Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun

Kompas.com, 6 Maret 2026, 12:04 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto membentuk satuan tugas (Satgas) Transisi Energi untuk mengakselerasi implementasi program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) dan elektrifikasi 120 juta unit sepeda motor. Satgas Transisi Energi akan dipimpin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia.

Diketahui, CEO Badan Pengelola Investasi Danantara, Rosan Roeslani menyebut, adanya investasi sekitar Rp 23,66 triliun untuk pembangunan industr PLTS dengan kapasitas produksi hingga 50 GW.

Baca juga:

Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Tata Mustasya menganggap, transisi energi di Indonesia semakin realistis dan relevan dengan situasi saat ini.

Apalagi, eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran berpotensi memicu volatilitas harga bahan bakar fosil global dan mengancam ketahanan energi Indonesia.

Satgas Transisi Energi di Indonesia

Usulan kebijakan kunci yang perlu dijalankan

Analisis menjelaskan potensi Rp 675 triliun dari batu bara untuk membiayai transisi energi di Indonesia, terkait pembentukan Satgas Transisi Energi.Dok. SHUTTERSTOCK Analisis menjelaskan potensi Rp 675 triliun dari batu bara untuk membiayai transisi energi di Indonesia, terkait pembentukan Satgas Transisi Energi.

Tata mengusulkan tiga kebijakan kunci yang perlu dijalankan Satuan Tugas (Satgas) Transisi Energi yang baru dibentuk, salah satunya insentif yang jelas dan konsisten untuk energi baru terbarukan (EBT) bersamaan dengan disinsentif batu bara.

Insentif penting bagi pembiayaan dan investasi EBT di tengah ruang fiskal yang sangat sempit.

"Dengan insentif yang tepat, transisi energi bukan merupakan agenda yang mahal dan kompleks,” ujar Tata dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).

Indonesia juga memiliki potensi sumber pendanaan tambahan dari pungutan batu bara. Kendati pemerintah sudah berencana menerapkan bea keluar batu bara sejak awal Januari 2026, sampai saat ini pelaksanaannya disebut masih tertunda.

Ia menganggap, pendanaan dari batu bara bisa mengakselerasi pengembangan EBT di Indonesia.

Analisis SUSTAIN menunjukkan bahwa pungutan produksi batu bara berpotensi menghasilkan hingga Rp 675 triliun selama periode RUPTL 2025–2034.

Bahkan, dalam skenario paling konservatif, selama sisa empat tahun Pemerintahan Prabowo Subianto, potensi pembiayaan yang bisa dihimpun diperkirakan mencapai sekitar Rp 360 triliun.

Dengan estimasi pemerintah bahwa program 100 GW tenaga surya membutuhkan sekitar 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.690 triliun), artinya biaya pembangunan pembangkit listrik tenaga surya skala desa berkapasitas 1 MW sekitar Rp 20 miliar.

Pendapatan tersebut dinilai dapat membiayai instalasi tenaga surya di sekitar 18.000 desa, mencakup lebih dari 20 persen seluruh desa di Indonesia.

Baca juga:

Analisis menjelaskan potensi Rp 675 triliun dari batu bara untuk membiayai transisi energi di Indonesia, terkait pembentukan Satgas Transisi Energi.SHUTTERSTOCK/DIYANA DIMITROVA Analisis menjelaskan potensi Rp 675 triliun dari batu bara untuk membiayai transisi energi di Indonesia, terkait pembentukan Satgas Transisi Energi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau