KOMPAS.com - Sebuah studi baru dari Earth Action (EA) menemukan bahwa jika kita melarang atau menghapuskan plastik yang bermasalah, dunia bisa menghemat uang dalam jumlah yang sangat besar, yaitu antara 4,7 hingga 8 triliun dolar AS dari tahun 2025 sampai 2040.
Dan meskipun bakal ada biaya awal untuk melarang atau menghapus plastik tertentu, manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar.
Angka ini adalah hasil perkiraan berdasarkan penelitian, dengan mempertimbangkan beberapa faktor dan batasan.
Plastik bermasalah adalah jenis plastik yang mudah mencemari lingkungan dan berbahaya bagi alam serta manusia.
Studi tersebut juga menemukan bahwa larangan segera terhadap plastik bermasalah seperti kemasan Styrofoam, PVC, korek kuping dan sedotan, akan lebih efektif dibandingkan larangan atau penghentian bertahap.
Mengutip Down to Earth, Jumat (11/7/2025), penghematan besar yang akan didapat dari larangan plastik bermasalah berasal dari berkurangnya biaya mengurus sampah, emisi gas rumah kaca yang lebih rendah, penghematan di biaya administrasi, serta dampak positif terhadap lingkungan dan sosial akibat berkurangnya sampah plastik yang tidak tertangani dengan baik.
Baca juga: Bagaimana Agar Pabrik Tahu Tak Pakai Plastik untuk Bahan Bakar?
Studi menghitung potensi penghematan dari pelarangan plastik dengan membandingkan berbagai cara penerapan kebijakan mulai dari larangan langsung hingga bertahap dengan skenario di mana tidak ada tindakan sama sekali.
Skenario tentang dampak pelarangan plastik ini dibuat dengan mempelajari kebijakan pelarangan plastik yang sudah ada di berbagai tempat, serta mengambil pelajaran dari perjanjian lingkungan internasional yang sukses seperti Protokol Montreal.
“Keputusan untuk berfokus pada jenis-jenis plastik bermasalah tertentu dibuat bekerja sama dengan WWF, yang sebelumnya telah melakukan penelitian tentang jenis-jenis plastik yang paling berbahaya dan paling memungkinkan untuk diatur melalui perjanjian,” terang Hanna Dijkstra, konsultan lingkungan di Earth Action.
Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) secara global, manusia menghasilkan sekitar 430 juta ton plastik setiap tahun.
Dari jumlah tersebut, 280 juta ton menjadi sampah. Empat puluh enam persen sampah plastik berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), sementara 22 persen tidak dikelola dengan baik dan menjadi sampah.
Jika dunia menerapkan larangan atau penghapusan plastik bermasalah, konsumsi plastik global dapat turun sebesar 173-224 juta ton antara tahun 2025 dan 2040.
Dalam periode yang sama, sampah plastik yang dikelola dengan buruk dapat dikurangi sebesar 51-74 juta ton. Larangan atau penghapusan yang lebih cepat akan menghasilkan pengurangan yang lebih besar.
Jika kita tidak melakukan perubahan apa pun dalam penggunaan plastik, model menunjukkan bahwa biaya total yang harus ditanggung oleh semua pihak mencapai angka 10 triliun dolar AS antara tahun 2025 hingga 2040.
Di sisi lain melarang plastik bermasalah secara global dan segera akan menghasilkan penghematan ekonomi terbesar, yaitu 8 triliun dolar AS.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya