Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Logam Beracun Cemari 15 Persen Lahan Pertanian Dunia

Kompas.com, 20 April 2025, 15:39 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com-Ilmuwan mengungkapkan temuan yang mengkhawatirkan. Mereka menyebut lahan pertanian global telah tercemar dengan logam berat beracun.

Skala pencemaran diperkirakan mencapai seperenam dari total lahan pertanian dunia. Ini akan berpotensi berdampak pada kesehatan sekitar 1,4 miliar orang yang tinggal di wilayah dengan tingkat risiko tinggi.

Analisis yang dilakukan oleh American Association for the Advancement of Science (AAAS) dan diterbitkan dalam jurnal Science itu berdasarkan data lebih dari 1000 studi regional di seluruh dunia serta menggunakan teknologi pembelajaran mesin.

Mengutip Guardian, Sabtu (19/4/2025) peneliti dalam analisisnya memperkirakan sekitar 14 hingga 17 persen lahan pertanian global atau kira-kira 242 juta hektar tercemar oleh setidaknya satu logam beracun seperti arsenik, kadmium, kobalt, kromium, tembaga, nikel, atau nikel pada tingkat yang melebihi batas aman untuk pertanian dan kesehatan manusia.

Baca juga: Aktivitas Manusia Ubah 25 Persen Lahan Bumi, Pertanian Penyebab Utama

"Temuan ini mengungkapkan sejauh mana racun mencemari tanah, masuk ke makanan, air dan memengaruhi kesehatan serta lingkungan kita," kata Dr Liz Rylott, dosen senior di departemen biologi di Universitas York di Inggris, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Sebagai informasi, logam berat tersebut menyebabkan bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan termasuk lesi kulit, penurunan fungsi saraf dan organ, serta kanker.

Polusi logam beracun dalam tanah berasal dari aktivitas alami maupun manusia.

Tanah yang tercemar menyebabkan risiko signifikan bagi ekosistem dan kesehatan manusia, serta mengurangi hasil panen, membahayakan kualitas air dan keamanan pangan akibat bioakumulasi pada hewan ternak.

Kontaminasi logam beracun dapat bertahan selama beberapa dekade setelah polusi masuk ke dalam tanah.

Dan seiring dengan meningkatnya permintaan akan logam kritis, para ilmuwan memperingatkan bahwa polusi logam berat pada tanah kemungkinan akan makin parah.

Logam kritis adalah logam-logam yang sangat penting untuk berbagai teknologi (terutama teknologi hijau).

Baca juga: Pakar Pertanian UGM Sebut Pemanasan Global Ancam Ketahanan Pangan Indonesia

"Upaya untuk memenuhi permintaan logam kritis yang digunakan dalam pembangunan infrastruktur hijau justru berpotensi memperparah masalah polusi logam berat pada tanah," kata Rylott.

Lebih lanjut, dengan menggabungkan data dalam penelitian dengan distribusi populasi global, peneliti memperkirakan bahwa sekitar 900 juta hingga 1,4 miliar orang tinggal di daerah berisiko tinggi terpapar logam beracun.

Kadmium ditemukan menjadi logam beracun yang paling tersebar luas dan sangat umum ditemukan di Asia Selatan dan Timur, sebagian wilayah Timur Tengah, dan Afrika.

"Temuan ini menggambarkan bagaimana polusi logam tidak mengenal batas-batas negara. Untuk mengatasi hal tersebut, negara-negara harus bekerja sama," papar Rylott.

"Sebagian besar polusi logam terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah di mana masyarakat terkena dampak langsung. Kendati demikian dampak dari tanaman yang terkontaminasi ini belum begitu jelas," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Iklim Berpotensi Pangkas Separuh Lahan Peternakan Dunia pada 2100
Perubahan Iklim Berpotensi Pangkas Separuh Lahan Peternakan Dunia pada 2100
LSM/Figur
Tarif Nol Persen AS Ubah Peta Perdagangan Sawit Indonesia
Tarif Nol Persen AS Ubah Peta Perdagangan Sawit Indonesia
LSM/Figur
Jepang Hidupkan Kembali Reaktor PLTN Kashiwazaki-Kariwa
Jepang Hidupkan Kembali Reaktor PLTN Kashiwazaki-Kariwa
Pemerintah
Jumlah Perusahaan AS yang Publikasi Kebijakan DEI Turun Tajam
Jumlah Perusahaan AS yang Publikasi Kebijakan DEI Turun Tajam
Swasta
Duta UNICEF Soroti Pernikahan Dini hingga Kekerasan Anak di Indonesia
Duta UNICEF Soroti Pernikahan Dini hingga Kekerasan Anak di Indonesia
LSM/Figur
Cinta Laura Ditunjuk Jadi Duta Nasional UNICEF Indonesia
Cinta Laura Ditunjuk Jadi Duta Nasional UNICEF Indonesia
LSM/Figur
Investasi ESG di ASEAN Meroket, Imbangi Tren di Pasar Global yang Melemah
Investasi ESG di ASEAN Meroket, Imbangi Tren di Pasar Global yang Melemah
Pemerintah
Bulan K3 Nasional, BLKP Group Dorong Budaya Keselamatan Kerja untuk Industri Berkelanjutan
Bulan K3 Nasional, BLKP Group Dorong Budaya Keselamatan Kerja untuk Industri Berkelanjutan
Swasta
Mana yang Lebih Ramah Lingkungan: Perusahaan Keluarga ataukah Publik?
Mana yang Lebih Ramah Lingkungan: Perusahaan Keluarga ataukah Publik?
Swasta
Inggris Gelontorkan Rp 275 Miliar untuk Tata Kelola Hutan Indonesia
Inggris Gelontorkan Rp 275 Miliar untuk Tata Kelola Hutan Indonesia
Pemerintah
Mitigasi Bencana, Pertamina Patra Niaga Tanam 1.300 Pohon Saninten
Mitigasi Bencana, Pertamina Patra Niaga Tanam 1.300 Pohon Saninten
BUMN
Guru di Jombang Ajak Siswa Bijak Konsumsi Gula Lewat Program Sugar Smart Squad
Guru di Jombang Ajak Siswa Bijak Konsumsi Gula Lewat Program Sugar Smart Squad
LSM/Figur
Pulau Bengkalis Jadi Lokasi Belajar Konservasi Mangrove Nasional dan Global
Pulau Bengkalis Jadi Lokasi Belajar Konservasi Mangrove Nasional dan Global
Pemerintah
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau