Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya meningkatkan kapasitas petani di kawasan penyangga konservasi terus dilakukan untuk mendorong pengelolaan lahan yang produktif sekaligus ramah lingkungan.
Salah satunya dilakukan oleh Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang melakukan pendampingan kepada petani dari empat desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), serta mempertemukannya dengan sejumlah pakar dan peneliti guna memperkuat praktik pertanian berkelanjutan.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Implementing Partner FOLU Net Sink 2030 itu melibatkan petani dari Desa Cihamerang, Kabandungan, Cipeuteuy, dan Mekarjaya, Kabupaten Sukabumi.
Baca juga: Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Dalam program tersebut, petani memperoleh pelatihan dan pendampingan mengenai pengelolaan lahan, peningkatan produktivitas pertanian, hingga pemanfaatan tanaman multiguna atau multipurpose tree species (MPTS).
Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhammad Syukur yang memberikan pelatihan mengenai teknik budidaya cabai menyatakan bahwa keberhasilan budidaya komoditas tersebut ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari pemilihan varietas unggul hingga pengelolaan hama dan penyakit tanaman.
"Keberhasilan budi daya cabai dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pemilihan varietas unggul dan benih bermutu, persiapan lahan, pemupukan berimbang, pengelolaan air, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman," ujar Prof Syukur.
Selain itu, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Prof Arief Hartono, memberikan pengenalan mengenai karakteristik dan kesuburan tanah.
Petani dikenalkan pada kebutuhan unsur hara tanaman, faktor yang memengaruhi kualitas tanah, serta penggunaan alat sederhana untuk mengevaluasi kondisi lahan.
Pendampingan juga dilakukan melalui praktik lapangan bersama dosen IPB University, Dr Endang Gunawan.
Dalam kegiatan tersebut, petani mempelajari teknik pemeliharaan tanaman MPTS, mulai dari pengendalian gulma, pemupukan, hingga perawatan tanaman pada fase awal pertumbuhan.
Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Hasari, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurut dia, materi yang diberikan relevan dengan upaya pengembangan komoditas pertanian di wilayah Kabandungan.
Baca juga: Kemenhut Gandeng BRIN untuk Kembangkan Bioprospeksi dari Tanaman
"Programnya sangat baik dan sangat membantu para petani. Khususnya tema hari ini yang mendukung perwujudan Kecamatan Kabandungan sebagai sentra cabai di Jawa Barat," ujarnya.
Melalui program ini, petani di desa-desa penyangga TNGHS diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola lahan secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan sekitar.
Penguatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan warga, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pencapaian target Indonesia dalam program FOLU Net Sink 2030 yang menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan menjadi penyerap emisi karbon bersih.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya