Akan tetapi di sisi lain, kondisi panas juga dapat meningkatkan pembangkit listrik tenaga surya.
Peningkatan tenaga surya menjaga jaringan listrik tetap tersuplai dengan baik selama siang hari. Pasokan paling melimpah terjadi pada siang hari ketika permintaan AC tertinggi, membantu meringankan beban pada jaringan dan mencegah pemadaman listrik.
Juni 2025 mencatat rekor produksi listrik tenaga surya bulanan tertinggi di Uni Eropa, mencapai lebih dari 40 persen pembangkitan di Belanda dan 35 persen di Yunani.
Baca juga: Kematian Lansia akibat Gelombang Panas Melonjak 85 Persen Sejak 1990-an
“Pembangkit listrik termal mengalami pemadaman, yang disebabkan oleh tantangan pendinginan di fasilitas nuklir, sementara kinerja tenaga surya yang kuat membantu menstabilkan jaringan yang terbebani,” kata direktur kebijakan energi di lembaga riset energi Ember untuk Eropa, Pawel Czyak.
“Berinvestasi dalam jaringan listrik yang fleksibel dan bertenaga terbarukan akan membantu sistem tenaga listrik menjadi tangguh dan menjaga biaya tetap rendah,” paparnya.
Di tempat lain, gelombang panas di bulan Juli menyebabkan produksi tenaga angin anjlok. Di tengah gelombang suhu tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, Finlandia mengalami penurunan produksi tenaga angin, dengan salah satu pembangkit listrik terlemah yang pernah tercatat.
Negara ini beralih ke tenaga air, tetapi ini saja tidak cukup untuk menutupi kesenjangan produksi.
Kondisi ekstrem tersebut kemudian menggarisbawahi semakin besarnya peran tenaga surya dalam ketahanan terhadap gelombang panas, tetapi juga menunjukkan bahwa energi terbarukan saja bukanlah solusi ajaib kecuali didukung oleh penyimpanan dan jaringan listrik yang lebih cerdas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya