Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau

Kompas.com, 13 Agustus 2026, 15:13 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penghijauan di kawasan perkotaan tidak cukup dilakukan dengan menanam pohon secara terpisah. Ruang hijau perlu dirancang sebagai jaringan yang saling terhubung agar dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus sosial bagi masyarakat.

Dalam pendekatan ekologi lanskap, taman kota, jalur hijau di sepanjang jalan, bantaran sungai, halaman permukiman, hingga ruang terbuka lainnya dapat menjadi bagian dari satu sistem ekologis perkotaan.

Jaringan tersebut membentuk koridor hijau yang tidak hanya membantu mengurangi panas dan limpasan air hujan, tetapi juga menyediakan ruang hidup bagi keanekaragaman hayati di tengah dominasi kawasan terbangun.

Baca juga: Microsoft Tebus Emisi 7 Juta Ton Karbon Lewat Proyek Penghijauan Hutan

Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Ridwan Sutriadi mengatakan, keberadaan vegetasi di kawasan perkotaan juga berperan dalam menyaring polutan dan mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar.

"Vegetasi di perkotaan pun berperan dalam membantu menyaring polutan serta mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar," ujar Ridwan, dilansir dari laman resmi ITB, Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, pembangunan Bandung ke depan tidak cukup hanya mengukur luas ruang terbuka hijau yang tersedia. Perencanaan juga perlu mempertimbangkan lokasi, kualitas, serta keterhubungan antarruang hijau.

Di tengah kepadatan kawasan Bandung, pohon yang berada di tepi jalan, taman, halaman rumah, maupun bantaran sungai memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar mempercantik kota.

Bagi kawasan yang berada dalam bentang Cekungan Bandung, keberadaan pohon dan ruang hijau merupakan bagian dari infrastruktur alami yang membantu menghadapi peningkatan suhu, limpasan air hujan, serta penurunan kualitas lingkungan.

Pohon Jadi Infrastruktur Alami Kota

Ridwan menjelaskan, ketika kawasan yang sebelumnya ditutupi vegetasi berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan beton, kemampuan lingkungan dalam menyerap air dan menahan panas ikut berkurang.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan kawasan perkotaan terhadap urban heat island atau fenomena pulau panas perkotaan.

"Karena itu, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika. Di Bandung, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan," tutur Ridwan.

Kanopi pohon, misalnya, dapat memberikan keteduhan bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik. Sementara vegetasi yang terhubung antara taman, tepi jalan, permukiman, dan bantaran sungai dapat membentuk koridor hijau di tengah kepadatan kota.

Konsep tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat didorong untuk berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik.

Menurut Ridwan, kota yang ramah pejalan kaki tidak cukup hanya menyediakan trotoar. Jalur pejalan kaki juga perlu nyaman, teduh, aman, dan terhubung dengan ruang publik lainnya.

Dengan demikian, pohon seharusnya dipandang sebagai bagian dari fasilitas perkotaan, sebagaimana elemen fisik kota lainnya.

"Ruang hijau juga menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, bermain, atau sekadar beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari. Dalam konteks tersebut, taman dan ruang publik hijau memiliki fungsi sosial sekaligus ekologis," ucapnya.

Menjaga Cekungan Bandung

Kebutuhan membangun jaringan ruang hijau semakin penting karena Kota Bandung merupakan bagian dari bentang Cekungan Bandung. Persoalan lingkungan di kawasan ini tidak berdiri sendiri dan saling terhubung antara wilayah hulu, perkotaan, hingga hilir.

Topografi berbentuk cekungan menyebabkan aliran air dari kawasan yang lebih tinggi, termasuk Bandung bagian utara dan wilayah sekitarnya, bergerak menuju kawasan yang lebih rendah.

Ketika semakin banyak lahan tertutup beton dan semakin sedikit kawasan yang mampu menyerap air, limpasan permukaan akan meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperbesar risiko genangan.

Baca juga: Perusahaan Asal RI Bakal Terlibat Proyek Penghijauan Gurun Arab Saudi

Di sinilah pohon, taman kota, tanah terbuka, dan kawasan bervegetasi memiliki peran penting. Permukaan tanah yang tidak sepenuhnya tertutup material keras memberikan ruang bagi air hujan untuk meresap ke dalam tanah.

"Artinya, ketika satu pohon dipertahankan atau sebuah kawasan hijau dijaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya. Dalam skala yang lebih luas, ruang hijau ikut menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung," ujar Ridwan.

Karena itu, penyelesaian persoalan lingkungan di Cekungan Bandung tidak dapat hanya dibatasi berdasarkan wilayah administratif Kota Bandung. Diperlukan pendekatan regional yang memperhitungkan hubungan antara kawasan hulu, perkotaan, hingga hilir.

Penghijauan Bisa Dimulai dari Lingkungan

Menurut Ridwan, menjaga Cekungan Bandung tidak selalu harus dilakukan melalui proyek berskala besar. Masyarakat dapat mengambil bagian melalui berbagai langkah sederhana yang relatif murah dan cepat diterapkan.

Di tingkat lingkungan, misalnya, masyarakat dapat mengembangkan kebun komunitas di fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong sebagai *pocket park* atau taman saku.

Lorong permukiman juga dapat dibuat lebih teduh dengan tanaman merambat pada pagar atau pergola. Sementara sistem penampungan air hujan dapat diterapkan di bangunan publik maupun lingkungan permukiman untuk membantu pengelolaan air.

Upaya tersebut juga dapat menjadi ruang kolaborasi antargenerasi. Pengetahuan warga senior mengenai tanaman lokal, misalnya, dapat dipadukan dengan kemampuan generasi muda dalam pemanfaatan teknologi dan pengelolaan informasi.

Generasi muda juga memiliki peluang untuk berkontribusi melalui pendekatan berbasis teknologi.

Salah satunya dengan melakukan pemetaan partisipatif menggunakan perangkat yang mudah dijangkau untuk mengidentifikasi titik-titik yang terasa lebih panas, kawasan dengan dominasi tutupan beton, serta kondisi pohon dan vegetasi perkotaan.

"Sensor suhu dan kelembapan sederhana juga dapat digunakan untuk membangun data mengenai kondisi mikroklimat di tingkat lingkungan," tutur Ridwan.

Menurut dia, pemanfaatan teknologi membuat gerakan penghijauan tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon.

Masyarakat dapat mengetahui lokasi yang paling membutuhkan penghijauan, memantau perkembangan vegetasi, serta mengevaluasi perubahan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga dapat terlibat dalam pengumpulan data dan perawatan lingkungan kota.

Baca juga: Pemerintah KBB Mulai Penghijauan Bekas Longsor Cisarua, Benih Ditebar Pakai Drone

Ridwan menilai ruang hijau tidak semestinya dipandang sebagai ruang sisa setelah pembangunan selesai. Persoalan panas perkotaan, genangan, berkurangnya daerah resapan, hingga kualitas ruang publik merupakan persoalan yang saling berkaitan.

Karena itu, vegetasi perlu ditempatkan sejak awal sebagai salah satu komponen utama dalam perencanaan kota.

Mulai dari pohon di halaman rumah, pohon peneduh di trotoar, taman lingkungan, hingga kawasan hijau dalam skala regional merupakan bagian dari sistem yang membantu Cekungan Bandung tetap layak huni.

"Di tengah pembangunan kawasan perkotaan yang terus berlangsung, menjaga pohon bukan berarti menghentikan perkembangan kota. Sebaliknya, pohon membantu memastikan pembangunan tetap memberikan ruang bagi air untuk meresap, udara untuk menjadi lebih nyaman, masyarakat untuk beraktivitas, dan lingkungan untuk tetap bertahan bagi generasi berikutnya," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau