KOMPAS.com - Awal September 2025, pembangunan Tempat Pengolahan Sampah berbasis Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, bakal dimulai melalui groundbreaking.
TPS3R ini diharapkan menjadi “perisai” bagi keindahan pulau yang selama ini menjadi magnet wisata dunia. Dengan fasilitas ini, Pulau Derawan ingin menegaskan diri sebagai destinasi yang bukan hanya memikat mata, tapi juga ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
“Melalui pembangunan TPS3R harapannya masyarakat Derawan dapat lebih terbantu dan semakin aktif terlibat, tidak hanya dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dalam memilah dan mengelola sampah sebagai sumber daya yang bernilai. Partisipasi ini akan memperkuat rasa kepemilikan terhadap fasilitas dan menciptakan peluang usaha lokal berbasis ekonomi sirkular,” ujar Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Imam Musthofa Zainudin, Kamis (14/8/2025).
WWF Indonesia telah lama menanamkan fondasi keberlanjutan di Kampung Pulau Derawan. Mereka mendampingi komunitas untuk mengurangi plastik sekali pakai, meningkatkan kapasitas warga dalam mengelola sampah, hingga memperkuat usaha lokal yang berpihak pada lingkungan.
Dalam waktu dekat, peralatan pendukung pengelolaan sampah akan diserahkan untuk memperlancar operasional harian TPS3R. Tak hanya itu, pemimpin lokal dan masyarakat akan mendapat pelatihan memilah dan mengolah sampah.
“Langkah ini bertujuan agar warga mampu mengelola sampah secara mandiri, bahkan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi. Dengan adanya pengelolaan sampah yang tepat akan menjadi peluang ekonomi baru di Pulau Derawan,” lanjut Imam.
Ia berharap, Kampung Derawan kelak menjadi contoh sukses pengelolaan sampah bagi pulau-pulau kecil di seluruh Indonesia.
Pulau Derawan adalah kartu pos hidup. Pasir putih, air sebening kristal, dan satwa laut ikonik seperti penyu, hiu paus, serta lumba-lumba. Sejak awal 2010-an, geliat pariwisata menghidupkan ekonomi lokal.
BPS Kabupaten Berau mencatat 34.160 wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Kecamatan Pulau Derawan pada 2024. Namun, di balik angka itu, ada ancaman yang terus menggunung—secara harfiah.
Sepanjang 2023, sekitar 80 penginapan, rumah makan, dan bangunan komersial lain beroperasi di pulau. Mereka menyumbang tumpukan sampah non-rumah tangga dengan rata-rata mencengangkan: 46.105,1 kilogram per hari.
Untuk pulau seluas 44,6 hektar, angka ini bukan sekadar masalah, tetapi alarm bahaya. Tanpa pengelolaan terpadu, Pulau Derawan bisa kehilangan daya tarik dan keseimbangan ekosistem. Polusi plastik juga mengancam penyu, ikon kebanggaan pulau ini.
Tanpa fasilitas pengelolaan sampah, limbah kerap berakhir dibakar, dikubur, atau dibuang ke laut.
Menanggapi kondisi itu, Pemkab Berau dan WWF Indonesia menyusun Master Plan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Pulau Derawan pada Juni 2024, dengan pembangunan TPS3R sebagai salah satu prioritas utama.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya