KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi peluang intensitas El Nino berada pada kategori sedang (moderat) sebesar 98 persen.
BMKG juga memprediksi peluang intensitas El Nino untuk berkembang ke arah kategori kuat sudah sebesar 62 persen.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan masyarakat Indonesia untuk bersiap menghadapi kemungkinan intensitas El Nino kategori kuat terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif atau fenomena El Nino Godzilla.
"Jadi, kita harus bersiap menghadapi itu, sekaligus juga coupling-nya biasanya itu dengan IOD positif ya," ujar Ardhasena dalam webinar Prescribed Burning, El Nino, and Fire Management in Indonesia, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami akumulasi curah hujan musiman di bawah normal, yang menunjukkan kondisi lebih kering dari rata-rata dibandingkan dengan kondisi iklim dasar.
Sebanyak 325 zona musim (ZOMs) atau 46,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya secara klimatologis
Sebanyak 400 ZOMs atau 57,2 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal klimatologis. Lalu, sebanyak 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang kondisi keringnya di bawah dari normal klimatologis.
"Normalnya musim kemarau sendiri kan bukan sesuatu yang baik ya karena normal relatif terhadap curah hujan yang rendah gitu. Kalau di bawah normal untuk kemarau berarti dia lebih kering lagi," tutur Ardhasena.
Selama periode 1 Januari-8 Juni 2026, BMKG mencatat total 2.312 titik api (hotspots), dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di Riau atau 607 titik api. Kemudian, diikuti Kalimantan Barat dengan 478 titik api dan Aceh sebanyak 220 titik api.
Selama dua tahun terakhir, kata dia, BMKG mengimbau Kementerian Kehutanan dan pemerintah provinsi Kalimantan Barat untuk mengantisipasi kebakaran tanpa menunggu periode kering (dry spell) yang lama.
"Masyarakat membakar gitu dan saya pernah juga iseng-iseng menjumlahkan hotspot selama sekian hari hingga sekian sekitar dua minggu untuk bulan-bulan tertentu. Di situ bisa terlihat kalau hotspot-nya di-plot itu terdelineasi dengan batas provinsi. Dengan Kalimantan Tengah. Kadang kalau kita jeli melihat sesuatu ya, hotspot-nya itu ditumpuk kelihatan itu. Jadi, hotspot-nya itu berbatas Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," ucapnya.
Jumlah titik api pada awal tahun 2026 sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ketika terjadi El Nino moderat pada 2023 lalu, sebanyak 9.595 titik api terkonsentrasi di distrik dan kota-kota utama, dengan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan menjadi yang tertinggi di Indonesia.
Baca juga: Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Disusul kemudian, Merauke, Papua Selatan, dengan 1.640 titik api dan Kupang sebanyak 710 titik api.
"Sebenarnya, kita ini kan menghadapi El Nino 4-7 tahun sekali. Di antaranya itu diselingi dengan tahun-tahun basah sebenarnya dan El Nino itu kan tidak pernah lama dari beberapa musim, satu musim kalau kita definisikan tiga bulan ya, sebenarnya ada banyak kesempatan untuk kita mengelola isu-isu terkait lingkungan, tidak hanya untuk kehutanan, tetapi juga sumber daya air dan pertanian di sela-sela tahun-tahun El Nino," ujar Ardhasena.
Sebelumnya, Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A’an Johan Wahyudi mengatakan, tingkat keparahan dampak El Nino terhadap Indonesia juga ditentukan oleh interaksi dengan IOD di Samudra Hindia. Ketika El Nino kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif, tingkat keparahan dampaknya akan semakin kuat atau bisa terjadi El Nino Godzilla.
Kata dia, sebagian besar permodelan memprediksi El Nino pada 2026 cenderung berada pada kategori sedang hingga kuat.
"Dari semua sistem model atau prediksi itu, itu memang kecenderungan untuk nanti menjadi moderate ke strong itu lebih besar peluangnya," ujarnya.
Ia mengungkapkan, tingkat keparahan dampak El Nino di Sumatera dan Jawa sangat tergantung pada IOD, apakah interaksinya akan berakhir menguatkan atau saling melemahkan.
Dalam mempertimbangkan tingkat keparahan dampak El Nino, Indonesia masih berkiblat ke AS, yang mana kawasannya sangat terdampak, termasuk terkait pemutihan karang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya