Penulis
Pelaporan ini memerlukan data spasial yang akurat dan metodologi ilmiah.
“Selama ini, kita menganggap air bersih, udara segar, dan perlindungan dari badai sebagai given. TNFD memaksa korporasi untuk mengintegrasikan nilai jasa ekosistem ini ke dalam buku besar mereka," ujarnya.
"Kita perlu menggunakan risk filter screen dan data geospasial untuk tahu seberapa dekat operasional perusahaan dengan kawasan keanekaragaman hayati penting," tutur Bimo.
Dia menambahkan, pengungkapan yang kredibel harus didukung oleh metrik yang spesifik, serupa dengan Science-Based Targets (SBTi) untuk iklim, guna memastikan setiap investasi hijau benar-benar memiliki dampak yang genuin dan transformatif terhadap kelestarian alam.
Baca juga: Indonesia Jadi Poros Utama Investasi Hijau China, Nilai Capai Rp 3.900 Triliun
Secara keseluruhan, adopsi kerangka TNFD di Indonesia merupakan langkah strategis yang vital.
Melalui pendekatan LEAP (Locate, Evaluate, Assess, Prepare), TNFD tidak hanya meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, tetapi juga menjamin bahwa investasi hijau yang masuk akan diarahkan pada bisnis yang paling tangguh dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai pemimpin dalam pembangunan nature-positive di Asia Tenggara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya