Yatny mendorong penggunaan lampu secara lebih bijak, antara lain dengan mengarahkan cahaya ke bawah, memilih jenis lampu yang sesuai, serta menghindari penggunaan lampu secara berlebihan atau sepanjang malam.
“Prinsip utamanya adalah menggunakan cahaya sesuai kebutuhan. Cahaya yang tidak perlu dan mengarah ke langit sebaiknya diminimalkan,” ucapnya.
Baca juga: Studi Ungkap Polusi Cahaya Sebabkan Burung di Perkotaan Kurang Tidur
Upaya mengurangi polusi cahaya juga telah didorong komunitas astronomi, termasuk melalui International Dark-Sky Association (IDA).
Sejumlah langkah yang dapat diterapkan antara lain menggunakan tudung lampu agar cahaya tidak menyebar ke langit, memilih temperatur warna lampu yang lebih hangat, mengatur tingkat kecerahan, serta membatasi waktu operasional lampu reklame dan papan iklan.
Di tengah persoalan polusi cahaya, kemunculan Hujan Meteor Perseid dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali memperhatikan kondisi langit malam.
Hujan Meteor Perseid diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada 12-13 Agustus 2026. Namun, fenomena tersebut tidak hanya berlangsung selama satu malam.
Aktivitas Perseid umumnya berlangsung selama beberapa pekan, mulai pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus.
Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur yang dipenuhi partikel sisa yang ditinggalkan komet saat mengorbit Matahari.
Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, interaksi dengan atmosfer membuatnya berpijar dan terlihat sebagai garis cahaya yang bergerak cepat di langit.
Pada Perseid, meteor-meteor tersebut tampak seolah-olah berasal dari arah rasi Perseus. Material yang menghasilkan meteor Perseid berasal dari Komet 109P/Swift-Tuttle yang meninggalkan jejak partikel di sepanjang orbitnya.
Yatny mengatakan, fenomena seperti Perseid dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal astronomi sekaligus menyadari kondisi lingkungan langit malam di sekitarnya.
Baca juga: Inisiatif Langit Gelap dan Sunyi, Upaya Internasional Perangi Polusi Cahaya
“Langit tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada aktivitas dan pergerakan di atas sana. Saya berharap masyarakat mau meluangkan sedikit waktu untuk melihat ke langit dan menyadari bahwa kita juga merupakan bagian dari semesta yang jauh lebih besar,” ujar Yatny.
Menurut dia, pengalaman mengamati langit tidak hanya memberikan kesempatan untuk melihat fenomena astronomi, tetapi juga dapat menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan malam.
Dengan demikian, menjaga langit tetap gelap bukan semata-mata untuk kepentingan astronomi. Penggunaan cahaya buatan yang lebih terkendali juga dapat membantu menjaga ekosistem malam dan mengurangi gangguan terhadap kehidupan yang bergantung pada siklus alami siang dan malam.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya