Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB

Kompas.com, 19 Juni 2026, 18:45 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya meningkatkan kapasitas petani di kawasan penyangga konservasi terus dilakukan untuk mendorong pengelolaan lahan yang produktif sekaligus ramah lingkungan.

Salah satunya dilakukan oleh Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang melakukan pendampingan kepada petani dari empat desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), serta mempertemukannya dengan sejumlah pakar dan peneliti guna memperkuat praktik pertanian berkelanjutan.

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Implementing Partner FOLU Net Sink 2030 itu melibatkan petani dari Desa Cihamerang, Kabandungan, Cipeuteuy, dan Mekarjaya, Kabupaten Sukabumi.

Baca juga: Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim

Dalam program tersebut, petani memperoleh pelatihan dan pendampingan mengenai pengelolaan lahan, peningkatan produktivitas pertanian, hingga pemanfaatan tanaman multiguna atau multipurpose tree species (MPTS).

Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhammad Syukur yang memberikan pelatihan mengenai teknik budidaya cabai menyatakan bahwa keberhasilan budidaya komoditas tersebut ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari pemilihan varietas unggul hingga pengelolaan hama dan penyakit tanaman.

"Keberhasilan budi daya cabai dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pemilihan varietas unggul dan benih bermutu, persiapan lahan, pemupukan berimbang, pengelolaan air, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman," ujar Prof Syukur.

Selain itu, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Prof Arief Hartono, memberikan pengenalan mengenai karakteristik dan kesuburan tanah.

Petani dikenalkan pada kebutuhan unsur hara tanaman, faktor yang memengaruhi kualitas tanah, serta penggunaan alat sederhana untuk mengevaluasi kondisi lahan.

Pendampingan juga dilakukan melalui praktik lapangan bersama dosen IPB University, Dr Endang Gunawan.

Pemeliharaan tanaman

Dalam kegiatan tersebut, petani mempelajari teknik pemeliharaan tanaman MPTS, mulai dari pengendalian gulma, pemupukan, hingga perawatan tanaman pada fase awal pertumbuhan.

Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Hasari, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurut dia, materi yang diberikan relevan dengan upaya pengembangan komoditas pertanian di wilayah Kabandungan.

Baca juga: Kemenhut Gandeng BRIN untuk Kembangkan Bioprospeksi dari Tanaman

"Programnya sangat baik dan sangat membantu para petani. Khususnya tema hari ini yang mendukung perwujudan Kecamatan Kabandungan sebagai sentra cabai di Jawa Barat," ujarnya.

Melalui program ini, petani di desa-desa penyangga TNGHS diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola lahan secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan sekitar.

Penguatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan warga, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pencapaian target Indonesia dalam program FOLU Net Sink 2030 yang menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan menjadi penyerap emisi karbon bersih.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
LSM/Figur
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Pemerintah
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Pemerintah
'Langkah Membumi', Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Swasta
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
LSM/Figur
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pemerintah
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau