KOMPAS.com - Pusat data mengonsumsi jauh lebih banyak air daripada yang dikira banyak orang.
Namun, penyebab utamanya bukanlah air yang dipompa untuk mendinginkan gedung atau mesin pusat data itu sendiri melainkan digunakan pembangkit listrik tenaga termal seperti batu bara, gas, nuklir untuk memproduksi pasokan listrik pusat data.
Melansir Trellis, Rabu (26/8/2026) pembangkit listrik tersebut menyedot sekitar 3 hingga 4 triliun galon air hanya di tujuh negara bagian Amerika Serikat yang menampung lebih dari separuh pusat data di AS.
Sebagai contoh, kebutuhan air tahunan untuk menghasilkan listrik bagi pusat data di Virginia pada tahun 2024 diperkirakan 21 kali lipat lebih banyak daripada total air yang digunakan oleh seluruh kota Washington, D.C. Hal ini terungkap dalam analisis yang diterbitkan pada 25 Agustus oleh organisasi nirlaba Ceres.
Baca juga: Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI
Jumlah penggunaan air sangat bergantung pada sumber listrik yang dipakai. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan bahan bakar fosil menjadi penyedot air terbesar. Hal inilah yang membuat langkah perusahaan besar seperti Amazon, Meta, Microsoft, dan OpenAI yang terus menambah kapasitas listrik dari gas alam secara masif jadi sangat mengkhawatirkan.
California menggunakan air paling banyak dibandingkan enam negara bagian lain yang diteliti oleh Ceres, yaitu hampir 1,4 triliun galon, karena wilayah ini sangat bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Di sisi lain, lebih dari 90 persen penggunaan air secara tidak langsung oleh pusat data di Ohio, Georgia, dan Virginia berasal dari ketergantungan wilayah tersebut pada pembangkit listrik jenis termal, seperti gas alam, batu bara, dan nuklir.
Texas rata-rata menggunakan lebih sedikit air dibanding negara bagian lainnya karena lebih banyak memanfaatkan jaringan energi surya dan angin.
Sementara itu, Arizona dan Illinois menjadi dua wilayah yang paling rentan terhadap krisis air dan kekeringan, faktor yang seharusnya menjadi pertimbangan penting dalam menentukan lokasi pusat data.
Baca juga: Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
"Hubungan antara penyedotan air bersih dan produksi listrik adalah hal yang masih sangat jarang dibuka ke publik oleh perusahaan pusat data, dan kondisi ini harus segera diubah," tegas Shama Perveen, Direktur Riset Air di Ceres sekaligus salah satu penulis laporan tersebut.
“Ini adalah landasan untuk memahami risiko air yang berkaitan dengan pembelian listrik, serta untuk bekerja sama dengan produsen listrik dan sesama pelaku industri demi merumuskan langkah terbaik dalam menekan dampak terhadap sumber air lokal, terutama di daerah yang rawan krisis air,” kata Perveen.
Kebutuhan air untuk menghasilkan listrik bagi pusat data berlipat ganda setiap tahunnya. Pada tahun 2030, sektor ini diprediksi akan menyedot lebih dari 70 persen total penggunaan air di pusat data, menurut analisis terpisah dari Bluefield Research.
“Ini adalah masalah nyata yang harus segera diselesaikan oleh industri ini," ujar Jonathan Koomey, seorang peneliti senior yang banyak memublikasikan riset mengenai penggunaan energi dan air pada pusat data.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya