan, tingkat keparahan dampak El Nino di Sumatera dan Jawa sangat tergantung pada IOD, apakah interaksinya akan berakhir menguatkan atau saling melemahkan.

Dalam mempertimbangkan tingkat keparahan dampak El Nino, Indonesia masih berkiblat ke AS, yang mana kawasannya sangat terdampak, termasuk terkait pemutihan karang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau