Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuma 4 dari 30 Perusahaan Tuna Laporkan Tangkapan, Bahayakan Keberlanjutan

Kompas.com, 20 Juni 2025, 17:05 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan dari lembaga pemikir (think tank) Planet Tracker menemukan, hanya 4 dari 30 perusahaan penangkap tuna terbesar yang melaporkan volume tangkapan mereka.

Selain itu, asal usul sebagian besar ikan yang ditangkap oleh perusahaan tersebut tidak dapat dilacak.

Akibatnya, para investor di industri tuna tidak menyadari risiko-risiko terkait alam, seperti misalnya penangkapan ikan berlebih atau kerusakan habitat.

Planet Tracker menganalisis informasi yang dibagikan oleh 30 perusahaan penangkap tuna raksasa.

Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki pangsa pasar sangat besar dalam industri penangkapan tuna global.

Mereka bertanggung jawab atas penangkapan hampir setengah (46 persen) dari total tuna yang ditangkap di seluruh dunia setiap tahun.

Baca juga: Ikan Kecil Jadi Solusi Pangan di Dunia yang Makin Memanas

Dan seperti melansir Edie, Rabu (18/6/2025), diperkirakan 56 persen dari total ikan yang ditangkap oleh 30 perusahaan penangkap tuna terbesar tersebut tidak memiliki informasi asal-usul yang jelas atau tidak bisa dilacak kembali ke sumber penangkapannya.

Ada dua kemungkinan alasan mengapa ikan tidak bisa dilacak, yang tak disengaja misalnya karena teknologi pelacakan yang rusak.

Namun, bisa juga suatu perusahaan sengaja tidak ingin ikan mereka dilacak, karena ingin menyembunyikan praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, atau tidak diatur (IUU fishing), menghindari pajak, atau menyembunyikan kondisi kerja yang tidak etis.

Dari 30 perusahaan yang dinilai oleh Planet Tracker hanya empat yang secara terbuka melaporkan tentang volume tuna yang mereka tangkap dan perkiraan tangkapan sampingan atau jumlah spesies lain yang ikut tertangkap secara tidak sengaja.

Planet Tracker pun memperingatkan bahwa tanpa data yang transparan, investor berisiko mendanai perusahaan yang merusak lingkungan laut dan, pada akhirnya, merugikan diri mereka sendiri secara finansial karena praktik tidak berkelanjutan tersebut akan menimbulkan konsekuensi yang mahal.

Baca juga: KKP: Potensi 12 Juta Ton Ikan Perlu Tata Kelola Berkelanjutan

Menurut WWF, dari delapan spesies tuna yang ada di dunia, lima di antaranya berisiko punah.

Penyebabnya penurunan populasi ini disebabkan oleh penangkapan ikan yang berlebihan, habitat yang rusak, serta ancaman dari perubahan iklim.

Itu mengapa, Francois Mosnier dari Planet Tracker menegaskan bahwa transparansi data dari setiap perusahaan penangkap ikan mengenai hasil tangkapan dan pelacakan kapal sangat vital.

Tanpa informasi detail ini, investor tidak bisa menilai risiko lingkungan yang mereka tanggung dan tidak bisa membedakan perusahaan yang beroperasi secara bertanggung jawab dari yang merusak lingkungan.

Untuk itu transparansi yang lebih baik dari perusahaan adalah kunci, yang pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak, mulai dari nelayan hingga konsumen, serta memastikan kelestarian sumber daya laut.

Industri penangkapan dan pengolahan tuna di seluruh dunia sendiri adalah sektor ekonomi yang sangat besar dan penting. Industri ini menyumbangkan sekitar 40 miliar dolar AS setiap tahunnya ke perekonomian global.

Baca juga: Jika Diteruskan, Tambang Nikel Raja Ampat Rugikan Perikanan Tuna

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Terlalu Fokus ke Baterai, Hilirisasi Nikel RI Kesampingkan Stainless Steel yang Lebih Potensial
Terlalu Fokus ke Baterai, Hilirisasi Nikel RI Kesampingkan Stainless Steel yang Lebih Potensial
LSM/Figur
Guru Besar UI: Akuntabilitas Keuangan Harus Bisa Diukur Dampaknya ke Masyarakat
Guru Besar UI: Akuntabilitas Keuangan Harus Bisa Diukur Dampaknya ke Masyarakat
Pemerintah
80 Hektare Lahan dalam Kawasan TNKS Dirambah jadi Perkebunan Kopi
80 Hektare Lahan dalam Kawasan TNKS Dirambah jadi Perkebunan Kopi
Pemerintah
IPB University Tawarkan Program Beasiswa S2 untuk Jurnalis
IPB University Tawarkan Program Beasiswa S2 untuk Jurnalis
Pemerintah
Kemenhut Gandeng BRIN untuk Kembangkan Bioprospeksi dari Tanaman
Kemenhut Gandeng BRIN untuk Kembangkan Bioprospeksi dari Tanaman
Pemerintah
Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinikmati Negara Lain
Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinikmati Negara Lain
LSM/Figur
Penjualan Mobil Listrik Dunia Diprediksi Tembus 23 Juta Unit Tahun Ini
Penjualan Mobil Listrik Dunia Diprediksi Tembus 23 Juta Unit Tahun Ini
Pemerintah
INDEF: Kebijakan Ekspor Satu Pintu Bisa Perkuat Tata Kelola Devisa
INDEF: Kebijakan Ekspor Satu Pintu Bisa Perkuat Tata Kelola Devisa
Pemerintah
China Pangkas Emisi Lebih Cepat dari Target
China Pangkas Emisi Lebih Cepat dari Target
Pemerintah
RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW
RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW
LSM/Figur
Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun
Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun
Pemerintah
Guru Besar IPB Kembangkan Lampu LED untuk Tangkap Ikan di Laut tanpa Umpan
Guru Besar IPB Kembangkan Lampu LED untuk Tangkap Ikan di Laut tanpa Umpan
Pemerintah
Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun
Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun
Pemerintah
Blackout Berulang Jadi Pertanda Bahaya Sistem Listrik yang Terpusat
Blackout Berulang Jadi Pertanda Bahaya Sistem Listrik yang Terpusat
LSM/Figur
Ekonom: Tata Kelola dan Komunikasi Jadi Penentu Keberhasilan PT DSI
Ekonom: Tata Kelola dan Komunikasi Jadi Penentu Keberhasilan PT DSI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau