Tim peneliti kemudian menggunakan metode statistik untuk melihat secara pasti hubungan antara paparan gelombang panas laut tersebut dengan kondisi kesehatan dan kelangsungan hidup warga.
Tim peneliti menemukan bahwa setiap peningkatan signifikan dari jumlah gelombang panas laut selama periode dua tahun, meningkatkan risiko kematian anak sebesar 5,4 persen, risiko anak mengalami wasting (tubuh terlalu kurus dibanding tingginya) sebesar 6,5 persen, dan risiko stunting (tubuh pendek dibanding usianya) sebesar 8,8 persen.
Baca juga: Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Para peneliti juga menemukan bahwa dampak paling parah terjadi di negara-negara yang sangat bergantung pada perikanan skala kecil dibandingkan dengan sektor industri perikanan komersial serta di wilayah perkotaan pesisir.
"Meskipun dampak di area perkotaan mungkin terasa mengejutkan, hal ini sejalan dengan bukti luas bahwa warga kota juga sangat rentan terhadap perubahan lingkungan," ujar Thiede.
"Masyarakat kota mungkin jarang yang bekerja sebagai petani atau nelayan dibanding warga desa, tetapi mereka tetap rentan terkena dampak lewat jalur pasar, seperti saat harga ikan melambung tinggi," katanya.
Para peneliti menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya pemberian bantuan gizi atau program perlindungan sosial bagi warga yang terdampak gelombang panas laut.
Para praktisi dan pembuat kebijakan juga bisa memanfaatkan perkiraan suhu laut dalam sistem peringatan dini mereka untuk mengantisipasi ke mana bantuan harus disalurkan. Mereka menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di wilayah pesisir masih sangat dibutuhkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya