KOMPAS.com - Potensi hidrogen hijau di Indonesia mencapai 345,6 juta ton per tahun, berdasarkan perhitungan Institute for Essential Service Reform (IESR). Namun, dari aspek keekonomian, biaya memproduksi hidrogen hijau melalui pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) masih terlalu tinggi.
Harga hidrogen hijau berada di kisaran 12 dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 202.000 per kilogram (kg). Padahal, harga hidrogen hijau yang kompetitif sekitar empat sampai enam dollar AS atau setara Rp 67.000-Rp 101.000 per kg di pasaran secara global.
Baca juga:
"Jadi 87 persen daripada temuan ini harganya masih di atas 12 dollar AS per kg dan sekitar 50 juta ton per tahun kami dapatkan untuk dengan harga di bawah 12 dollar AS per kg," kata Head of Industrial Decarbonization IESR, Rheza Hanif Risqianto, dalam webinar Green Energy Transition Indonesia Day, Selasa (10/3/2026).
Untuk harga paling konsisten adalah produksi hidrogen hijau dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
Sementara itu, harga termurah diproduksi dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS).
Potensi hidrogen hijau di Indonesia mencapai 345,6 juta ton per tahun. Namun, biaya memproduksi hidrogen hijau dinilai masih tinggi.Potensi hidrogen hijau tidak akan berlanjut menjadi proyek riil jika tidak ada permintaan produknya.
Dalam skenario paling optimistis, Indonesia bisa memanfaatkan hidrogen hijau hingga 37,3 juta ton per tahun, dengan permintaan terbesar dari bahan bakar dan pengiriman barang atau logistik (shipping).
IESR menemukan 14 daerah dengan permintaan tinggi hidrogen hijau di Indonesia ke depannya, dengan sejumlah potensi buyer atau offtaker.
Misalnya, Jawa Barat, yang mana hidrogen hijau bisa dipakai untuk industri keramik, besok, dan baja. Atau, Kalimantan Timur, yang memiliki industri produksi pupuk.
IESR menyarankan pengembangan Hydrogen Hub Potential Zones, dengan 10 daerah paling potensial, di antaranya Kalimantan Timur, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Hydrogen Hub Potential Zones berpotensi menurunkan biaya produksi hidrogen hijau hingga 0,5-1,5 dollar AS per kg.
Baca juga:
Terdapat tiga sektor industri yang memang cocok untuk hidrogen hijau, salah satunya pupuk yang memang secara teknologi sudah matang, dengan hanya mengganti produksi hidrogen dari pembangkit listrik energi fosil ke EBT.
Sektor lainnya adalah besi dan baja. Transisi dari teknologi Blast Furnace (BF) yang tinggi emisi gas rumah kaca (GRK) ke Direct Reduction Iron (DRI) di industri baja merupakan langkah krusial dekarbonisasi.
Selain itu, ada sektor kelautan dan logistik (maritime and shipping). Organisasi Maritim Dunia (IMO) dan Mekanisme Penyesuaian Batas Karbon (CBAM) menuntut produk yang diekspor ke Uni Eropa diproduksi dengan emisi GRK rendah.
Hidrogen hijau bukanlah solusi untuk semua hal, tapi memang lebih cocok sebagai solusi untuk hard-to-abate atau sektor industri dan transportasi yang sangat sulit melakukan dekarbonisasi.
"Kita akan menggunakan hidrogen saat solusi elektrifikasi untuk dekarbonisasi itu sudah tidak dapat dilakukan," tutur Rheza.
Selain itu, hidrogen hijau diperuntukkan bagi sektor industri yang memang membutuhkannya sebagai bahan baku yang terbarukan (feedstock sustainable).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya