Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
TULISAN ini berangkat dari hasil penelitian tentang persepsi masyarakat mengenai bencana alam.
Sampel diambil menggunakan multistage stratified random sampling dari kalangan masyarakat terdampak bencana pada sejumlah daerah di Jawa dan Sumatra, dengan tipologi bencana dan tingkat keterdampakan sebagai basis stratifikasi substantif.
Salah satu temuan paling penting dalam penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap bencana di Jawa dan Sumatra adalah munculnya konsep ecomystic dalam memaknai hubungan antara manusia, alam, dan bencana.
Ecomystic menunjukkan, sebagian masyarakat tidak memandang bencana alam sebagai konsekuensi dari proses geologis, hidrometeorologis, atau degradasi lingkungan yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Mereka meyakini bencana sebagai akibat dari terganggunya dimensi sakralitas yang diyakini menyertai kehidupan alam.
Dalam perspektif ini, alam merupakan ruang hidup yang memiliki kesakralan yang harus dihormati.
Ecomystic merupakan sistem pengetahuan lokal yang memadukan kesadaran ekologis dengan keyakinan spiritual.
Pembukaan hutan sembarangan, sebagai contoh, akan mengganggu kekuatan nonkasatmata yang menjaga wilayah yang digarap.
Dalam konstruksi makna sebagian masyarakat, gangguan terhadap tatanan tersebut dapat memunculkan respons berupa kutukan dan hukuman.
Bentuk hukuman termanifestasi melalui banjir, longsor, letusan gunung, kekeringan, maupun bencana lainnya.
Baca juga: Sogok Aku Kau Kutangkap: Hikayat Artidjo Alkostar dan Wajah Penegakan Hukum
Bencana adalah mekanisme pemulihan keseimbangan alam ketika manusia mengganggu sakralitas “penunggu kawasan”.
Ecomystic merupakan cara masyarakat mengonstruksi makna atas bencana berdasarkan sistem kepercayaan yang hidup dalam budaya mereka dan memiliki fungsi sosial yang sangat penting.
Ia akan memperkuat norma konservasi dan menciptakan mekanisme pengendalian terhadap perilaku eksploitatif.
Kepercayaan terhadap ruang-ruang sakral dan penghuni alam nonkasatmata kawasan menghasilkan kepatuhan yang tidak hanya didasarkan pada regulasi formal, tetapi juga pada tanggung jawab moral-spiritual yang diwariskan antargenerasi.
Ecomystic memiliki implikasi praktis bagi pengelolaan lingkungan dan pengurangan risiko bencana.
Masyarakat yang memegang kuat pandangan tersebut cenderung memadukan solusi teknis dengan pendekatan spiritual.
Upaya pemeliharaan alam berbasis sains harusnya berjalan secara terpadu dengan ritual adat dan penghormatan terhadap kawasan sakral.
Strategi terpadu ini berpotensi memperoleh legitimasi sosial yang lebih kuat dibandingkan dengan pendekatan teknokratis atau solusi ilmiah yang berdiri sendiri.
Ecomystic merupakan salah satu modal budaya (cultural capital) yang berkontribusi terhadap konservasi lingkungan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya