JAKARTA, KOMPAS.com — Penelitian yang dipublikasikan di Science Direct pada 2015 menunjukkan bahwa penggunaan kelelawar sebagai pengendali hama alami terbukti efektif dan ramah lingkungan, serta mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
Ketua Kelompok Riset Mamalia di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sigit Wiantoro, mengatakan bahwa kelelawar memang memiliki peran penting dalam ekosistem dan mendukung pertanian berkelanjutan.
“Studi membuktikan bahwa kelelawar merupakan penyedia jasa lingkungan, antara lain sebagai pengendali populasi serangga yang berpotensi sebagai hama, membantu penyerbukan, penyebar biji, serta penghasil guano yang dapat diolah sebagai pupuk,” ujar Sigit kepada Kompas.com, Rabu (16/7/2025).
Meski berpotensi mendukung pertanian berkelanjutan, pendekatan ini sejauh ini belum diterapkan secara khusus di Indonesia. Sigit menyebut, tantangan utama ada pada kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap peran kelelawar.
“Pengetahuan akan peran penting dan jasa lingkungan dari kelelawar sebagai pengendali hama masih kurang,” jelasnya.
Baca juga: Atasi Fragmentasi Informasi, Pertanian Berkelanjutan Butuh Pendekatan Digital
Ia menambahkan, masih banyak pihak yang menganggap kelelawar sebagai hama, terutama di kawasan perkebunan buah. Selain itu, persepsi bahwa kelelawar adalah penyebar penyakit juga menjadi hambatan lain yang perlu diatasi.
Menurut Sigit, risiko kesehatan memang merupakan aspek yang perlu diantisipasi jika ingin menggunakan pendekatan ini. Namun, sudah ada sejumlah studi dan panduan yang dapat dijadikan acuan untuk mengurangi dampaknya.
Salah satunya adalah dengan meminimalkan kontak langsung antara manusia dan kelelawar serta menjaga habitat mereka agar tetap sehat.
Untuk mendukung penerimaan di tingkat masyarakat, terutama petani, Sigit menekankan pentingnya komunikasi publik yang baik dengan bahasa yang mudah dipahami. Edukasi yang tepat bisa membantu membentuk kesadaran akan manfaat ekologis kelelawar.
Selain edukasi, Sigit juga mengusulkan opsi valuasi ekonomi terhadap jasa lingkungan yang diberikan kelelawar.
“Jasa lingkungan memang tidak bisa secara langsung terlihat secara materiil, namun dapat divaluasi untuk mengetahui seberapa besar dampak ekonominya,” katanya.
Ia menekankan bahwa sistem pertanian ramah lingkungan perlu mulai dipertimbangkan secara serius sebagai bagian dari strategi pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Praktik pertanian berkelanjutan, tidak hanya berdampak positif bagi masyarakat, tetapi juga bagi lingkungan dan ekosistem secara keseluruhan.
Baca juga: Pertanian Hijau Terbukti Tingkatkan Biodiversitas dan Panen, Tapi Butuh Subsidi
Menurutnya, praktik seperti pengurangan pupuk atau pestisida buatan, konservasi habitat pengendali hayati, serta pemanfaatan potensi hewan penyerbuk dapat menjadi bagian dari sistem pertanian yang berkelanjutan dan berbasis keanekaragaman hayati.
Meski belum pernah ada proyek percontohan yang secara spesifik menggunakan kelelawar untuk mendukung pertanian berkelanjutan, Sigit menyebut BRIN memiliki inisiatif proyek biovillage. Proyek ini menggabungkan pemanfaatan keanekaragaman hayati dengan prinsip pertanian ramah lingkungan.
Di akhir, Sigit menegaskan bahwa meskipun masih membutuhkan banyak persiapan, peran ekologis kelelawar dalam mendukung pertanian berkelanjutan cukup signifikan.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan kelelawar dapat ikut mendukung ketahanan pangan dan mengurangi dampak krisis iklim di sektor pertanian.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya