Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IEA: Permintaan Gas Dunia Diperkirakan Turun 0,5 Persen Tahun Ini

Kompas.com, 9 Juli 2026, 13:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Data terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan permintaan gas di dunia diperkirakan turun 0,5 persen pada tahun 2026.

Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh krisis di Timur Tengah dan ketidakpastian yang terus terjadi di pasar gas.

Melansir Edie, Rabu (8/9/2026) ini menjadi ketiga kalinya konsumsi gas dunia mengalami penurunan dari tahun ke tahun sejak tahun 2020.

Kemerosotan ini utamanya disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz, jalur laut krusial yang biasanya dilewati oleh 20 persen total pasokan gas alam cair (LNG) dunia.

Sepanjang bulan Maret hingga Juni lalu, pasokan gas dari Qatar dan Uni Emirat Arab anjlok sekitar 80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.

Baca juga: Bank Dunia: Sembilan Negara Dominasi 83 Persen Total Gas Flaring Dunia

Di sisi lain, proyek-proyek gas alam cair (LNG) di Amerika Utara dan Afrika sudah menggenjot produksi mereka untuk menutupi kekurangan, ditambah pasokan dari negara penghasil lama di Afrika, Asia, dan Rusia yang membaik, total produksi LNG dunia tetap saja turun sebesar 4 persen dibanding tahun sebelumnya.

Akibat kekurangan pasokan yang terjadi secara mendadak ini, harga grosir gas alam melonjak lebih dari dua kali lipat. Selain itu, harga minyak bumi juga berulang kali meroket sejak Amerika Serikat dan Israel pertama kali menyerang Iran pada 28 Februari, yang berujung pada tindakan Iran menutup total Selat Hormuz.

Perkiraan penurunan total permintaan gas ini dibuat dengan syarat Selat Hormuz tetap dibuka penuh sampai akhir tahun.

Pembukaan ini bisa terjadi setelah adanya kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat bulan lalu, serta kembali normalnya kegiatan produksi dan pengiriman gas di Timur Tengah.

Walau begitu, ketidakpastian di pasar gas akan tetap ada, dan konsumsi gas dunia diperkirakan tetap turun sebanyak 20 miliar meter kubik (bcm) dibanding tahun lalu.

Sementara itu di negara-negara Eropa yang tergabung dalam OECD, konsumsi gas alam turun sekitar 0,5 persen pada paruh pertama tahun 2026. Penurunan ini sebagian besar terjadi karena sektor pembangkit listrik mengurangi penggunaan gas seiring dengan makin banyaknya pasokan listrik dari energi terbarukan.

Penurunan yang terus berlanjut

Lebih lanjut, tren penurunan ini bukan lagi kejadian lokal, melainkan fenomena global.

Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi

Menurut lembaga pengamat energi Ember, hampir separuh dari negara-negara penghasil gas di dunia saat ini sudah melewati masa kejayaan (peak generation) mereka. Akibatnya, porsi penggunaan gas dalam total produksi listrik dunia terus merosot selama lima tahun berturut-turut hingga tahun 2025.

Secara keseluruhan, sebanyak 61 dari 124 negara yang memproduksi listrik menggunakan gas telah melewati masa kejayaan mereka, termasuk Inggris, Jerman, Italia, dan Jepang.

Sejak tahun 2020, porsi penggunaan gas dalam total pasokan energi dunia telah merosot dari 23,9 persen menjadi 21,8 persen pada tahun lalu.

"Alasan ekonomi dan keamanan energi kini makin sejalan," kata Malgorzata Wiatros-Motyka, analis listrik senior di lembaga Ember.

"Ketika energi terbarukan bisa memangkas biaya sekaligus mengurangi risiko akibat lonjakan harga bahan bakar dan konflik politik dunia, gas secara perlahan kehilangan keunggulannya yang dulu sempat membuatnya menjadi pilihan utama untuk pertumbuhan sistem kelistrikan," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
IEA: Permintaan Gas Dunia Diperkirakan Turun 0,5 Persen Tahun Ini
IEA: Permintaan Gas Dunia Diperkirakan Turun 0,5 Persen Tahun Ini
Pemerintah
Malaysia Waspadai Suhu Tembus 40 Derajat Celsius Awal 2027 akibat El Nino
Malaysia Waspadai Suhu Tembus 40 Derajat Celsius Awal 2027 akibat El Nino
Pemerintah
Sekolah Tambang Hadir di Morowali, Mampukah Jadi Tiket Masa Depan Daerah?
Sekolah Tambang Hadir di Morowali, Mampukah Jadi Tiket Masa Depan Daerah?
Pemerintah
Pertobatan Ekologis, Dimensi Moral, dan Keberanian Politik
Pertobatan Ekologis, Dimensi Moral, dan Keberanian Politik
Pemerintah
Peneliti UGM: Spesifikasi Aspal Jalan Perlu Beradaptasi dengan Krisis Iklim
Peneliti UGM: Spesifikasi Aspal Jalan Perlu Beradaptasi dengan Krisis Iklim
Pemerintah
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
BrandzView
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
BrandzView
Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun
Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun
Pemerintah
Kalimantan Kaya Batu Bara justru Terkena Pemadaman Listrik Bergilir
Kalimantan Kaya Batu Bara justru Terkena Pemadaman Listrik Bergilir
LSM/Figur
Kenapa Semakin Banyak Kelas Menengah Bangun Bisnis Sendiri?
Kenapa Semakin Banyak Kelas Menengah Bangun Bisnis Sendiri?
LSM/Figur
Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Pemerintah
Targetkan Nol Emisi Karbon, Mercedes F1 Umumkan Rencana Transisi hingga 2040
Targetkan Nol Emisi Karbon, Mercedes F1 Umumkan Rencana Transisi hingga 2040
Pemerintah
FIFGROUP Kembangkan Desa Binaan untuk Perkuat Ekonomi Lokal
FIFGROUP Kembangkan Desa Binaan untuk Perkuat Ekonomi Lokal
Swasta
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
LSM/Figur
 Di Balik Lonjakan PDRB Morowali, Seberapa Merata Manfaat Hilirisasi Nikel?
Di Balik Lonjakan PDRB Morowali, Seberapa Merata Manfaat Hilirisasi Nikel?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau