Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 4 April 2023, 19:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Makin tingginya kesadaran akan konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab dan ramah lingkungan, mendorong sejumlah inisiator membentuk Green Product Council Indonesia (GPCI).

GPCI adalah lembaga swadaya masyarakat nirlaba yang peduli terhadap lingkungan dalam hal penggunaan bahan industri, khususnya produk bahan bangunan.

Dikutip dari laman resmi gpci.or.id, organisasi yang dimotori Naning Adiwoso dan didirikan pada tahun 2015 ini, merupakan Associate Member dari Global Ecolabelling Network (GEN).

GPCI mengajak seluruh masyarakat untuk memperhatikan aspek lingkungan dalam penggunaan produk bahan bangunan yang ramah lingkungan.

Baca juga: Singkong dan Sekam Padi, Material Bangunan Sekolah Ramah Lingkungan

Dalam perjalanannya kemudian, GPCI meluncurkan sertifikat Green Label Indonesia, yang dilakukan melalui pemeringkat standar atau alat pemeringkat yang disusun para ahli profesional.

Sertifikat Green Label Indonesia disematkan pada produk ramah lingkungan yang telah memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lembaga audit profesional.

Hal ini dilakukan untuk mendorong industri memproduksi bahan bangunan yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Dengan demikian, diharapkan setiap produsen akan berlomba-lomba memenuhi kriteria produk ramah lingkungan.

Adapun proses penyusunan kriteria Green Label Indonesia mengacu pada ISO 12024. Termasuk aspek-aspek yang dinilai pada kriteria produk yaitu persyaratan umum, sistem manajemen lingkungan, logam berat, karsinogenik dan bahan berbahaya lainnya, konsumsi energi dan air, dampak terhadap ekosistem, pengemasan serta pelabelan.

Penetapan kriteria Green Label Indonesia ini bertujuan untuk mencegah serta mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh suatu produk terhadap manusia, hewan maupun lingkungan baik pencemaran tanah, air, dan udara.

GPCI mendorong industri menjalankan proses produksi secara berkelanjutan sesuai dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) secara khusus SDG 12 yaitu melakukan produksi dan konsumsi yang bertanggungjawab.

Green Label Indonesia digagas oleh GPCI untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) ke-12 yakni konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab.GPCI Green Label Indonesia digagas oleh GPCI untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) ke-12 yakni konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab.
Kehadiran Green Label Indonesia memudahkan konsumen dalam memilih dan menggunakan produk yang lebih ramah lingkungan serta memberikan edukasi kepada konsumen dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menggunakan produk-produk ramah lingkungan.

Kategori atau jenis produk yang disusun oleh tim pemeringkat tidak hanya fokus pada jenis bahan bangunan, tetapi juga mengarah pada produk interior, FMCG, dan produk pembersih.

Kemudian keramik, papa gipsum, papan semen, cat dan pelapis, sanitasi, pipa polimer, baja ringan, baja gulung dilapisi, plastik, perekat dan sealant.

Selanjutnya semen, mortar instan, plastik biogradable dan film bioplastik, kaca, aluminium, bata ringan, essential oil dan turunannya, lembaran aspal bergelombang, pendingin ruangan, bata bahan daur ulang, dan paving block.

Tak hanya itu, sertifikat ecolabel Tipe I ini juga diterapkan pada produk jalan tol. Bersama dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. GPCI telah menyusun rating tools sertifikasi Green Toll Road (GTR).

Produk bahan bangunan yang akan digunakan pada proyek jalan tol, termasuk rest area, harus bersertifikat Green Label Indonesia sebagai produk ramah lingkungan.

Ini merupakan komitmen dan dukungan bersama yang terus dilakukan pemerintah untuk mendorong industri lokal mampu menghasilkan produk yang tidak hanya sehat, tetapi juga ramah lingkungan.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk sendiri telah berhasil memperoleh sertifikat GTR pada bulan Februari 2020 untuk proyek jalan Tol Gempol-Pandaan dan Pandaan-Malang, serta untuk proyek jalan tol lainnya.

GPCI terus bertekad untuk mencapai visinya “melokalkan” Indonesia melalui produk-produk lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta telah bersertifikat hijau.

 

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau