Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus

Kompas.com, 24 Oktober 2026, 15:17 WIB
Andika Aditia

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman mendesak pemerintah dan berbagai pihak memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar kebakaran tidak terus berulang setiap tahun.

Desakan tersebut disampaikan melalui komunike bersama bertajuk Hentikan Karhutla, Lindungi Warga, Benahi Tata Kelola yang diprakarsai Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman bersama Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Hingga Jumat (23/10/2026), sembilan organisasi telah menyatakan persetujuan terhadap komunike tersebut. Mereka terdiri dari organisasi keagamaan, lembaga filantropi, dan institusi pendidikan.

Ketua Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman Rizal Algamar mengatakan, penanganan karhutla selama ini masih cenderung berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Padahal, pencegahan perlu dilakukan sebelum musim kemarau tiba.

"Setiap tahun polanya sama: api menyala, semua pihak prihatin, janji pembenahan diucapkan, lalu kita lupa begitu hujan turun," kata Rizal dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, upaya pencegahan perlu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat yang berada di wilayah rawan kebakaran serta menyediakan anggaran yang memadai sebelum musim kemarau.

Baca juga: Di Tengah Debu dan Asap Karhutla, Perajin Mie Sagu Sungai Tohor Berjuang Naik Kelas

Pemantauan satelit Auriga Nusantara mencatat, lahan yang terbakar di Indonesia mencapai 637.011 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Karhutla juga menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat. Laporan situasi Karhutla 2026 yang disusun AYANA bersama CPPM SBM ITB mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama lima pekan, yakni 18 Agustus hingga 21 September 2026. Sebanyak 40.363 kasus di antaranya dialami anak balita.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan memperkirakan 10,7 juta warga di wilayah terdampak berisiko tinggi terpapar asap. Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta orang dengan penyakit jantung atau paru.

Dampak karhutla juga diperkirakan membebani perekonomian. Berdasarkan skenario Center of Economic and Law Studies (CELIOS), kerugian ekonomi dan kesehatan selama Januari hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp 39,3 triliun hingga Rp 123,1 triliun.

Asap kebakaran bahkan meluas hingga negara tetangga. Indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) Singapura mencapai 181 pada 9 Oktober 2026, tertinggi sepanjang tahun tersebut. Sejumlah sekolah di negara bagian Malaysia juga sempat ditutup akibat kabut asap.

Baca juga: Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga

Lima tuntutan untuk mengatasi karhutla

Rizal menilai, karhutla yang terus berulang tidak semata-mata disebabkan cuaca ekstrem. Persoalan tata kelola lingkungan, pengelolaan lahan, perlindungan ekosistem gambut, dan kapasitas pencegahan di tingkat nasional hingga desa juga perlu dibenahi.

Melalui komunike bersama, organisasi lintas iman menyampaikan lima tuntutan.

Pertama, pemerintah dan pihak terkait diminta memprioritaskan kesehatan serta keselamatan warga, terlepas dari status penanganan karhutla di suatu daerah. Upaya tersebut mencakup penyediaan informasi kualitas udara yang akurat, layanan kesehatan yang responsif, air bersih, serta perlindungan bagi kelompok rentan.

Kedua, pencegahan dan tata kelola karhutla perlu diperkuat. Pendekatan penanganan harus bergeser dari reaktif menjadi preventif melalui pengawasan, deteksi dini, koordinasi pemerintah pusat dan daerah, penegakan hukum, serta pemberdayaan masyarakat, termasuk masyarakat adat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau