Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan

Kompas.com, 20 Juni 2026, 15:58 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Data survei PricewaterhouseCoopers (PwC) menunjukkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap isu lingkungan hidup grafik menggembirakan. Sebanyak 62 persen konsumen Tanah Air menaruh perhatian besar pada perubahan iklim.

Mayoritas di antaranya (57 persen) memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan dan bahkan bahkan 72 persen rela merogoh kocek lebih dalam demi mendukung isu lingkungan.

Menjawab tantangan tersebut, Blibli Tiket Action menghadirkan "Langkah Membumi" sebagai wadah penghubung pilar edukasi, kolaborasi, dan pengalaman langsung untuk mendorong adopsi gaya hidup lebih berkelanjutan.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, "Langkah Membumi" bertransformasi menjadi "Langkah Membumi Market", platform yang menghadirkan pendekatan keberlanjutan yang lebih pop, interaktif, relevan, dan mudah diterapkan.

Puncak acara "Langkah Membumi Market 2026" akan berlangsung pada 8–11 Oktober 2026 di Grand Indonesia, Jakarta.

Dengan menjadikan market sebagai pusat pengalaman, Langkah Membumi Market 2026 menghadirkan tiga pilar utama:

  • Inspiring Talks: menghadirkan ide, perspektif, dan cerita inspiratif dari para pemimpin industri, kreator, komunitas, hingga para agen perubahan.
  • Eco Labs: mengajak pengunjung belajar sambil mencoba melalui workshop dan pengalaman interaktif yang membuat gaya hidup berkelanjutan terasa lebih dekat dan mudah diterapkan.
  • Curated Market: menjadi ruang kurasi bagi brand dan pelaku usaha untuk menampilkan produk, layanan, serta inovasi ramah lingkungan dan mendukung gaya hidup hijau.

Diperkenalkan pertama pada 2022, "Langkah Membumi" berkembang menjadi platform kolaboratif mempertemukan pemerintah, korporasi, komunitas, NGO, ecopreneur, kreator, akademisi, dan masyarakat untuk mendorong perubahan positif bagi lingkungan.

Transformasi ini didorong oleh insight pengunjung sejak 2023 yang menunjukkan bahwa sekitar 90 persen audiens "Langkah Membumi" berasal dari Gen Z dan young Millennials, kelompok konsumen yang semakin sadar terhadap isu sosial dan lingkungan serta memiliki pengaruh besar terhadap tren konsumsi masa depan.

"Kami melihat bahwa generasi muda tidak hanya semakin peduli terhadap isu sustainability, tetapi juga semakin aktif mencari produk, layanan, dan pengalaman yang sejalan dengan nilai yang mereka yakini," ujar COO dan Co-Founder Blibli, Lisa Widodo.

"Karena itu, Langkah Membumi Market 2026 hadir untuk membantu menjembatani kesenjangan antara kepedulian dan tindakan nyata melalui pengalaman yang lebih praktis, partisipatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari," lanjutnya.

Langkah nyata berkelanjutan

"Langkah Membumi" percaya dampak perlu dibuktikan, bukan hanya diceritakan sehingga, secara konsisten setiap penyelenggaraannya melakukan pengukuran dampak mengacu pada standar internasional ISO 14040 dan ISO 14044.

Standar ini menggunakan metodologi Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengevaluasi berbagai aspek lingkungan, termasuk jejak karbon, emisi, pengelolaan limbah, serta aspek keberlanjutan lainnya yang dihasilkan dari setiap aktivitas.

Di sektor pengelolaan limbah dan air, program ini sukses mengelola 100 persen limbah operasional yang mencakup material plastik, kaca, kertas, hingga sampah organik dengan total volume mencapai 187 kilogram.

Tidak hanya itu, penyediaan 741 liter air isi ulang di area publik berhasil meminimalkan ketergantungan pada wadah sekali pakai, sebuah langkah taktis setara menghemat 1.235 botol plastik.

Komitmen dekarbonisasi juga membuahkan hasil signifikan dalam mereduksi jejak karbon operasional. Program ini berhasil menekan emisi hingga lebih dari 94 ton CO2, mencatatkan penurunan performa emisi sebesar 57 persen lebih rendah dibandingkan tahun 2024.

Guna memperkuat kontribusi positif ini terhadap atmosfer, sebanyak 10.500 pohon telah didonasikan dan ditanam, yang diproyeksikan memiliki kapasitas jangka panjang untuk menyerap hingga 450 ton CO2.

Selain melakukan aksi lingkungan secara langsung, pendekatan sirkular ini juga berfokus pada pembangunan kesadaran publik melalui edukasi yang masif.

Baca juga: Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB

Dengan menyelenggarakan 44 sesi gelar wicara dan lokakarya interaktif sekitar 71,5 jam edukasi, program ini berhasil memantik dampak perilaku berkelanjutan.

Lebih dari 60 persen peserta melaporkan peningkatan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan, dan lebih dari 50 persen di antaranya menyatakan kesiapan penuh menjalankan aksi nyata sehari-hari demi bumi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
LSM/Figur
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Pemerintah
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Pemerintah
'Langkah Membumi', Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Swasta
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
LSM/Figur
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pemerintah
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau