Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daur Ulang Fasilitas Produksi Energi Fosil Bisa Tekan Biaya Kerusakan Alam

Kompas.com, 30 Juli 2026, 14:55 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mengubah pemanfaatan energi dari fosil ke sumber terbarukan dalam beberapa tahun ke depan diyakini mampu mengurangi dampak pemanasan global.

Pembangunan panel surya dan turbin angin secara besar-besaran membutuhkan berbagai jenis mineral dan logam serta sistem baru. Di saat yang sama, fasilitas pengeboran dan pengolahan migas mulai tidak terpakai.

Lantas, bisakah pengembangan energi baru itu memanfaatkan daur ulang  dari sistem energi fosil tersebut?

Para peneliti dari laboratorium Technology and Society di Empa mencoba meneliti hal ini. Penelitian mereka merupakan bagian dari proyek CircEUlar milik Uni Eropa dan telah dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Daur ulang infrastruktur

Melansir Tech Xplore, Selasa (28/7/2026) para peneliti menganalisis kandungan 22 jenis bahan baku yang ada di tambang batu bara, anjungan minyak dan gas, pembangkit listrik fosil, serta pipa-pipa penyalur besar saat ini.

Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen

"Untuk memahami potensi dari 'tambang tersembunyi' ini, kita harus tahu terlebih dahulu bahan apa saja yang tersimpan di dalamnya," ujar Hauke Schlesier, peneliti Empa yang menjadi penulis utama studi ini.

Dua bahan baku utama yang paling menonjol adalah baja dan tembaga. Kedua logam ini terdapat dalam jumlah yang sangat besar pada infrastruktur bahan bakar fosil dan di saat yang sama, sangat dibutuhkan untuk proses transisi energi.

"Tembaga digunakan untuk kabel dan trafo listrik, sedangkan baja digunakan sebagai bahan bangunan struktur," kata Schlesier.

Menurut penelitian tersebut, mendaur ulang infrastruktur bahan bakar fosil bisa memenuhi seluruh kebutuhan baja dan sekitar sepertiga kebutuhan tembaga untuk transisi ke energi bersih.

Seiring dihentikannya penggunaan fasilitas minyak, gas, dan batu bara, bahan-bahan ini bisa langsung dialihkan untuk didaur ulang. Berdasarkan perhitungan para peneliti, kapasitas fasilitas daur ulang di seluruh dunia saat ini sudah cukup untuk mengolah kembali tembaga dan baja yang dibutuhkan tersebut.

Lebih hemat dan ramah lingkungan

Namun, apakah mendaur ulang baja dan tembaga dari fasilitas bahan bakar fosil benar-benar menguntungkan?

Para peneliti menjawab 'ya'.

Proses daur ulang kedua logam ini jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan harus menambangnya dari awal.

Baca juga: Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM

"Pembuatan baja baru menghasilkan limbah, debu halus, dan CO2 dalam jumlah besar, sedangkan tambang tembaga menghasilkan limbah beracun," kata Schlesier.

Sebaliknya, daur ulang sebagian besar hanya membutuhkan tenaga listrik: baja dilelehkan di tungku listrik, sementara tembaga diolah kembali melalui proses kimia-listrik.

Dari sudut pandang ekonomi secara luas, memanfaatkan kembali persediaan baja dan tembaga yang ada sangatlah menguntungkan. Para peneliti menegaskan bahwa makin cepat kita memulai daur ulang, makin bagus, karena hal ini dapat menekan biaya dampak jangka panjang hingga ke tingkat terendah.

Menambang bahan baku baru menimbulkan kerusakan lingkungan dan kesehatan, yang pada akhirnya harus dibayar mahal oleh masyarakat.

"Dengan mendaur ulang baja dan tembaga dari fasilitas bahan bakar fosil, kita bisa menghemat biaya dampak lingkungan dan kesehatan sebesar 4 hingga 11 triliun dolar AS pada tahun 2050," kata Schlesier.

Selain itu, biaya daur ulang itu sendiri tidak lebih mahal daripada menambang baja dan tembaga dari awal, sehingga harganya sangat bersaing.

"Bahkan, hingga 2 miliar ton emisi karbon bisa dicegah. Jumlah itu setara dengan total emisi negara Swiss selama 50 tahun," tambah Schlesier.

Tantangan utama dalam mendaur ulang bahan baku berharga dari fasilitas fosil ini adalah kurangnya insentif.

"Bagi perusahaan fosil milik negara, menekan biaya dampak lingkungan bisa menjadi dorongan untuk segera menutup fasilitas fosil mereka. Namun, hal ini sulit berlaku bagi perusahaan swasta," jelas Schlesier.

Perusahaan swasta biasanya tidak punya kepentingan ekonomi untuk menanggung atau menekan biaya dampak tersebut. Oleh karena itu, bantuan dan kebijakan yang tepat dari pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025

Manfaat bagi transisi energi

Baja dan tembaga hasil daur ulang tersebut kemudian dapat digunakan di seluruh dunia untuk membuat panel surya, turbin angin, jaringan listrik, atau mesin pembuat hidrogen.

"Satu langkah yang sangat menjanjikan adalah menggunakan baja daur ulang untuk menggantikan aluminium pada rangka penyangga panel surya," kata Harald Desing, peneliti Empa yang turut menulis studi ini.

Cara ini dapat memangkas jejak karbon panel surya hingga sekitar sepertiga. Jumlah baja yang ada pada fasilitas minyak dan gas lama bahkan cukup untuk memenuhi dua hingga lima kali lipat kebutuhan sistem panel surya dunia guna mencapai target iklim global.

Baja dan tembaga daur ulang ini juga bisa digunakan untuk membuat turbin angin. Hal tersebut sama-sama dapat menghemat jejak karbon pembuatan turbin angin hingga sekitar sepertiga. Jika seluruh baja daur ulang ini dipakai khusus untuk membuat turbin angin, jumlahnya akan cukup untuk memenuhi total kebutuhan baja hingga tahun 2050.

"Logam daur ulang ini juga bisa dipakai untuk kabel jaringan listrik dan mesin pembuat hidrogen. Kuncinya adalah teknologi energi bersih harus secara bertahap menggantikan fasilitas fosil agar baja dan tembaga di dalamnya bisa dimanfaatkan kembali," kata Schlesier.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau