KOMPAS.com - Data terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan permintaan gas di dunia diperkirakan turun 0,5 persen pada tahun 2026.
Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh krisis di Timur Tengah dan ketidakpastian yang terus terjadi di pasar gas.
Melansir Edie, Rabu (8/9/2026) ini menjadi ketiga kalinya konsumsi gas dunia mengalami penurunan dari tahun ke tahun sejak tahun 2020.
Kemerosotan ini utamanya disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz, jalur laut krusial yang biasanya dilewati oleh 20 persen total pasokan gas alam cair (LNG) dunia.
Sepanjang bulan Maret hingga Juni lalu, pasokan gas dari Qatar dan Uni Emirat Arab anjlok sekitar 80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Baca juga: Bank Dunia: Sembilan Negara Dominasi 83 Persen Total Gas Flaring Dunia
Di sisi lain, proyek-proyek gas alam cair (LNG) di Amerika Utara dan Afrika sudah menggenjot produksi mereka untuk menutupi kekurangan, ditambah pasokan dari negara penghasil lama di Afrika, Asia, dan Rusia yang membaik, total produksi LNG dunia tetap saja turun sebesar 4 persen dibanding tahun sebelumnya.
Akibat kekurangan pasokan yang terjadi secara mendadak ini, harga grosir gas alam melonjak lebih dari dua kali lipat. Selain itu, harga minyak bumi juga berulang kali meroket sejak Amerika Serikat dan Israel pertama kali menyerang Iran pada 28 Februari, yang berujung pada tindakan Iran menutup total Selat Hormuz.
Perkiraan penurunan total permintaan gas ini dibuat dengan syarat Selat Hormuz tetap dibuka penuh sampai akhir tahun.
Pembukaan ini bisa terjadi setelah adanya kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat bulan lalu, serta kembali normalnya kegiatan produksi dan pengiriman gas di Timur Tengah.
Walau begitu, ketidakpastian di pasar gas akan tetap ada, dan konsumsi gas dunia diperkirakan tetap turun sebanyak 20 miliar meter kubik (bcm) dibanding tahun lalu.
Sementara itu di negara-negara Eropa yang tergabung dalam OECD, konsumsi gas alam turun sekitar 0,5 persen pada paruh pertama tahun 2026. Penurunan ini sebagian besar terjadi karena sektor pembangkit listrik mengurangi penggunaan gas seiring dengan makin banyaknya pasokan listrik dari energi terbarukan.
Lebih lanjut, tren penurunan ini bukan lagi kejadian lokal, melainkan fenomena global.
Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Menurut lembaga pengamat energi Ember, hampir separuh dari negara-negara penghasil gas di dunia saat ini sudah melewati masa kejayaan (peak generation) mereka. Akibatnya, porsi penggunaan gas dalam total produksi listrik dunia terus merosot selama lima tahun berturut-turut hingga tahun 2025.
Secara keseluruhan, sebanyak 61 dari 124 negara yang memproduksi listrik menggunakan gas telah melewati masa kejayaan mereka, termasuk Inggris, Jerman, Italia, dan Jepang.
Sejak tahun 2020, porsi penggunaan gas dalam total pasokan energi dunia telah merosot dari 23,9 persen menjadi 21,8 persen pada tahun lalu.
"Alasan ekonomi dan keamanan energi kini makin sejalan," kata Malgorzata Wiatros-Motyka, analis listrik senior di lembaga Ember.
"Ketika energi terbarukan bisa memangkas biaya sekaligus mengurangi risiko akibat lonjakan harga bahan bakar dan konflik politik dunia, gas secara perlahan kehilangan keunggulannya yang dulu sempat membuatnya menjadi pilihan utama untuk pertumbuhan sistem kelistrikan," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya