Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari

Kompas.com, 29 September 2026, 18:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebuah analisis terhadap ajang maraton menemukan bahwa tingginya kadar nitrogen dioksida yang merupakan polutan udara yang umum berasal dari lalu lintas kendaraan, berhubungan dengan waktu tempuh garis finis yang lebih lambat, khususnya bagi pelari rekreasi.

Sebagai informasi pelari rekreasi adalah orang yang berlari terutama untuk tujuan kesehatan, kebugaran, hobi, rekreasi, atau kepuasan pribadi, bukan untuk mengejar karier sebagai atlet profesional atau mengincar hadiah uang

Melansir Earth, Sabtu (26/9/2026) temuan ini sendiri didapat setelah para peneliti menganalisis 2.756.553 catatan waktu finis dari ajang World Marathon Majors di Berlin, Boston, Chicago, London, New York City, dan Tokyo.

Lomba-lomba tersebut berlangsung antara tahun 2010 hingga 2024, mencakup 75 acara maraton yang berbeda.

Para peneliti membandingkan waktu finis dengan tingkat nitrogen dioksida (NO2) dan partikel halus (PM 2,5) pada hari perlombaan. Partikel yang sangat kecil ini dapat melayang dan bertahan lama di udara.

Sementara data tingkat polusi diambil dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service. Setiap pelari dalam satu ajang maraton diberi perkiraan tingkat polusi yang sama, berdasarkan kualitas udara di dekat area garis start.

Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga

Artinya, peneliti tidak mengetahui secara persis seberapa banyak polusi yang dihirup oleh masing-masing pelari. Mereka juga tidak memantau kualitas udara di sepanjang rute maraton sejauh 42,2 kilometer tersebut.

Udara kota sangat berpengaruh saat berolahraga

Ketika seseorang berolahraga berat, mereka menghirup jauh lebih banyak udara dibandingkan saat beristirahat. Artinya, polutan di udara dapat masuk dan meresap lebih dalam ke dalam paru-paru selama perlombaan jarak jauh.

Dr. James Donaldson, peneliti posdoktoral bidang kesehatan dan lingkungan di University of Leicester, menjelaskan dua jenis polutan yang diteliti timnya.

"Nitrogen dioksida adalah polutan yang utamanya dihasilkan oleh lalu lintas jalan raya dan proses pembakaran, sedangkan partikel halus terdiri dari partikel-partikel kecil di udara yang dapat dihasilkan dari emisi kendaraan, industri, pemanas, dan sumber lainnya," kata Dr. Donaldson.

"Kedua polutan tersebut telah terbukti berdampak buruk bagi kesehatan, khususnya pada jantung dan paru-paru. Dari analisis kami terhadap lebih dari dua juta pelari maraton, kami mengamati bahwa tingkat nitrogen dioksida berhubungan kuat dengan waktu finis mereka," katanya lagi.

Dampak nitrogen dioksida (NO2) terlihat jauh lebih jelas memperlambat waktu tempuh pelari dibandingkan dengan partikel halus (PM2,5).

Studi menyimpulkan setiap kenaikan nitrogen dioksida sebesar satu mikrogram per meter kubik, waktu finis pelari menjadi lebih lambat 1,43 menit pada pria dan 1,56 menit pada wanita.

Pelari yang lambat lebih kesulitan

Dr. Donaldson juga menjelaskan mengapa pelari yang lebih lambat menunjukkan dampak yang lebih kuat dari polusi.

"Ada banyak kemungkinan alasan di balik pola ini. Pertama, pelari yang lebih lambat berada di lintasan maraton lebih lama, sehingga mereka menghirup paparan polutan dalam jumlah yang lebih banyak selama hari perlombaan," kata Dr. Donaldson.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau