KOMPAS.com - Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau mengganggu proses fotosintesis tanaman karena stomata pada daun dan batang tertutup oleh lapisan debu.
Menurut pakar ilmu tanah IPB University, Iskandar, kondisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Risiko itu bergantung berapa lama abu vulkanik menempel pada permukaan daun.
“Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen,” ujar Iskandar, dilansir dari laman resmi IPB University, Senin (7/9/2026).
Baca juga: Cara Membersihkan Abu Vulkanik di Rumah agar Tidak Terhirup
Dampak abu vulkanik terhadap tanaman sangat bergantung pada lama tanaman terpapar abu. Semakin lama gangguan berlangsung, maka bertambah besar pula potensi kerusakan yang ditimbulkan.
“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” ucapnya.
Dampak abu vulkanik terhadap tanaman juga dipengaruhi oleh jarak dari pusat letusan. Di wilayah yang relatif dekat dengan pusat letusan, kata dia, abu vulkanik yang jatuh masih memiliki suhu cukup tinggi, sehingga berisiko menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman.
“Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati,” tutur Iskandar.
Lama abu vulkanik bertahan di permukaan lahan bergantung pula pada curah hujan. Abu vulkanik, terutama yang memiliki lapisan tipis, relatif mudah terbawa oleh aliran air hujan.
Semakin jauh dari pusat letusan, ukuran butiran abu vulkanik umumnya lebih halus dan ringan. Sedangkan di sekitar pusat letusan, material yang dikeluarkan bukan lagi berupa debu, melainkan pasir, kerikil, sampai bongkahan batu.
Terkait penanganan lahan pertanian yang terdampak abu vulkanik, Iskandar menyarankan lahan segera diolah pasca hujan abu berakhir agar masyarakat sudah dapat kembali beraktivitas secara normal. Khususnya, jika lapisan abu yang menutupi lahan relatif tipis.
Namun, jika lapisan abu cukup tebal, pengolahan tanah akan menjadi lebih berat. Sebaiknya, kata dia, abu vulkanik tidak langsung dibuang, tetapi dapat dicampurkan dengan tanah. Selanjutnya, kondisi tanah perlu diperiksa, di antaranya melalui pengukuran pH dan daya hantar listrik (DHL).
Sebaran abu vulkanik juga dapat menjadi salah satu proses alami yang berpotensi membantu menyuburkan kembali tanah yang telah mengalami degradasi. Ketika abu vulkanik yang ada di permukaan tanah terkena air hujan, maka akan dilepaskan berbagai macam unsur yang bermanfaat sebagai hara tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K).
Baca juga: Benarkah Water Mist Ampuh Atasi Sebaran Abu Vulkanik di Jakarta?
Karena itu, Iskandar berharap hujan abu vulkanik tidak berlangsung dalam waktu lama supaya masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal dan lahan pertanian dapat segera dipulihkan.
“Jadi semoga saja ‘hujan’ abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur,” ujar Iskandar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya