JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana membangun tiga fasilitas Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menuturkan, salah satu lokasinya di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
"Jadi Jakarta akan ada (WtE) di Bantargebang yang bisa (kelola) 3.000 ton sampah per hari. Sebanyak 2.000 ton sampah baru, 1.000 (ton) yang lama. Ada juga di Tanjungan luas lahannya 8 hektare, bisa 2.000 ton per hari sampah baru," kata Zulhas dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).
Baca juga:
Fasilitas WtE ketiga akan dibangun di dekat Jakarta International Stadium (JIS), Sunter, dengan kapasitas pengelolaan lebih dari 2.000 ton sampah per hari.
Pembangunan ini menjadi langkah penanganan sampah di Bantargebang, menyusul terjadinya longsor sampah pada Minggu (8/3/2026) lalu yang menewaskan tujuh orang.
"Mudah-mudahan nanti kejadian kemarin (longsor) tidak terulang lagi, itu menunjukkan kami memang perlu percepat. Kami tidak ingin ada masalah lagi, Jakarta itu hampir 8.000 ton setiap hari sampah sehingga sudah seperti gedung 17 lantai," ucap Zulhas.
Suasana proses pencarian korban di lokasi longsor Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Senin (9/3/2026). Jakarta direncanakan memiliki tiga fasilitas WtE (pengolahan sampah menjadi listrik), salah satunya di Bantargebang. Zulhas menambahkan, PSEL diproyeksikan beroperasi pada tahun 2027 di empat kota, antara lain Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta.
Pada tahap kedua, rencananya WtE dibangun di 14 lokasi lain, termasuk Jakarta, Lampung, Medan, Semarang, Surabaya, Serang, dan Tangerang Raya.
"Awal 2028 empat ini juga sudah jadi, menyusul yang 14 (kota) kami harapkan pertengahan 2028 sampai akhir 2028 juga sudah jadi," kata dia.
Groundbreaking atau peletakan batu pertama dilakukan Juni 2026. Zulhas menilai, persoalan sampah di kota besar saat ini menjadi perhatian pemerintah pusat sehingga pembangunan PSEL ditargetkan selesai dalam dua tahun ke depan.
Baca juga:
"Kita sudah masuk kategori darurat sampah. Oleh karena itu, ada beberapa cara yang kami akan selesaikan sebagaimana sudah diketahui, ada Waste to Energy, ada lagi nanti yang (pengelolaan sampah) di bawah 1.000 (ton), dan seterusnya," beber Zulhas.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung enggan berkomentar banyak terkait wacana pembangunan PSEL di wilayahnya.
"Jakarta siap di tiga tempat. Sudah ada pembebasan lahan baru," ucap Pramono.
Sebagai informasi, beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari semua kota/kabupaten di Jakarta.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) mini beroperasi di Bantargebang sejak 2020 dengan kapasitas pengelolaan mencapai 100 ton sampah per hari.
PLTSa berdiri di atas lahan seluas empat hektar. Setiap harinya, PLTSa ini menghasilkan 700 kilowatt hour (kWh) listrik.
Selain itu, TPST Bantargebang memiliki fasilitas landfill mining (tambang sampah) dan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif (refused derived fuel/RDF) plant untuk menanggulangi tumpukan sampah. Dengan adanya fasilitas ini, sebanyak 2.000 ton sampah dapat diolah menjadi 700 ton RDF per hari.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya