JAKARTA, KOMPAS.com – Jojo, orangutan asal Kalimantan Barat kini bisa hidup di alam untuk pertama kali setelah lebih dari dua dekade berada di dalam kurungan. Saat ini, Jojo menempati enclosure hutan semi-liar yang dibangun Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di pusat rehabilitasi orangutan, Ketapang, Kalbar.
Direktur Utama YIARI, Karmele Llano Sanchez, mengaku pertama kali bertemu orangutan tersebut pada 2009 dengan kaki tetikat di halaman belakang rumah salah seorang warga.
Jojo hanya dapat duduk atapun berdiri di tempat yang sama, dikelilingi sampah, tanpa atap pelindung dari panas dan hujan. Karmele menyebut, ikatan rantai menyebabkan infeksi parah hingga besi menembus kulit Jojo.
“Itu salah satu hari paling berat dalam hidup saya. Saya hanya bisa membersihkan lukanya dan memindahkan rantainya ke kaki sebelah, karena saat itu belum ada tempat penyelamatan orangutan di Kalimantan Barat," ungkap Karmele dalam keterangannya, Senin (18/8/2025).
Baca juga: Harapan Orangutan di Tengah Ancaman Kepunahan: Sains, Politik, Publik
YIARI kemudian bertekad membangun pendirian pusat rehabilitasi orangutan di Ketapang. Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan dukungan mitra internasional, upaya membangun tempat penyelamatan dimulai.
Adapun Jojo dipelihara sejak bayi oleh pemilik sebelumnya. Saat diselamatkan, usianya diperkirakan sekitar 10 tahun.
Karmele menuturkan, timnya membawa Jojo ke pusat rehabilitasi di Ketapang. Namun, Jojo mengalami kelainan tulang akibat kekurangan gizi dan sinar matahari selama bertahun-tahun.
Kakinya bengkok dan tidak mampu menopang tubuhnya dengan normal, sehingga ia hanya bisa berjalan dengan kedua tangan. Selain itu, orangutan ini sempat menderita pneumonia kronis.
Karena itu, Karmele menilai bahwa enclosure hutan semi liar menjadi tempat aman dan layak bagi Jojo kendati tak bisa kembali ke hutan bebas.
"Ini adalah momen yang sangat emosional bagi kami semua. Melihat Jojo bisa memanjat pohon, meskipun belum lincah, adalah bukti bahwa ia akhirnya merasakan secercah kebebasan yang dulu direnggut darinya," jelas Karmele.
Baca juga: Selesai Rehabilitasi, 5 Orangutan Dilepasliarkan di Hutan Kalimantan Tengah
Dia menututkan, enclosure dibangun sejak 2022. Pembangunan enclosure awalnya sulit dilakukan. Selain tantangan konstruksi di tengah hutan, pihaknya memerlukan upaya dan waktu guna memastikan keamanan orangutan, animal keeper, hingga tim medis.
Selain itu, orangutan juga perlu dilatih dan dibiasakan untuk bisa memahami instruksi keluar dan masuk enclosure.
“Saat pertama kali keluar ke enclosure, Jojo sempat ketakutan. Ia hanya berani keluar sebentar lalu kembali ke kandangnya. Tetapi perlahan, ia mulai percaya diri dan kini mulai menjelajah pohon-pohon di sekitarnya,” kata dia.
Orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan ke alam bebas akan hidup di lahan seluas 2 hektare itu, termasuk orangutan bernama Monte dan Jimo.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyatakan dukungannya terkait enclosure orangutan.
"Enclosure ini merupakan salah satu bentuk solusi nyata dari komitmen jangka panjang terhadap orangutan yang memiliki keterbatasan fisik atau kesehatan sehingga sulit untuk dilepasliarkan," sebut Murlan.
"Dengan adanya enclosure ini, kita dapat memastikan kesejahteraan satwa dilakukan secara optimal, sekaligus mendukung kerja konservasi orangutan maupun satwa liar lainnya di tingkat tapak," imbuh dia.
Baca juga: Selesai Rehabilitasi, 5 Orangutan Dilepasliarkan di Hutan Kalimantan Tengah
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya