Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sekolah di NTT Raih Penghargaan Asia Pasifik Berkat Inovasi Olah Limbah Kulit Pisang

Kompas.com, 9 Juli 2026, 14:19 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah sekolah menengah pertama di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste meraih penghargaan tingkat Asia Pasifik berkat inovasi pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.

SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinobatkan sebagai juara utama "AIA Healthiest Schools Competition 2026" setelah mengembangkan program pengolahan limbah kulit pisang menjadi es krim, kompos, dan pupuk cair.

Sekolah tersebut berhasil menyisihkan hampir 1.000 peserta dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik. Atas pencapaian itu, SMP IL Kapten Fatubaa memperoleh hadiah sebesar 40.000 dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 723 juta, yang akan digunakan untuk mengembangkan program kesehatan dan keberlanjutan di lingkungan sekolah.

Baca juga: Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat

Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Group Chief Marketing Officer AIA Group Stuart A. Spencer mengatakan, keberhasilan sekolah tersebut menunjukkan bahwa inovasi sederhana yang lahir dari komunitas lokal mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan lingkungan.

"Melalui AIA Healthiest Schools Competition, kami melihat bagaimana anak-anak muda mampu mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata. SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan bahwa inovasi sederhana dari komunitas lokal dapat menghasilkan dampak besar bagi kesehatan dan lingkungan," ujar Stuart dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).

Berangkat dari keterbatasan

Keberhasilan itu dinilai semakin istimewa karena SMP IL Kapten Fatubaa berada di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste dengan berbagai keterbatasan infrastruktur.

Setiap hari, para siswa harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk mencapai sekolah.

Di tengah kondisi tersebut, sekolah mengembangkan **Huka Upcycling Project (HUP)** sebagai upaya mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat.

Melalui program tersebut, kulit pisang yang sebelumnya dibuang diolah menjadi tiga produk, yakni es krim, kompos, dan pupuk cair.

Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari guru, siswa, orang tua, petani, koperasi, hingga masyarakat di sekitar sekolah.

Baca juga: Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah

Menurut Stuart, pendekatan kolaboratif tersebut membuat manfaat program tidak hanya dirasakan di lingkungan sekolah, tetapi juga masyarakat sekitar.

Jangkau lebih dari 1.000 penerima manfaat

Sekolah mencatat, Huka Upcycling Project telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 orang di wilayah perbatasan.

Program tersebut dinilai menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas, dengan mengubah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Stuart mengatakan, pencapaian SMP IL Kapten Fatubaa membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk menghadirkan inovasi.

"Keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas lengkap. Berangkat dari tantangan sehari-hari di wilayah perbatasan, para siswa mampu menghadirkan solusi yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, prestasi tersebut menunjukkan generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak perubahan sekaligus menghadirkan solusi lingkungan yang dapat menginspirasi hingga tingkat regional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sekolah di NTT Raih Penghargaan Asia Pasifik Berkat Inovasi Olah Limbah Kulit Pisang
Sekolah di NTT Raih Penghargaan Asia Pasifik Berkat Inovasi Olah Limbah Kulit Pisang
LSM/Figur
IEA: Permintaan Gas Dunia Diperkirakan Turun 0,5 Persen Tahun Ini
IEA: Permintaan Gas Dunia Diperkirakan Turun 0,5 Persen Tahun Ini
Pemerintah
Malaysia Waspadai Suhu Tembus 40 Derajat Celsius Awal 2027 akibat El Nino
Malaysia Waspadai Suhu Tembus 40 Derajat Celsius Awal 2027 akibat El Nino
Pemerintah
Sekolah Tambang Hadir di Morowali, Mampukah Jadi Tiket Masa Depan Daerah?
Sekolah Tambang Hadir di Morowali, Mampukah Jadi Tiket Masa Depan Daerah?
Pemerintah
Pertobatan Ekologis, Dimensi Moral, dan Keberanian Politik
Pertobatan Ekologis, Dimensi Moral, dan Keberanian Politik
Pemerintah
Peneliti UGM: Spesifikasi Aspal Jalan Perlu Beradaptasi dengan Krisis Iklim
Peneliti UGM: Spesifikasi Aspal Jalan Perlu Beradaptasi dengan Krisis Iklim
Pemerintah
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
BrandzView
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
BrandzView
Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun
Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun
Pemerintah
Kalimantan Kaya Batu Bara justru Terkena Pemadaman Listrik Bergilir
Kalimantan Kaya Batu Bara justru Terkena Pemadaman Listrik Bergilir
LSM/Figur
Kenapa Semakin Banyak Kelas Menengah Bangun Bisnis Sendiri?
Kenapa Semakin Banyak Kelas Menengah Bangun Bisnis Sendiri?
LSM/Figur
Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Pemerintah
Targetkan Nol Emisi Karbon, Mercedes F1 Umumkan Rencana Transisi hingga 2040
Targetkan Nol Emisi Karbon, Mercedes F1 Umumkan Rencana Transisi hingga 2040
Pemerintah
FIFGROUP Kembangkan Desa Binaan untuk Perkuat Ekonomi Lokal
FIFGROUP Kembangkan Desa Binaan untuk Perkuat Ekonomi Lokal
Swasta
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau