Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Hijau Dunia Cetak Rekor Rp 176 Kuadriliun pada 2025

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 09:09 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Berdasarkan temuan terbaru London Stock Exchange Group (LSEG), nilai pasar ekonomi hijau telah menembus 10 triliun dolar AS (sekitar Rp176,92 kuadriliun). Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya minat terhadap elektrifikasi dan ketahanan energi.

Melansir Eco Business, Kamis (18/6/2026) dalam laporan Investing in the Green Economy 2026: Resilience and Reacceleration edisi ketujuh, LSEG mengungkapkan bahwa pendapatan dari sektor hijau tahun lalu tumbuh paling cepat sejak 2022, yaitu naik 5,3 persen menjadi 5,5 triliun dolar AS (sekitar Rp 97,31 kuadriliun). Angka ini mencakup omzet dari lebih dari 21.000 perusahaan serta 133 jenis produk dan layanan ramah lingkungan.

Artinya, jika dianggap sebagai sektor berdiri sendiri, ekonomi hijau kini menjadi sektor terbesar ketiga di dunia hanya kalah dari sektor teknologi dan industri, serta berhasil melampaui sektor kesehatan.

Penerbitan obligasi hijau (green bond) global juga mencetak rekor tertinggi pada tahun 2025, tumbuh 5,7 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 605 miliar dolar AS (sekitar Rp 10,7 kuadriliun).

Sama seperti tahun sebelumnya, lonjakan ini sebagian besar didorong oleh perusahaan swasta yang menyumbang 68 persen dari total penerbitan obligasi hijau.

Baca juga: Ekonomi Biru Asia Tenggara Terancam Kerusakan Lingkungan dan Minim Dana

Ekspansi ekonomi hijau yang terus berlanjut ini terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik dan tingginya gejolak harga energi. Di saat banyak negara dan perusahaan berupaya melindungi diri dari lonjakan harga bahan bakar fosil, kian banyak modal yang dialirkan untuk langkah efisiensi dan sumber energi terbarukan alternatif.

Pada tahun 2030, ekonomi hijau diperkirakan bakal menghasilkan lebih dari 7 triliun dolar AS (sekitar Rp123,84 kuadriliun) setiap tahunnya, menurut studi terpisah dari World Economic Forum (WEF) dan Boston Consulting Group.

Keuntungan finansial sektor hijau

Berdasarkan laporan LSEG, perusahaan-perusahaan dalam FTSE EOAS Index atau yang perusahaan dengan pendapatan hijau di atas 20 persen, mencatat kinerja 1,4 persen lebih tinggi dibandingkan pasar secara umum selama 12 bulan hingga April 2026.

Perusahaan yang lebih dari 50 persen pendapatannya berasal dari sektor hijau bahkan mencatat kinerja yang jauh melampaui pasar. Margin keuntungan bersih sebelum pajak dan penyusutan (EBITDA) mereka 2 hingga 4 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan non-hijau di indeks FTSE All-World.

Meski begitu, laporan tersebut juga memuat bahwa perusahaan yang pendapatan hijaunya masih di bawah 50 persen justru sering kali mencatat kinerja di bawah perusahaan non-hijau.

Laporan ini menekankan bahwa pertumbuhan sektor hijau bukanlah lonjakan sesaat. Sejak tahun 2008, ekonomi hijau global telah mengungguli saham-saham dunia hingga lebih dari 130 persen, dengan nilai pertumbuhan yang lebih cepat dari pasar umum atau tumbuh rata-rata 18 persen per tahun dibanding 12 persen.

"Yang kita lihat saat ini adalah lahirnya ekonomi hijau sebagai penggerak utama pertumbuhan global, yang didukung oleh perluasan pendapatan di berbagai sektor, kinerja jangka panjang yang kuat, serta pasar modal yang kian dalam," ujar Jaakko Kooroshy, kepala riset investasi berkelanjutan global di LSEG.

Negara-negara pemimpin ekonomi hijau

Meskipun President Donald Trump terus memangkas kebijakan iklim, Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan ekonomi hijau terbesar berdasarkan nilai pasar. Dengan nilai 6 triliun dolar AS (sekitar Rp106,15 kuadriliun), AS menyumbang 57 persen dari total ekonomi hijau global.

Lebih dari seperempat total pendapatan hijau dunia berasal dari AS, di mana 75 persen pendapatan hijau tersebut dihasilkan oleh perusahaan komputasi awan.
Sektor kunci lainnya mencakup pengolahan sampah, energi nuklir, dan sistem irigasi modern.

AS juga menjadi investor energi bersih terbesar kedua di dunia, yang mengalokasikan sekitar 400 miliar dolar AS (sekitar Rp7.076,80 triliun) setiap tahunnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau