Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 30 Oktober 2023, 17:19 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Yayasan Upaya Indonesia Damai atau United in Diversity (UID) menggelar "Perayaan Kelulusan Program BEKAL (Bersama Kelola Alam Adil Lestari) Pemimpin 3.0" pada 27 Oktober 2023 di Jakarta.

Sebelumnya, Program BEKAL Pemimpin saat ini telah memiliki dua angkatan dengan mencetak 111 alumni tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia.

Perayaan kelulusan Program BEKAL Pemimpin ini dimaknai sebagai tonggak kepemimpinan dan praktisi muda dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di Indonesia.

Di tahun 2023, Program BEKAL Pemimpin merupakan angkat ketiga yang meluluskan 60 peserta terpilih yang berasal dari 27 provinsi dan mewakili sektor pemerintahan, bisnis, akademisi, LSM, media, hingga kelompok masyarakat.

Vice President  UID, Suyoto kepada Kompas.com (27/10/2023) berharap para lulusan program BEKAL Pemimpin 3.0 dapat menjadi agen perubahan di daerah masing-masing.

"Mudah-mudah (para lulusan) akan menjadi lilin-lilin yang bertebaran di seluruh Indonesia yang membuat pengelolaan lingkungan kita lebih membahagiakan bagi alam semesta bersama-sama ini," harap Suyoto.

Ia juga menyampaikan, ada banyak terobosan inovasi yang dihasilkan dari para lulusan program BEKAL Pemimpin 2023. Pihaknya berkomitmen untuk terus mengawal dan memberikan pendampingan terhadap berbagai inisiatif program ini.

"Saya yakin teman-teman BEKAL tidak hanya memberikan impact di daerahnya tetapi akan menjadi khasanah baru kajian akademik Indonesia karena banyak sekali inovasi-inovasi dari program BEKAL ini," ungkap Suyoto.

Dalam kesempatan sama, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves, Nani Hendiarti memberikan apreasiasi positif kepada Program BEKAL Pemimpin yang diusung UID.

"Ini merupakan langkah awal dari kontribusi yang lebih besar untuk negeri ini. Kemenko Marves sangat mendukung program ini yang melakukan pendekatan kolaboratif dan inovatif merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan di Indonesia," ujar Nani Hendiarti.

Hal senada disampaikan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KemenLH, Bambang Supriyanto yang juga menekankan pentingnya kolaborasi, inovasi, dan teknologi.

"Hari ini kelulusan tapi bukan akhir dari sebuah pembelajaran. Yang terpenting bagaimana hasil-hasil pembelajaran itu diaplikasikan secara nyata untuk menjawab krisis-krisis dunia," pesan Bambang Supriyanto.

10 Inovasi Program BEKAL Pemimpin 3.0

 

Yayasan Upaya Indonesia Damai atau United in Diversity (UID) menggelar Perayaan Kelulusan Program BEKAL (Bersama Kelola Alam Adil Lestari) Pemimpin 3.0 pada 27 Oktober 2023 di Jakarta.DOK. UID Yayasan Upaya Indonesia Damai atau United in Diversity (UID) menggelar Perayaan Kelulusan Program BEKAL (Bersama Kelola Alam Adil Lestari) Pemimpin 3.0 pada 27 Oktober 2023 di Jakarta.

Program BEKAL Pemimpin 3.0 yang merupakan kolaborasi antara UID,dan The David and Lucile Packard Foundation ini menggeluti beragam isu, di antaranya isu terestrial, kemaritiman, isu-isu lintas bidang seperti teknologi, tata kelola, lingkungan, hingga kebijakan.

Lulusan telah mengikuti serangkaian perjalanan pembelajaran yakni Foundation Workshop (Mei 2023), Sensing Workshop (Juni 2023), Deep Dive Workshop (Juli 2023), Prototype Workshop (September 2023), hingga Final Workshop dan Graduation (Oktober 2023).

Berikut 10 inovasi berdampak langsung yang diciptakan para lulusan Program BEKAL Pemimpin 2023:  

  1. Gorontalo Green School: Menumbuhkan kesadaran kelestarian lingkungan di pondok pesantren Gorontalo melalui modul pembelajaran pendidikan lingkungan, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, serta demonstration plot untuk pertanian berkelanjutan dan berkearifan lokal.
  2. Konservasi Membumi: Menciptakan kemandirian ekonomi untuk peningkatan kualitas hidup, serta ketahanan terhadap perubahan iklim melalui konservasi keragaman hayati, optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan hasil hutan dengan skema perdagangan unit karbon pada kelompok masyarakat di Desa Batampang, Kalimantan Tengah.
  3. Baby Shark: Membangun kesadaran serta transparansi kolektif dalam sistem perikanan tangkap hiu skala kecil untuk menciptakan tata kelola perikanan yang berkelanjutan dan berkearifan lokal demi meningkatkan kesejahteraan kelompok nelayan di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
  4. Finbargo: Mewujudkan kesadaran pangan lestari melalui pembuatan pangkalan data mengenai sistem kedaulatan pangan dari berbagai komunitas adat melalui model praktik terbaik sistem pengelolaan pangan berkelanjutan dan berkearifan lokal, untuk membangun pembelajaran praktik sistem pangan lestari di Indonesia.
  5. Perahu: Menciptakan nelayan skala kecil yang mandiri secara ekonomi dan berdaya saing global melalui penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan serta peningkatan kapasitas literasi finansial untuk kesejahteraan komunitas nelayan di Demak dan Semarang, Jawa Tengah.
  6. Magis Hutan Purba: Penguatan kelembagaan, sistem tata kelola, serta optimalisasi pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan dan berkearifan lokal dalam menjaga kelestarian Hutan Purba Ranjuri untuk kesejahteraan masyarakat di Desa Beka, Sigi, Sulawesi Tengah.
  7. Blindspot Greenswans: Membangun kolaborasi para pemangku kepentingan dengan kesadaran daya dukung lingkungan dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk menciptakan model bisnis lestari yang berkelanjutan dan berkearifan lokal.
  8. Nagari Wanatani: Menguatkan tata kelola kehutanan dalam menciptakan sistem agribisnis yang berkelanjutan dan berkearifan lokal untuk menjaga ekosistem hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan kelompok usaha perhutanan sosial di Agam, Sumatera Barat.
  9. Cinta Papua: Membangun desa ekowisata melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara lestari dan berkearifan lokal untuk menjadi sumber ekonomi mandiri yang berkelanjutan di Desa Rimba Jaya, Biak Numfor, Papua.
  10. Mamimpin L’Bajo: Mewujudkan generasi muda Labuan Bajo yang memiliki kepedulian dan kecintaan mengenai kekayaan keragaman hayati di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur melalui peningkatan kapasitas tenaga pendidik untuk implementasi kurikulum konservasi serta modul ajar lokal.

Vice President UID, Suyoto berharap calon-calon pemimpin Indonesia di masa depan akan mampu menghadirkan kebahagiaan bagi semua.

"Kebahagiaan itu tercipta ketika kita harmoni dengan alam, harmoni sosial, dan kita tahu siapa diri kita dan mau ke mana. Itu kenapa program ini bernama BEKAL, Bersama Kelola Alam Adil Lestari. Lestari berkearifan, lestari berkeadilan," ungkap Suyoto.

Untuk itu, Suyoto mendorong pendekatan sinergi dan gotong royong dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.

"Selesaikanlah dengan cara, bukan sektoral, bukan centric kekuasaan, tapi ciptakanlah sinergi gotong royong di kawasan-kawasan di mana kekuatan dan potensi itu ada, maka kehidupan dapat diwujudkan lebih baik," tutup Suyoto.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau