KOMPAS.com - Bagi sebagian besar orang, ampas kopi berakhir sebagai limbah setelah secangkir kopi dinikmati. Padahal, di balik ampas kopi tersimpan potensi yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa limbah ampas kopi Gayo dapat diolah menjadi bahan penyusun kemasan pangan ramah lingkungan yang lebih kuat, tahan air, sekaligus memiliki sifat antibakteri.
Temuan ini membuka peluang baru dalam mengurangi ketergantungan terhadap plastik konvensional yang hingga kini masih mendominasi industri kemasan pangan.
Baca juga: Daftar 9 Kopi Indonesia Terbaik Versi TasteAtlas, Juaranya dari Sumatera
"Selama ini plastik konvensional masih mendominasi industri pangan. Padahal, plastik konvensional menimbulkan masalah lingkungan karena tidak terbarukan dan sulit terurai. Oleh sebab itu diperlukan material alternatif yang ramah lingkungan dan berkinerja baik," ujar peneliti postdoktoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Haya Fathana, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu (18/7/2026).
Dalam penelitiannya, Haya memanfaatkan ampas kopi Gayo karena mengandung berbagai senyawa alami, seperti selulosa, hemiselulosa, lignin, dan polifenol.
Kandungan tersebut mampu memperkuat material berbasis kitosan, biopolimer yang dikenal mudah terurai secara alami (biodegradable), aman digunakan (biokompatibel), dan mampu membentuk lapisan tipis untuk kemasan pangan.
Meski demikian, kitosan memiliki kelemahan berupa kekuatan mekanik yang masih rendah serta kurang tahan terhadap air. Karena itu, material tersebut perlu dimodifikasi agar memiliki performa yang lebih baik.
Ampas kopi Gayo menjadi salah satu solusi yang dinilai mampu mengatasi keterbatasan tersebut.
Baca juga: Cerita Santosa Menjaga Benih Terakhir Kopi Belanda di Lereng Gunung Tambal
Untuk meningkatkan kualitas material, tim peneliti juga menambahkan nanopartikel seng oksida (ZnO) yang berfungsi memperkuat sifat antimikroba, meningkatkan ketahanan mekanik, sekaligus melindungi kemasan dari paparan sinar ultraviolet.
Hasil pengujian menunjukkan film komposit yang dikembangkan berhasil terbentuk secara utuh dan tetap fleksibel.
Penambahan ampas kopi menghasilkan warna kecokelatan sebagai penanda keberadaan partikel lignoselulosa, sedangkan penambahan nanopartikel ZnO tetap menghasilkan lapisan yang homogen tanpa retakan.
Karakterisasi material juga menunjukkan adanya interaksi yang kuat antara kitosan, senyawa lignoselulosa dari ampas kopi, dan nanopartikel ZnO.
Kombinasi tersebut mampu meningkatkan kekuatan mekanik, memperbaiki sifat hidrofobik sehingga lebih tahan terhadap air, serta menurunkan permeabilitas uap air.
Tidak hanya itu, material komposit ini juga memiliki kemampuan lebih baik dalam menghalangi radiasi ultraviolet dibandingkan film kitosan murni.
Keunggulan lain yang ditemukan adalah aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, dua bakteri yang sering dikaitkan dengan kontaminasi pangan.
Menurut Haya, kombinasi ampas kopi Gayo dan nanopartikel ZnO menghasilkan kemampuan penghambatan mikroba paling tinggi sehingga berpotensi dikembangkan sebagai active packaging atau kemasan pangan aktif yang tidak hanya melindungi produk secara fisik, tetapi juga membantu menjaga kualitas dan keamanannya.
Baca juga: 4 Biji Kopi Terbaik di Asia Versi Taste Atlas 2026, Nomor 1 dari Aceh
Bagi Haya, pemanfaatan limbah ampas kopi bukan sekadar menghasilkan material baru.
Lebih dari itu, inovasi tersebut dapat meningkatkan nilai tambah limbah organik sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan biomaterial lokal.
"Penelitian ini membuka peluang pemanfaatan biomaterial lokal dengan sifat mekanik, penghalang, perlindungan UV, dan antibakteri yang lebih baik untuk mendukung inovasi kemasan pangan masa depan," ujarnya.
Pengembangan material ramah lingkungan seperti ini sejalan dengan arah riset BRIN yang semakin berfokus pada solusi atas berbagai persoalan lingkungan.
Sebelumnya, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya akan terus mendorong pemanfaatan limbah organik sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Menurut Arif, Indonesia membutuhkan lebih banyak inovasi yang mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan volume sampah.
"BRIN berfokus membawa dampak bagi keberlanjutan, dampak bagi kemajuan bangsa Indonesia," ujar Arif kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Selain mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah berbasis komunitas, BRIN juga mengembangkan berbagai teknologi untuk mendukung industri yang lebih bersih, termasuk mengubah limbah dan polutan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya