JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan berbagai upaya dalam mengatasi polusi udara, salah satunya uji emisi kendaraan.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto menyatakan, sektor transportasi dan industri masih menjadi dua sumber utama pencemar udara di Jakarta. Karena itu pihaknya tengah berfokus pada pengendalian emisi dari dua sektor tersebut.
“Langkah-langkah strategis yang telah kami lakukan antara lain memasyarakatkan penggunaan transportasi umum massal, mewajibkan uji emisi kendaraan bermotor disertai penegakan hukum terutama untuk kendaraan berat," kata Asep dalam keterangannya, Rabu (16/7/2025).
Total, ada lebih dari 33.000 unit truk besar yang menyumbang lebih dari separuh total polusi udara. Sehingga, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mewajibkan pemilik kendaraan berat kategori N dan O melakukan uji emisi.
Baca juga: Polusi Udara Kian Parah, Pemerintah Didesak Terapkan Baku Mutu Nasional
Kendaraan yang tidak lolos uji emisi akan terkena sanksi berupa tindak pidana rungan (Tipiring).
"Jika berhasil mengendalikan emisinya, maka kontribusinya bisa menurunkan polusi hingga 20–25 persen," tutur Asep.
Sementara ini, DLH DKI Jakarta turut mengawasi operasional industri terutama yang memicu polusi.
"Pengawasan ketat terhadap industri seperti melakukan pengukuran emisi menerus pada industri yang berpotensi melakukan pencemaran,” imbuh dia.
Lainnya, menerapkan kawasan rendah emisi terpadu (KRE-T), mengendalikan pembakaran sampah, hingga menggandeng pemerintah daerah (pemda) penyangga untuk berupaya mengendalikan polusi yang kian parah.
“Kami mendorong pemda di sekitar Jakarta untuk lebih ketat mengawasi industri di wilayah mereka agar tidak mencemari udara yang kemudian terbawa ke Jakarta,” kata Asep.
Baca juga: Paparan Polusi Udara saat Anak-Anak Berdampak Hingga Usia Remaja
Menurut dia, keterlibatan mitra atau donor internasional terbuka lebar guna mendukung program pengendalian pencemaran udara secara kolaboratif.
"Upaya dan langkah ini diharapkan dapat menghasilkan dampak yang nyata bagi kesehatan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan Jakarta," sebut Asep.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya