Menurut Glenn, keunggulan tersebut tak hanya membantu petani memperoleh hasil maksimal, tetapi juga mengurangi kebutuhan pestisida. Hal ini sejalan dengan prinsip pertanian ramah lingkungan.
Baca juga: Bioteknologi Kurangi Emisi Pertanian, Selamatkan 231 Juta Hektar Lahan
Salah satu petani peserta, Suharyadi, yang berasal dari Nganjuk mengakui keunggulan tersebut. Ia telah menanam melon DAVINA F1 selama setahun terakhir dan mencatat hasil yang memuaskan.
“Dalam waktu sekitar 60 hari setelah pindah tanam, tanaman sudah bisa dipanen. Kami bisa panen tiga kali setahun. Ini sangat menguntungkan,” ujarnya.
Panen raya tersebut menunjukkan bahwa ekosistem pertanian sejatinya tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan.
Untuk mendukung hal itu, EWINDO juga memberikan edukasi agrikultur kepada petani serta menyediakan benih unggul yang mampu beradaptasi dengan tantangan iklim dan penyakit tanaman.
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi yang turut hadir dalam acara panen massal tersebut juga mengapresiasi kolaborasi antara petani, pemerintah, dan sektor swasta dalam mendukung kemandirian pangan berbasis inovasi.
Menurutnya, panen serentak melon DAVINA F1 menggambarkan arah masa depan pertanian Indonesia yang lebih tangguh, efisien, dan ramah lingkungan.
Sebagai informasi, kegiatan tersebut juga mendapat sorotan luas di media sosial dengan kampanye bertagar #carabisapanenmakmur dan #panenmakmur. Kampanye ini merupakan ajakan kepada masyarakat dan petani untuk turut membangun praktik pertanian berkelanjutan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk DAVINA F1 dan solusi pertanian lainnya dari Cap Panah Merah, masyarakat dapat mengakses laman resmi di https://info.panahmerah.id/.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya