Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Efek Tak Terduga CO2, Diam-Diam Pengaruhi Sistem Darah Manusia

Kompas.com, 1 September 2026, 09:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2) di udara mungkin sudah mulai memengaruhi kondisi biologis manusia. Penelitian terbaru menemukan adanya perubahan jangka panjang pada kandungan kimia darah yang sejalan dengan kenaikan CO2 di udara.

Hal ini memicu kekhawatiran bahwa indikator penting dalam darah bisa mendekati batas atas rentang sehatnya dalam beberapa dekade mendatang.

Temuan ini juga sangat penting bagi anak-anak dan remaja. Karena tubuh mereka masih berkembang, generasi muda diperkirakan akan mengalami paparan CO2 tingkat tinggi paling lama sepanjang hidup mereka.

Data darah puluhan tahun ungkap

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Air Quality, Atmosphere and Health, para ilmuwan dari The Kids Research Institute Australia, Curtin University, dan The Australian National University (ANU) meneliti data kesehatan penduduk AS selama lebih dari 20 tahun.

Melansir Science Daily, Sabtu (15/8/2026) mereka menemukan perubahan yang terus-menerus pada beberapa ukuran kandungan kimia darah yang secara konsisten mengikuti tren kenaikan CO2 di udara.

Baca juga: 135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air

Para peneliti menggunakan data dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional AS (NHANES), lalu menganalisis hasil tes darah dari sekitar 7.000 orang setiap dua tahun sekali antara tahun 1999 dan 2020.

Sejak tahun 1999, rata-rata kadar bikarbonat dalam darah naik sekitar 7 persen. Bikarbonat sendiri merupakan penanda dalam darah yang terikat erat dengan kadar karbon dioksida di dalam tubuh. Pada periode yang sama, rata-rata kadar kalsium dan fosfor justru menurun.

Tren perubahan biologis ini terjadi seiring melonjaknya kadar CO2 di udara dari sekitar 369 parts per million (ppm) pada tahun 2000 menjadi lebih dari 420 ppm saat ini.

Penulis studi, Associate Professor Alexander Larcombe, mengatakan hasil ini menunjukkan bahwa tubuh manusia kemungkinan sudah mulai menyesuaikan diri dengan perubahan komposisi udara di atmosfer.

"Apa yang kita lihat adalah pergeseran bertahap pada kandungan kimia darah yang meniru kenaikan karbon dioksida di udara yang memicu perubahan iklim," ujar Prof. Larcombe.

Bagaimana tubuh merespons kenaikan CO2

Bikarbonat sangat penting untuk mengatur keseimbangan asam-basa dalam tubuh. Ketika kadar CO2 meningkat, tubuh akan menahan lebih banyak bikarbonat agar pH darah tetap stabil. Meskipun penyesuaian ini membantu menjaga keseimbangan tersebut, mempertahankannya dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi tubuh.

"Jika tren saat ini terus berlanjut, pemodelan menunjukkan bahwa rata-rata kadar bikarbonat bisa mendekati batas atas rentang sehat saat ini dalam waktu 50 tahun ke depan," kata Prof. Larcombe.

"Kadar kalsium dan fosfor juga bisa merosot hingga mendekati batas bawah rentang sehat pada akhir abad ini," terangnya lagi.

Manusia berevolusi ketika konsentrasi CO2 di udara berada pada kisaran 280 hingga 300 ppm. Selama dekade terakhir, kadar CO2 di udara melonjak rata-rata sekitar 2,6 ppm setiap tahunnya, sementara pada tahun 2024 saja terjadi kenaikan hingga 3,5 ppm.

Rekan penulis, Dr. Phil Bierwirth, ilmuwan ilmu bumi dan lingkungan dari ANU Emeritus Faculty, menegaskan bahwa penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Namun, ia menyampaikan bahwa perubahan yang konsisten pada sekelompok besar masyarakat ini sangat perlu mendapat perhatian.

Baca juga: Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau