Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Meredupnya Tren Bersepeda, Bagaimana Kita Bisa Menyalakannya Lagi?

Kompas.com, 16 April 2025, 16:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh Angga Marditama Sultan Sufanir*

KOMPAS.com - Saat pandemi Covid-19, sekitar tahun 2020 hingga 2022 lalu, tren bersepeda atau gowes sempat ‘booming’ di Indonesia. Sepeda bukan cuma dipakai untuk berolahraga tetapi juga menjadi pilihan transportasi harian masyarakat urban, khususnya kalangan anak muda.

Tren bike to work dan bike sharing tumbuh pesat, terutama di kota-kota besar. Sayangnya, begitu pandemi mereda, tren ini juga perlahan redup. Padahal kalau tren ini berlanjut, sepeda bisa menjadi solusi ampuh mengurangi emisi dari sektor transportasi.

Sebuah studi menyebut, jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark (sekitar 1,6 kilometer per hari), maka emisi karbon global bisa berkurang hingga 414 juta ton. Atau jika semua orang mengadopsi cara hidup orang Belanda yang bersepeda 2,6 kilometer setiap hari, emisi yang berkurang bisa lebih banyak lagi—mencapai 686 juta ton. Dampaknya besar sekali, bukan?

Perkembangan urban cycling

Anak muda punya peran penting dalam mempopulerkan budaya bersepeda, baik sebagai target maupun penggerak perubahan. Sebagai kelompok demografis terbesar, jika sebagian besar anak muda mengadopsi budaya bersepeda, maka dampaknya akan masif terhadap kebiasaan masyarakat secara keseluruhan.

Di Indonesia, komunitas Bike to Work (B2W) adalah salah satu penggerak utama kampanye penggunaan sepeda untuk aktivitas sehari-hari, terutama bagi pekerja kantoran dan profesional muda.

Selain itu, ada pula inisiatif bike-sharing—layanan sewa berbagi sepeda—yang awalnya dimulai di Bandung oleh komunitas bike.bdg bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) pada 2012. Sayangnya, layanan ini sempat mati suri sebelum dihidupkan kembali oleh pemerintah setempat dengan nama Bike on the Street Everybody Happy (Boseh) pada 2017.

Dinas Perhubungan Kota Bandung selaku pengelola Boseh menghadirkan 30 shelter yang tersebar di seluruh Bandung. Namun pada 2024, tercatat 13 shelter sudah tidak aktif lagi.

Baca juga: Paling Berpolusi, Industri Fast Fashion Picu Krisis Sampah Global

Di Jakarta, layanan ini juga sempat berkembang, peminatnya cukup tinggi terutama saat pandemi Covid-19. Namun kini, kondisinya terbengkalai dan tak terawat karena manajemen yang buruk.

Tantangan menerapkan budaya bersepeda?

Secara umum, ada beberapa tantangan utama yang membuat sepeda selama ini sulit diadopsi sebagai moda transportasi utama yang mudah, aman, dan nyaman, di antaranya;

1. Infrastruktur dan konektivitas terbatas

Infrastruktur untuk bersepeda di Indonesia kurang mendukung. Jalur sepeda masih terbatas. Di DKI Jakarta, misalnya, jalur sepeda hanya sepanjang 313,6 kilometer, terdiri dari 23,2 km jalur sepeda di trotoar dan 258 km lajur sepeda berbagi. Di Kota Bandung jauh lebih pendek lagi, hanya sekitar 20 kilometer yang tersebar di 16 ruas jalan.

Idealnya, panjang jalur sepeda harus sesuai dengan kebutuhan mobilitas penduduk dan cakupan area perkotaan. Kota dengan kebijakan ramah sepeda biasanya memiliki jalur sepeda sekitar 10-30% dari total panjang jalan.

Selain itu, konektivitas dengan moda transportasi lain seperti bus dan kereta saat ini juga belum optimal, sehingga membuat sepeda kurang praktis digunakan sebagai moda transportasi utama.

2. Keamanan kurang terjamin

Dari segi keamanan, parkir sepeda yang aman di fasilitas publik dan perkantoran juga minim. Jangankan sepeda milik pribadi, layanan bike-sharing saja misalnya, sering menghadapi masalah pencurian dan vandalisme.

3. Iklim dan fasilitas kurang mendukung

Dari segi kenyamanan, faktor iklim tropis yang panas sering menjadi kendala bagi pengguna sepeda dalam mobilitas sehari-hari. Sementara itu, fasilitas seperti shower dan ruang ganti di kantor masih minim. Belum lagi, jalur sepeda kerap digunakan sebagai tempat parkir atau dilintasi kendaraan lain, sehingga rawan konflik dan mengurangi kenyamanan pesepeda.

Baca juga: Industri “Fast Fashion” Hasilkan Limbah Tekstil Tak Terkelola 92 Juta Ton Per Tahun

Bagaimana menarik minat anak muda bersepeda?

Untuk meningkatkan minat masyarakat terutama anak muda untuk bersepeda, wajib hukumnya untuk menyediakan fasilitas yang mudah, aman, dan nyaman bagi pengendara sepeda.

Belajar dari negara maju, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendesain kota yang ramah pesepeda, yakni dengan menyediakan jalur sepeda yang luas dan terhubung dengan sistem transportasi umum. Rambu khusus, lampu lalu lintas, dan parkir sepeda yang memadai juga harus disediakan. Dalam hal ini, pemerintah bisa menggandeng sektor swasta dan komunitas untuk membangun infrastruktur.

Kebijakan pendukung juga harus disiapkan. Pemerintah bisa mengadopsi regulasi yang memberikan prioritas bagi pesepeda di persimpangan tertentu, insentif bagi pekerja yang menggunakan sepeda untuk mobilitas harian, serta kampanye edukasi keselamatan bersepeda sejak dini.

Pemerintah harus berinvestasi di bidang ini. Paris menjadi contoh sukses bagaimana investasi yang serius dalam infrastruktur bersepeda bisa mengubah pola mobilitas dan sukses menjadikan sepeda sebagai sarana transportasi baru sejak masa pandemi. Paris menggelontorkan dana 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 33,59 triliun selama empat tahun sejak 2023. Hasilnya, menurut Paris Region Institute, kini 11,2 persen perjalanan di dalam kota dilakukan dengan sepeda, sedangakan pengguna mobil hanya 4,3 persen.

Di Indonesia, komunitas B2W berhasil melobi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengembangkan skema insentif bagi pesepeda pada momen peringatan World Bicycle Day Juni 2024 lalu. Singkatnya, para pesepeda berlomba mengumpulkan angka carbon saved melalui aplikasi Strava sebanyak mungkin, yang kemudian bisa ditukarkan dengan insentif tertentu.

Namun, inisiatif ini masih sebatas momentum. Sepeda seharusnya menjadi bagian dari strategi besar pengurangan emisi karbon. Berbekal kepedulian tinggi terhadap lingkungan, anak muda bisa menjadi motor penggerak utama perubahan dari ‘candu bermotor’ menuju mobilitas berkelanjutan.

* Assistant Professor, Politeknik Negeri Bandung

Baca juga: Perubahan Iklim dan Deforestasi Sebabkan Sejumlah Jamur Terancam Punah

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau