JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jabodetabek.
Hal itu dilakukan selama 24 jam, untuk mencegah banjir akibat tingginya curah hujan. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengungkapkan sejak 7 Juli 2025 petugas melakukan OMC dari Pos Komando Operasi Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
“Operasi ini bukan hanya bertujuan mencegah bencana, tetapi juga menekan eskalasi dampaknya dan mempercepat proses penanganan di lapangan. Kolaborasi adalah kunci keberhasilan,” ujar Seto dalam keterangannya, Sabtu (12/7/2025).
Baca juga: Cegah Banjir, Pemprov DKI Siagakan Pasukan Oranye untuk Angkut Sampah Sungai
Dia mencatat, sejauh ini ada 18 sorti penerbangan PT Alkonost dan PT Makson. Petugas menyemai 12,4 ton natrium klorida (NaCl) dan 3,6 ton kalsium oksida (CaO) ke awan yang berpotensi memicu hujan ekstrem.
Kendati sempat dihantam cuaca buruk, modifikasi cuaca berlangsung optimal. Seto menyebut, operasi itu berhasil menurunkan intensitas hujan di beberapa wilayah target khususnya Jabodetabek.
“Modifikasi cuaca adalah upaya ilmiah berbasis data untuk meredam dampak cuaca ekstrem. Ini bukan lagi kegiatan eksperimental, tetapi bagian dari strategi nasional mitigasi bencana,” jelas dia.
Pelaksanaan OMC berdasarkan pada pemodelan cuaca numerik dan prediksi atmosfer real-time yang diperbarui secara berkala oleh BMKG. Seto mengatakan, pihaknya rutin mengevaluasi untuk melihat efektivitas operasi dan memberikan masukan teknis kepada BNPB dalam merumuskan kebutuhan lanjutan.
Baca juga: Banjir Masih Akan Hantui Indonesia, Lemahnya Monsun Australia Faktor Cuacanya
Seto menuturkan bahwa di daerah dengan sistem drainase dan resapan baik hujan intensitas tinggi dapat tertangani. Sebaliknya, di wilayah Jabodetabek, intensitas serupa dapat memicu banjir dalam waktu singkat.
Sementara itu, Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyampaikan pertumbuhan awan konvektif masih aktif terjadi. Terutama pada sore hari karena kondisi atmosfer yang basah dan tingginya penguapan.
Karenanya, petugas terus memantau pergerakan awan di wilayah utara Jawa seperti Jakarta, Karawang, dan Bekasi.
“Jika awan-awan berpotensi hujan terbentuk di atas laut dan terdeteksi bergerak ke daratan, penyemaian akan dilakukan di laut terlebih dahulu agar hujan turun sebelum mencapai wilayah padat penduduk,” papar Budi.
Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB, Agus Riyanto, berkata bahwa pihaknya mengerahkan dua unit pesawat untuk OMC. Selain itu, BNPB juga menanggung biaya operasional.
Baca juga: Pemanasan Global Bisa Ubah Pola Hujan, Timbulkan Kekeringan dan Banjir
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir sempat melanda 16 lingkungan rukun tetangga (RT) di Jakarta pada Selasa (8/7/2025) hingga Rabu siang. Ketinggian banjir antara 20 sentimeter sampai 1 meter.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya