Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 14 Desember 2023, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – KTT iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), berakhir pada Rabu (13/12/2023) siang. Para perwakilan dari hampir 200 negara sepakat untuk bertransisi dari bahan bakar fosil.

Frasa yang disepakati dalam keputusan tersebut adalah: bertransisi dari bahan bakar fosil ke dalam sistem energi, dengan cara yang adil, bertahap, dan merata sehingga dapat mencapai nol emisi pada 2050 sesuai dengan sains.

Selain menyepakati transisi dari batu bara, minyak, dan gas bumi, COP28 juga memobilisasi sejumlah janji, termasuk pendanaan.

Selama hampir dua pekan, COP28 berhasil menggalang pendanaan senilai 85 miliar dolllar AS serta 11 janji dan deklarasi yang berkomitmen terhadap aksi iklim.

Dilansir dari AFP, berikut janji-janji yang disampaikan selama gelaran COP28 berlangsung hingga usai.

Baca juga: COP28 Rampung: Dunia Sepakat Lakukan Transisi, Awal dari Akhir Era Fosil

Dana kerugian dan kerusakan

COP28 menjadi saksi peluncuran dana kerugian dan kerusakan untuk membantu negara-negara rentan untuk mengatasi dampak bencana iklim yang menghancurkan.

Menurut kepresidenan COP28, dana kerugian dan kerusakan yang berhasil digalang selama pembicaraan berlangsung mencapai 729 juta dollar AS.

Akan tetapi, angka tersebut masih jauh dari kebutuhan yang ditaksir mencapai 100 miliar dollar AS per tahun.

Menurut negara-negara berkembang, dana sebesar itu diperlukan untuk mengkaver kerugian akibat bencana alam dan naiknya permukaan air laut.

Sementara itu, Green Climate Fund atau Dana Iklim Hijau, yang fokus mendukung negara-negara berkembang dalam aksi iklimnya, mendapat tambahan dana sebesar 3,5 miliar dollar AS pada pendanaan kedua, dengan janji 3 miliar dollar AS dari “Negeri Paman Sam”.

Baca juga: COP28 Molor, Bahasan Penghapusan Bakan Bakar Fosil Berjalan Alot

Energi terbarukan tiga kali lipat

Sebanyak 132 negara berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan sebanyak tiga kali lipat pada 2030 dan menggandakan efisiensi energi tahunan.

Janji tersebut dimasukkan dalam hasil akhir perundingan dan menjadi kemenangan substansial bagi para pendukungnya.

Nuklir tiga kali lipat

Lebih dari 20 negara yang dipimpin oleh AS menyerukan peningkatan kapasitas energi nuklir dunia menjadi tiga kali lipat pada 2050.

Meskipun nuklir hampir tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK), berbagai dampak buruk dari nuklir mendapat sorotan dari sejumlah pihak.

Terutama bencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima di Jepang pada 2011 yang memberikan pukulan telak bagi negara tersebut.

Di sisi lain, para ahli dan aktivis menunjukkan fakta bahwa pembangunan PLTN baru membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa beroperasi, sementara pembangunan energi terbarukan jauh lebih cepat.

Baca juga: Bunga-bunga Janji dalam COP28 Tak Cukup Cegah Pemanasan Global

Pangan dan pertanian

Hampir 160 negara sepakat untuk memprioritaskan sistem pangan dan pertanian dalam rencana iklim nasional mereka.

Deklarasi tidak mengikat ini disambut baik oleh para pengamat, karena sistem pangan diperkirakan bertanggung jawab atas sepertiga emisi GRK yang dihasilkan manusia.

Namun beberapa pihak mengkritik kebijakan tersebut karena tidak memiliki tujuan yang konkret dan tidak menyebutkan bahan bakar fosil atau memberi isyarat adanya perubahan menuju pola makan yang lebih berkelanjutan.

Janji kesehatan

Lebih dari 140 negara menandatangani deklarasi untuk menempatkan kesehatan sebagai inti aksi iklim.

Deklarasi ini menyerukan negara-negara untuk meningkatkan tindakan terhadap dampak kesehatan terkait iklim seperti panas ekstrem, polusi udara, dan penyakit menular.

Hampir 9 juta orang per tahun meninggal karena polusi udara, sementara 189 juta orang terkena dampak cuaca ekstrem.

Baca juga: Sekjen PBB Desak COP28 Sepakat Setop Bahan Bakar Fosil

Janji pengurangan AC

Lebih dari 60 negara berkomitmen untuk mengurangi emisi dari peralatan pendingin yang boros energi, seperti AC dan lemari es, setidaknya sebesar 68 persen secara global pada 2050.

Janji sukarela ini juga bertujuan untuk menyediakan langkah-langkah pendinginan yang lebih berkelanjutan bagi 3,5 miliar orang yang berjuang melawan kenaikan suhu.

Dana investasi iklim UEA

UEA mengatakan pihaknya memasukkan 30 miliar dollar AS ke dalam dana investasi iklim swasta yang bernama Alterra.

Sebagian dana akan mencoba berfokus pada proyek-proyek iklim di negara-negara berkembang dan berharap dapat merangsang investasi sebesar 250 miliar dollar AS pada 2030.

Baca juga: COP28: Pemimpin OPEC Desak Anggota dan Mitra Tolak Penghapusan Energi Fosil

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau