Badan PBB mengklasifikasikan tingkat keparahan El Niño menjadi empat rentang yakni lemah, sedang, kuat, atau sangat kuat dan fenomena kali ini diprediksi mencapai tingkat tertinggi dari keempat kategori tersebut.
El Nino dapat mengubah pola cuaca dan iklim hingga ribuan kilometer jauhnya dari wilayah Pasifik tropis.
Baca juga: Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Setiap kejadian El Nino memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi peristiwa-peristiwa besar biasanya mengikuti pola yang serupa. Pola ini mencakup bencana kekeringan di sebagian wilayah Amazon, Indonesia, dan Australia, gangguan musim angin monsun di India, serta pergeseran pola curah hujan di seluruh wilayah tropis.
Untuk periode September hingga November, perkiraan WMO menunjukkan peningkatan peluang terjadinya suhu di atas normal di hampir seluruh wilayah daratan, disertai pola curah hujan yang menunjukkan respons atmosfer yang sangat nyata dan khas akibat El Niño Pasifik yang kuat.
Indeks yang mengukur anomali suhu permukaan laut di Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur menunjukkan telah menguat, dari rata-rata 1,5 derajat C di atas normal pada periode Mei hingga Juli.
Nilai mingguan antara akhir Juli hingga pertengahan Agustus berkisar antara 2,2 derajat C hingga 2,6 derajat C di atas rata-rata, yang menandakan bahwa El Niño terus menguat.
Di beberapa wilayah, suhu di bawah permukaan laut bahkan tercatat lebih dari 8 derajat C di atas rata-rata sepanjang bulan Juli dan awal Agustus.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya