JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah sekolah menengah pertama di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste meraih penghargaan tingkat Asia Pasifik berkat inovasi pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinobatkan sebagai juara utama "AIA Healthiest Schools Competition 2026" setelah mengembangkan program pengolahan limbah kulit pisang menjadi es krim, kompos, dan pupuk cair.
Sekolah tersebut berhasil menyisihkan hampir 1.000 peserta dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik. Atas pencapaian itu, SMP IL Kapten Fatubaa memperoleh hadiah sebesar 40.000 dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 723 juta, yang akan digunakan untuk mengembangkan program kesehatan dan keberlanjutan di lingkungan sekolah.
Baca juga: Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Group Chief Marketing Officer AIA Group Stuart A. Spencer mengatakan, keberhasilan sekolah tersebut menunjukkan bahwa inovasi sederhana yang lahir dari komunitas lokal mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan lingkungan.
"Melalui AIA Healthiest Schools Competition, kami melihat bagaimana anak-anak muda mampu mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata. SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan bahwa inovasi sederhana dari komunitas lokal dapat menghasilkan dampak besar bagi kesehatan dan lingkungan," ujar Stuart dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).
Keberhasilan itu dinilai semakin istimewa karena SMP IL Kapten Fatubaa berada di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste dengan berbagai keterbatasan infrastruktur.
Setiap hari, para siswa harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk mencapai sekolah.
Di tengah kondisi tersebut, sekolah mengembangkan **Huka Upcycling Project (HUP)** sebagai upaya mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat.
Melalui program tersebut, kulit pisang yang sebelumnya dibuang diolah menjadi tiga produk, yakni es krim, kompos, dan pupuk cair.
Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari guru, siswa, orang tua, petani, koperasi, hingga masyarakat di sekitar sekolah.
Baca juga: Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Menurut Stuart, pendekatan kolaboratif tersebut membuat manfaat program tidak hanya dirasakan di lingkungan sekolah, tetapi juga masyarakat sekitar.
Sekolah mencatat, Huka Upcycling Project telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 orang di wilayah perbatasan.
Program tersebut dinilai menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas, dengan mengubah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Stuart mengatakan, pencapaian SMP IL Kapten Fatubaa membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk menghadirkan inovasi.
"Keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas lengkap. Berangkat dari tantangan sehari-hari di wilayah perbatasan, para siswa mampu menghadirkan solusi yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, prestasi tersebut menunjukkan generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak perubahan sekaligus menghadirkan solusi lingkungan yang dapat menginspirasi hingga tingkat regional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya