Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketergantungan pada Energi Fosil Tingkatkan Risiko dan Biaya Kesehatan di RI

Kompas.com, 4 Oktober 2025, 11:23 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Global Climate and Health Alliance (GCHA) mengungkapkan bahwa ketergantungan energi fosil dapat meningkatkan risiko dan biaya kesehatan di RI.

Laporan GCHA bertajuk Cradle to Grave: The Health Toll of Fossil Fuels and the Imperative for a Just Transition, mencatat setiap tahapan energi fosil dari ekstraksi hingga pembuangan limbah berdampak pada kesehatan yang harus ditanggung masyarakat.

Ketua Kampanye GCHA, Shweta Narayan, menjelaskan polusi yang dihasilkan dari batu bara, minyak dan gas dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur, keguguran, asma pada anak, penyakit jantung, kanker hingga stroke pada orang dewasa. Anak-anak serta lansia menjadi kelompok paling rentan terdampak.

“Bahkan meskipun ada teknologi penangkapan karbon, bahan bakar fosil akan tetap meracuni, menggusur, dan mengganggu stabilitas manusia. Bahan bakar fosil tidak hanya menjadi masalah iklim, tetapi juga mendorong darurat kesehatan masyarakat,” ujar Shweta dalam keterangannya, Sabtu (4/10/2025).

Baca juga: Pendanaan Energi Fosil Turun 78 Persen, tapi Proyek Baru Tetap Jalan

Di banyak negara termasuk Indonesia, masyarakat sekitar wilayah operasional migas, lahan tambang, dan PLTU batu bara menjadi pihak yang langsung terkena dampaknya.

Kasus tumpahan lumpur batu bara di Sungai Malinau, Kalimantan Utara 2021 lalu, misalnya, mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan masyarakat. Selain itu, PM2.5 yang terbentuk akibat emisi sulfur, nitrogen oksida, dan debu PLTU mampu menembus paru-paru maupun aliran darah. Ini berisiko tinggi menyebabkan kematian.

Shweta menyebutkan, kasus serupa terjadi di Kalimantan dengan menjamurnya perusahaan tambang. Kendati begitu, perusahaan kerap tak bertanggung jawab atas biaya pembersihan, perbaikan, serta remediasi pasca bencana terkait dampak yang ditimbulkan. Sehingga biaya tersebut secara otomatis akan menjadi beban pribadi masyarakat setempat.

“Transisi energi dari penggunaan batu bara dan energi fosil lainnya harus segera di dorong oleh pemerintah Indonesia. Sudah banyak contoh nyata yang menunjukan bahwa operasional PLTU di Tanah Air membawa dampak negatif bagi masyarakat," tutur Program and Policy Manager Cerah, Wicaksono Gitawan.

"Sudah saatnya Pemerintah sadar bahwa keselamatan masyarakat harus jadi prioritas nomor satu,” imbuh dia.

Tingginya Subsidi Fosil

Pihaknya menyatakan, subsidi energi fosil mencapai 7 triliun dollar AS pada 2022. Selama ini subsidi justru dikucurkan ke sektor yang menjadi penyebab penyakit dan kematian dini, alih-alih meringankan beban masyarakat.

Baca juga: Target Iklim Baru China: Pangkas Emisi 10 Persen dan Tingkatkan Pasar Bahan Bakar Non-Fosil

Selain itu, institusi keuangan dan perbankan global masih mendanai sektor tersebut meskipun telah berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih di 2050. Berdasarkan laporan, GCHA menyampaikan, JPMorgan Chase mengucurkan pendanaaan 317 miliar dollar AS pada sektor bahan bakar fosil.

GCHA menekankan pentingnya transisi energi yang adil, terutama bagi negara-negara produsen batu bara seperti Indonesia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif GCHA, Jeni Miller, mendesak para pemangku kebijakan di dunia mengakhiri kerusakan akibat bahan bakar fosil dengan beralih ke energi bersih. Ia menilai, hal ini harus tersampaikan pada pertemuan COP30 di Belem, Brasil, November mendatang.

“Respons yang tepat akan membuat pemerintah menghentikan proyek migas dan batu bara, dan mengakhiri subsidi langsung 1,3 triliun dollar AS pada sektor fosil," ucap Miller.

Menurut dia, sumber daya itu seharusnya diinvestasikan untuk kesehatan maupun energi bersih.

"COP30 adalah momen untuk bertindak tidak hanya untuk iklim, tetapi juga untuk kesehatan dan masa depan masyarakat,” papar dia.

Laporan ini memberi sinyal dan peringatan keras bahwa Indonesia harus bergerak cepat. Jika pemerintah tetap berkomitmen pada visi Indonesia Emas 2045, maka langkah yang harus dilakukan adalah memastikan rakyat bisa menghirup udara bersih tanpa fosil. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau