JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cyaca ekstrem bakal melanda sejumlah daerah selama 3-6 Oktober 2025. Mengutip laman resmi BMKG, pada periode tersebut kondisi cuaca didominasi berawan hingga hujan ringan.
“Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat,” kata BMKG, Kamis (3/10/2025).
Lalu di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Meningkat, Australia Komitmen Pangkas Emisi Karbon 62 Persen
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi. Hujan lebat diperkirakan melanda Sumatera Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
BMKG menjelaskan bahwa sejak September hingga Oktober 2025, beberapa wilayah mengalami masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
“Hal tersebut ditandai dengan kenaikan persentase wilayah yang mengalami curah hujan signifikan. Selain itu, pada masa peralihan musim atau sering disebut sebagai masa pancaroba, pola hujan biasanya terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari,” tulis BMKG.
Pemanasan permukaan yang kuat dapat memicu pembentukan awan-awan konvektif, terutama awan Cumulonimbus (Cb). Karakteristik hujan pada periode peralihan cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat yang berdurasi singkat pada skala lokal disertai petir, angin kencang, dan menimbulkan hujan es.
Selain itu, dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal turut berkontribusi terhadap kondisi cuaca. Pihaknya mencatat, nilai dipole mode index (DMI) negatif dan madden julian oscillation (MJO) pada fase tiga (Samudra Hindia bagian timur) berkontribusi dalam pembentukan awan-awan hujan.
Propagasi gelombang kelvin dan rossby ekuator juga akan menyebabkan kondisi atmosfer yang labil, sehingga memicu terjadinya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.
BMKG pun meminta masyarakat waspada serta mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir, genangan, ataupun longsor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya