Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bantargebang Direncanakan Jadi Lokasi Fasilitas Waste to Energy

Kompas.com, 12 Maret 2026, 14:47 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana membangun tiga fasilitas Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menuturkan, salah satu lokasinya di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

"Jadi Jakarta akan ada (WtE) di Bantargebang yang bisa (kelola) 3.000 ton sampah per hari. Sebanyak 2.000 ton sampah baru, 1.000 (ton) yang lama. Ada juga di Tanjungan luas lahannya 8 hektare, bisa 2.000 ton per hari sampah baru," kata Zulhas dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).

Baca juga:

Fasilitas WtE ketiga akan dibangun di dekat Jakarta International Stadium (JIS), Sunter, dengan kapasitas pengelolaan lebih dari 2.000 ton sampah per hari.

Pembangunan ini menjadi langkah penanganan sampah di Bantargebang, menyusul terjadinya longsor sampah pada Minggu (8/3/2026) lalu yang menewaskan tujuh orang.

"Mudah-mudahan nanti kejadian kemarin (longsor) tidak terulang lagi, itu menunjukkan kami memang perlu percepat. Kami tidak ingin ada masalah lagi, Jakarta itu hampir 8.000 ton setiap hari sampah sehingga sudah seperti gedung 17 lantai," ucap Zulhas.

Pemerintah berencana bangun WtE di Bantargebang

Suasana proses pencarian korban di lokasi longsor Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Senin (9/3/2026). Jakarta direncanakan memiliki tiga fasilitas WtE (pengolahan sampah menjadi listrik), salah satunya di Bantargebang. KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Suasana proses pencarian korban di lokasi longsor Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Senin (9/3/2026). Jakarta direncanakan memiliki tiga fasilitas WtE (pengolahan sampah menjadi listrik), salah satunya di Bantargebang.

Zulhas menambahkan, PSEL diproyeksikan beroperasi pada tahun 2027 di empat kota, antara lain Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta.

Pada tahap kedua, rencananya WtE dibangun di 14 lokasi lain, termasuk Jakarta, Lampung, Medan, Semarang, Surabaya, Serang, dan Tangerang Raya.

"Awal 2028 empat ini juga sudah jadi, menyusul yang 14 (kota) kami harapkan pertengahan 2028 sampai akhir 2028 juga sudah jadi," kata dia.

Groundbreaking atau peletakan batu pertama dilakukan Juni 2026. Zulhas menilai, persoalan sampah di kota besar saat ini menjadi perhatian pemerintah pusat sehingga pembangunan PSEL ditargetkan selesai dalam dua tahun ke depan.

Baca juga:

"Kita sudah masuk kategori darurat sampah. Oleh karena itu, ada beberapa cara yang kami akan selesaikan sebagaimana sudah diketahui, ada Waste to Energy, ada lagi nanti yang (pengelolaan sampah) di bawah 1.000 (ton), dan seterusnya," beber Zulhas.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung enggan berkomentar banyak terkait wacana pembangunan PSEL di wilayahnya.

"Jakarta siap di tiga tempat. Sudah ada pembebasan lahan baru," ucap Pramono.

Sebagai informasi, beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari semua kota/kabupaten di Jakarta.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) mini beroperasi di Bantargebang sejak 2020 dengan kapasitas pengelolaan mencapai 100 ton sampah per hari.

PLTSa berdiri di atas lahan seluas empat hektar. Setiap harinya, PLTSa ini menghasilkan 700 kilowatt hour (kWh) listrik.

Selain itu, TPST Bantargebang memiliki fasilitas landfill mining (tambang sampah) dan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif (refused derived fuel/RDF) plant untuk menanggulangi tumpukan sampah. Dengan adanya fasilitas ini, sebanyak 2.000 ton sampah dapat diolah menjadi 700 ton RDF per hari.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
LSM/Figur
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
BUMN
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Pemerintah
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
Pemerintah
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
LSM/Figur
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
LSM/Figur
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
Pemerintah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
LSM/Figur
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Pemerintah
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
LSM/Figur
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
LSM/Figur
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
Pemerintah
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau