KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan besar yang melanda Asia Tenggara khatulistiwa pada 2015 ternyata sebagian besar tidak bermula dari satu titik api.
Studi terbaru mengungkapkan, kebakaran-kebakaran tersebut umumnya terbentuk ketika sejumlah kebakaran kecil yang muncul secara terpisah meluas, lalu bergabung menjadi satu kebakaran besar.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal "Environmental Research Letters" berdasarkan penelitian yang dilakukan tim peneliti dari National University of Singapore (NUS) dan International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA).
Baca juga: Karhutla Meningkat di Kalsel, BNPB Gelar Hujan Buatan hingga 21 Juli 2026
Penulis utama studi, Adrian Dwiputra, mengatakan sekitar 84 persen jaringan kebakaran yang dianalisis memiliki lebih dari satu titik asal.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penyebab kebakaran tidak hanya rumit, tetapi juga dinamis," ujar Adrian, yang juga peneliti di NUS dan Kelompok Penelitian Pertanian, Kehutanan, dan Layanan Ekosistem Program Keanekaragaman Hayati dan Sumber Daya Alam IIASA, dikutip dari laman IIASA, Sabtu (18/7/2026).
Dalam penelitian tersebut, tim menganalisis kebakaran besar yang terjadi di Asia Tenggara khatulistiwa pada 2015, ketika jutaan hektar lahan terbakar dan kabut asap menyelimuti kawasan, menimbulkan dampak lingkungan, kesehatan, serta kerugian ekonomi yang luas.
Untuk melacak asal mula kebakaran, peneliti menggunakan pendekatan analisis jaringan berbasis citra satelit. Metode tersebut memungkinkan mereka mengidentifikasi sekitar 74.500 hingga 75.000 titik awal kebakaran yang tersebar dalam hampir 15.000 jaringan kebakaran.
Hasil analisis menunjukkan sebagian besar kebakaran besar berkembang dari beberapa titik api yang muncul secara independen sebelum akhirnya menyatu.
Penelitian ini juga menemukan bahwa lokasi awal kebakaran dipengaruhi oleh kombinasi faktor aktivitas manusia dan kondisi lingkungan.
Di antara berbagai faktor yang dianalisis, jenis bentang alam atau ekoregion serta tingkat kekeringan atmosfer menjadi dua faktor yang paling kuat menentukan lokasi munculnya titik api.
Temuan tersebut memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan aktivitas manusia menjadi pemicu utama kebakaran di kawasan ini, sekaligus menegaskan bahwa kondisi lingkungan berperan besar dalam menentukan lokasi kebakaran paling mudah terjadi.
Penulis studi sekaligus peneliti senior IIASA, Ping Yowargana, mengatakan meningkatnya kekeringan akibat krisis iklim berpotensi memperbesar risiko kebakaran di masa mendatang.
"Kekeringan atmosfer akan meningkat seiring krisis iklim sehingga risiko kebakaran juga meningkat. Temuan ini menantang anggapan bahwa hutan tropis Asia Tenggara akan selalu mampu pulih dari gangguan alam hanya karena memiliki curah hujan tinggi," ujar Ping.
Baca juga: Karhutla 5 Hektare di Kubu Raya, Satgas Berjibaku Padamkan Api Dekat Bandara Supadio
Sementara itu, Adrian menjelaskan bahwa faktor-faktor yang berkaitan dengan aktivitas manusia lebih dominan ditemukan pada lokasi awal munculnya kebakaran, sedangkan faktor alam berperan lebih besar terhadap penyebaran api setelah kebakaran terjadi.
Menurut dia, karakter kebakaran yang kompleks menuntut pendekatan yang juga lebih komprehensif dalam memahami maupun mengatasinya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya