KOMPAS.com-Komisi Eropa memperkirakan butuh lebih dari 240 miliar Euro hingga tahun 2050 agar negara-negara anggota Uni Eropa dapat merealisasikan rencana penggunaan energi nuklir.
Pemanfaatan energi nuklir itu pun nantinya sekaligus akan membantu mencapai target dekarbonisasi energi lebih luas yang secara signifikan mengurangi emisi karbon.
Perkiraan kebutuhan investasi lebih dari 240 miliar Euro untuk energi nuklir ini dirilis bersamaan dengan dokumen Program Ilustrasi Nuklir (PINC) terbaru dari Komisi Eropa.
Dokumen PINC berfungsi sebagai tinjauan komprehensif tentang tren pengembangan energi nuklir di Uni Eropa.
Sementara penilaian yang disajikan dalam PINC dan perkiraan investasi tersebut dibuat agar selaras dan mendukung tiga tujuan kebijakan utama Uni Eropa.
Tujuan itu adalah mengurangi emisi karbon, Rencana REPowerEU di mana akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia dan mempercepat transisi energi bersih, serta tujuan Kesepakatan Industri Bersih yang mendukung industri Eropa menuju dekarbonisasi dan daya saing.
Baca juga: Kapasitas Nuklir Dunia Terus Tumbuh, Diprediksi 494 GW pada 2035
Mengutip ESG Today, Senin (16/6/2025) berdasarkan data dan laporan resmi dari Komisi Eropa, Pembangkit listrik tenaga nuklir sendiri menghasilkan sekitar 23 persen dari total listrik yang digunakan di Uni Eropa.
Sementara beberapa negara telah memutuskan untuk menghentikan operasi pembangkit nuklir mereka, negara-negara UE lain justru telah merencanakan untuk melanjutkan atau bahkan memperluas produksi dan penggunaan energi nuklir mereka.
Hal tersebut menunjukkan adanya keragaman strategi energi di antara negara-negara anggota Uni Eropa
Negara-negara yang melanjutkan penggunaan energi nuklir, menganggapnya krusial untuk mencapai tujuan-tujuan penting seperti mengurangi emisi karbon, menjaga daya saing industri, dan memastikan keamanan pasokan energi mereka.
Komisi Eropa memproyeksikan bahwa kapasitas terpasang energi nuklir di Uni Eropa akan meningkat dari 98 GW saat ini.
Dalam skenario dasar, kapasitas ini diperkirakan mencapai sekitar 109 GW pada tahun 2050.
Namun, pada skenario yang lebih optimis kapasitas bisa melonjak hingga 144 GW pada tahun 2050.
Skenario optimis ini hanya akan tercapai jika dua kondisi terpenuhi yaitu reaktor nuklir yang ada saat ini diperpanjang masa pakainya dan semua proyek pembangunan reaktor baru dapat diselesaikan serta mulai beroperasi sesuai jadwal tanpa penundaan.
Komisi Eropa juga memperkirakan dari total 241 miliar Euro, sebagian besar, yaitu 205 miliar Euro, akan digunakan untuk membangun reaktor nuklir berskala besar yang baru.
Sedangkan sisanya 36 miliar Euro akan dialokasikan untuk memperpanjang masa pakai reaktor nuklir yang sudah ada.
Baca juga: Sudah Generasi 4, Nuklir Dinilai Bisa Jadi Alternatif Transisi Energi Bersih
Dalam jangka panjang, investasi tambahan juga bakal diperlukan untuk teknologi nuklir yang lebih baru, termasuk Reaktor Modular Kecil (SMR), Reaktor Modular Lanjutan (AMR), dan mikroreaktor, serta teknologi fusi.
Untuk mendanai investasi yang dibutuhkan, Komisi menyoroti perlunya berbagai sumber pembiayaan publik dan swasta, yang dilengkapi dengan instrumen pengurangan risiko.
“Untuk benar-benar mewujudkan transisi energi bersih, kita memerlukan semua solusi energi nol dan rendah karbon. Energi nuklir berperan dalam membangun sistem energi yang tangguh dan lebih bersih," kata Dan Jørgensen, Komisaris Energi dan Perumahan.
"Memastikan kondisi kerangka kerja yang diperlukan akan memungkinkan UE untuk mempertahankan kepemimpinan industrinya di sektor ini sekaligus menegakkan standar keselamatan tertinggi dan pengelolaan limbah radioaktif yang bertanggung jawab,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya