KOMPAS.com - Mengubah pemanfaatan energi dari fosil ke sumber terbarukan dalam beberapa tahun ke depan diyakini mampu mengurangi dampak pemanasan global.
Pembangunan panel surya dan turbin angin secara besar-besaran membutuhkan berbagai jenis mineral dan logam serta sistem baru. Di saat yang sama, fasilitas pengeboran dan pengolahan migas mulai tidak terpakai.
Lantas, bisakah pengembangan energi baru itu memanfaatkan daur ulang dari sistem energi fosil tersebut?
Para peneliti dari laboratorium Technology and Society di Empa mencoba meneliti hal ini. Penelitian mereka merupakan bagian dari proyek CircEUlar milik Uni Eropa dan telah dipublikasikan di jurnal Nature Communications.
Melansir Tech Xplore, Selasa (28/7/2026) para peneliti menganalisis kandungan 22 jenis bahan baku yang ada di tambang batu bara, anjungan minyak dan gas, pembangkit listrik fosil, serta pipa-pipa penyalur besar saat ini.
Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
"Untuk memahami potensi dari 'tambang tersembunyi' ini, kita harus tahu terlebih dahulu bahan apa saja yang tersimpan di dalamnya," ujar Hauke Schlesier, peneliti Empa yang menjadi penulis utama studi ini.
Dua bahan baku utama yang paling menonjol adalah baja dan tembaga. Kedua logam ini terdapat dalam jumlah yang sangat besar pada infrastruktur bahan bakar fosil dan di saat yang sama, sangat dibutuhkan untuk proses transisi energi.
"Tembaga digunakan untuk kabel dan trafo listrik, sedangkan baja digunakan sebagai bahan bangunan struktur," kata Schlesier.
Menurut penelitian tersebut, mendaur ulang infrastruktur bahan bakar fosil bisa memenuhi seluruh kebutuhan baja dan sekitar sepertiga kebutuhan tembaga untuk transisi ke energi bersih.
Seiring dihentikannya penggunaan fasilitas minyak, gas, dan batu bara, bahan-bahan ini bisa langsung dialihkan untuk didaur ulang. Berdasarkan perhitungan para peneliti, kapasitas fasilitas daur ulang di seluruh dunia saat ini sudah cukup untuk mengolah kembali tembaga dan baja yang dibutuhkan tersebut.
Namun, apakah mendaur ulang baja dan tembaga dari fasilitas bahan bakar fosil benar-benar menguntungkan?
Para peneliti menjawab 'ya'.
Proses daur ulang kedua logam ini jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan harus menambangnya dari awal.
Baca juga: Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
"Pembuatan baja baru menghasilkan limbah, debu halus, dan CO2 dalam jumlah besar, sedangkan tambang tembaga menghasilkan limbah beracun," kata Schlesier.
Sebaliknya, daur ulang sebagian besar hanya membutuhkan tenaga listrik: baja dilelehkan di tungku listrik, sementara tembaga diolah kembali melalui proses kimia-listrik.
Dari sudut pandang ekonomi secara luas, memanfaatkan kembali persediaan baja dan tembaga yang ada sangatlah menguntungkan. Para peneliti menegaskan bahwa makin cepat kita memulai daur ulang, makin bagus, karena hal ini dapat menekan biaya dampak jangka panjang hingga ke tingkat terendah.
Menambang bahan baku baru menimbulkan kerusakan lingkungan dan kesehatan, yang pada akhirnya harus dibayar mahal oleh masyarakat.
"Dengan mendaur ulang baja dan tembaga dari fasilitas bahan bakar fosil, kita bisa menghemat biaya dampak lingkungan dan kesehatan sebesar 4 hingga 11 triliun dolar AS pada tahun 2050," kata Schlesier.
Selain itu, biaya daur ulang itu sendiri tidak lebih mahal daripada menambang baja dan tembaga dari awal, sehingga harganya sangat bersaing.
"Bahkan, hingga 2 miliar ton emisi karbon bisa dicegah. Jumlah itu setara dengan total emisi negara Swiss selama 50 tahun," tambah Schlesier.
Tantangan utama dalam mendaur ulang bahan baku berharga dari fasilitas fosil ini adalah kurangnya insentif.
"Bagi perusahaan fosil milik negara, menekan biaya dampak lingkungan bisa menjadi dorongan untuk segera menutup fasilitas fosil mereka. Namun, hal ini sulit berlaku bagi perusahaan swasta," jelas Schlesier.
Perusahaan swasta biasanya tidak punya kepentingan ekonomi untuk menanggung atau menekan biaya dampak tersebut. Oleh karena itu, bantuan dan kebijakan yang tepat dari pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini.
Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Baja dan tembaga hasil daur ulang tersebut kemudian dapat digunakan di seluruh dunia untuk membuat panel surya, turbin angin, jaringan listrik, atau mesin pembuat hidrogen.
"Satu langkah yang sangat menjanjikan adalah menggunakan baja daur ulang untuk menggantikan aluminium pada rangka penyangga panel surya," kata Harald Desing, peneliti Empa yang turut menulis studi ini.
Cara ini dapat memangkas jejak karbon panel surya hingga sekitar sepertiga. Jumlah baja yang ada pada fasilitas minyak dan gas lama bahkan cukup untuk memenuhi dua hingga lima kali lipat kebutuhan sistem panel surya dunia guna mencapai target iklim global.
Baja dan tembaga daur ulang ini juga bisa digunakan untuk membuat turbin angin. Hal tersebut sama-sama dapat menghemat jejak karbon pembuatan turbin angin hingga sekitar sepertiga. Jika seluruh baja daur ulang ini dipakai khusus untuk membuat turbin angin, jumlahnya akan cukup untuk memenuhi total kebutuhan baja hingga tahun 2050.
"Logam daur ulang ini juga bisa dipakai untuk kabel jaringan listrik dan mesin pembuat hidrogen. Kuncinya adalah teknologi energi bersih harus secara bertahap menggantikan fasilitas fosil agar baja dan tembaga di dalamnya bisa dimanfaatkan kembali," kata Schlesier.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya