KOMPAS.com - Sebuah studi baru menemukan, di beberapa wilayah, rumah tangga miskin bisa menghabiskan sekitar 50 persen dari penghasilan mereka hanya untuk membeli makanan pada 2050.
Di wilayah yang sama, rumah tangga kaya hanya mengeluarkan sekitar 5 persen dari penghasilan mereka untuk kebutuhan pangan.
Penelitian ini ditulis bersama para ilmuwan dari MIT, termasuk Jennifer Morris, bersama rekan-rekannya dari Tulane University, Pacific Northwest National Laboratory, Stanford University, dan Tufts University.
Melansir Earth, Kamis (10/9/2026) besarnya jurang perbedaan pengeluaran antara rumah tangga yang kaya dan miskin ini sangat mencolok.
"Untuk berbagai dampak yang ada, kelompok berpenghasilan rendah menghadapi potensi kerentanan pangan yang jauh lebih buruk," kata Morris.
Baca juga: Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Ia mencatat bahwa para pembuat kebijakan dapat menggunakan hasil temuan ini untuk memahami gambaran risiko pasokan sumber daya jangka panjang bagi berbagai kelompok masyarakat mereka.
"Kekhawatiran ini bukan sekadar teori ekonomi. Segala sesuatu yang menyedot separuh dari penghasilan Anda berpotensi merusak stabilitas seluruh kehidupan Anda, karena hal itu menyisakan sangat sedikit sumber daya untuk kebutuhan penting dan kebutuhan pokok lainnya," tambah Morris.
Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para peneliti membuat proyeksi akses pangan, air, dan energi di masa depan dengan memperhitungkan sekitar belasan variabel utama yakni kondisi ekonomi, hasil pertanian, perdagangan, iklim, penggunaan lahan, dan faktor lainnya.
Peneliti kemudian melakukan 3.735 skenario berbeda untuk memetakan berbagai kemungkinan kondisi di tahun 2050.
"Studi ini menunjukkan bahwa tidak ada faktor tunggal yang menjadi penyebab krisis pangan, energi, dan air di masa depan," kata Gi Joo Kim, peneliti dari Tulane University.
"Pendapatan memang penting, tetapi kondisi wilayah, penggunaan lahan, sistem energi, ketersediaan air, dan perilaku konsumen semuanya ikut membentuk risiko yang dihadapi masyarakat," terangnya.
Bagi para pembuat kebijakan, ini berarti mereka harus mempertimbangkan kombinasi faktor-faktor khusus yang memicu kerentanan di tiap daerah yang berbeda.
Hasil pemodelan menunjukkan pola wilayah yang jelas. Ancaman ketahanan pangan diperkirakan bakal paling parah terjadi di sebagian wilayah Afrika Sub-Sahara pada tahun 2050.
Sementara itu, risiko krisis energi paling banyak melanda warga berpenghasilan rendah di sebagian wilayah Asia, Eropa Timur, dan Timur Tengah.
Namun, bahkan di dalam satu wilayah yang sama, jurang pemisah antara kelompok kaya dan miskin bisa sangat tajam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya