Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jika Program Diversifikasi Pangan Pemerintah Hanya "Omon-omon", Krisis Mengintai Indonesia

Kompas.com, 6 Oktober 2025, 08:44 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Dwi Andreas Santosa menilai, program diversifikasi pangan yang digaungkan pemerintah hanya sekadar retorika.

Ia menganggap program diversifikasi pangan pemerintah lebih banyak berfokus pada kegiatan seremonial belaka.

"Tidak ada keinginan yang sangat kuat dari pemerintah untuk melakukan diversifikasi. Ada program diversifikasi pangam, tapi sebagian besar dananya untuk pegawai, untuk jalan ke sana ke mari. Tidak ada satu pun dana tersebut yang betul-betul mengalir untuk program diversifikasi pangan. Ini masalah besarnya," ujar Andreas dalam webinar pekan lalu.

Baca juga: Mengenal Sorgum, Pangan Kaya Gizi yang Belum Banyak Diminati Masyarakat

Kini, pangan lokal seperti sorgum, sagu, sampai ubi kayu — yang berpotensi menjadi alternatif dari beras dan gandum — semakin kurang diminati masyarakat.

Menurut Andreas, beras dan gandum sudah menjadi bagian dari selera makan orang Indonesia yang sangat sudah diubah.

"Lidah masyarakat Indonesia sudah terbentuk seperti itu dan sekarang pemerintah mau mengubah lidah lagi, kalau tidak ada keinginan yang sangat kuat, tidak ada dana yang memadai dari pemerintah, ya sudah lah akhirnya omon-omon saja," tutur Andreas.

Dari Pangan Lokal ke Gandum dan Beras

Dominasi beras dapat ditelusuri dari sejarah politik pangan di Indonesia. Andreas mengungkapkan, sebesar 50 persen pangan masyarakat Indonesia sebelum tahun 1960-an bukanlah beras.

Bahkan, masyarakat Jawa memperhatikan polo pendem — istilah untuk hasil bumi yang tumbuh terpendam di dalam tanah seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan — sebagai cadangan pangan saat paceklik. Padahal, Jawa saat itu pusat lumbung padi di Indonesia.

Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, beras menjadi satu-satunya makanan pokok, sehingga pangan lokal lainnya terpinggirkan.

"Pangan berubah dari diversifikasi menjadi beras, karena program beras massal, ingin swasembada beras yang tercapai tahun 1984, setelah itu gagal lagi, sampai sekarang," ucapnya.

Di sisi lain, pemerintah kerap menyalurkan beras sebagai bantuan sosial (bansos) untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah.

"Kenapa ada program yang dulu itu Raskin (beras untuk rumah tangga miskin), lalu kemudian Rastra (beras sejahtera). Raskin ataupun Rastra itu kan bantuannya dalam bentuk beras dan itu di seluruh Indonesia," ujar Andreas.

Baca juga: Sawah Menyusut, Petani Gurem Melejit, Alarm Ketahanan Pangan Nasional

Kebiasaan mengonsumsi beras di Indonesia semakin mengakar, bahkan di daerah seperti Papua yang sebelumnya mengonsumsi sagu. Kebijakan pemerintah mendorong masyarakat untuk beralih dari pangan lokal ke beras dengan alasan lebih praktis.

"Dari ditepungkan, kemudian menjadi makanan yang dikonsumsi, (mengolah sagu) itu kan proses yang lama. Saya ingat betul bapak/ibu dulu pegawai negeri di akhir tahun 1960-an diganti sebagian beras dengan jagung kan. Itu yang programnya ya, pada awal-awal pemerintah Soeharto, karena kita kekurangan beras saat itu. Untuk jagung beberapa jam itu harus menumbuk dan lain sebagainya. Lalu, diganti beras yang sekarang hanya perlu waktu 30 menit," tutur Andreas.

Krisis pangan di Indonesia pada akhir 1960-an diatasi pemerintah dengan menerima bantuan gandum dari Amerika Serikat. Imbasnya, Indonesia mulai mengimpor gandum sejak 1970-an, dengan proporsi sebesar 4 persen dari keseluruhan pangan pokok. Namun, saat ini proporsi gandum sebagai pangan pokok Indonesia sudah mencapai 28 persen.

"Bisa dibayangkan dan perkiraan saya, ketika 100 tahun Indonesia merdeka, proporsi gandum sebagai pangan pokok kita bisa mendekati 50 persen. Sedemikian jauh ketergantungan kita terhadap pangan impor dan kalau perkiraan saya betul, maka kita dalam ambang bahaya karena 100 persen gandum kita impor," ucapnya.

Baca juga: Bagaimana Teknologi Menarik Petani Muda dan Mendorong Swasembada Pangan?

Risiko Ketergantungan pada Pangan Impor

Ketergantungan pada gandum impor berisiko menyebabkan Indonesia krisis pangan seperti di Afrika Utara dan Timur Tengah pada 2011, yang memicu pergantian rezim, gejolak sosial, serta sangat banyaknya orang mengungsi.

Ketergantuan pada gandum impor juga mengakibatkan Indonesia menjadi semakin rentan dalam menghadapi perubahan iklim maupun penurunan produksi komoditas ini di tingkat global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Minta Pemda Waspadai Celah Kerugian Bisnis Perdagangan Karbon
KLH Minta Pemda Waspadai Celah Kerugian Bisnis Perdagangan Karbon
Pemerintah
Siswa SMAN 9 Manado Olah Limbah Tulang Ayam Jadi Peredam Suara
Siswa SMAN 9 Manado Olah Limbah Tulang Ayam Jadi Peredam Suara
Swasta
Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis
Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis
LSM/Figur
Ekspansi Pusat Data AI Bikin Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen
Ekspansi Pusat Data AI Bikin Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen
Pemerintah
Deloitte Rilis Metode Baru untuk Ukur Nilai Investasi Keberlanjutan
Deloitte Rilis Metode Baru untuk Ukur Nilai Investasi Keberlanjutan
Pemerintah
Urgensi Membangun Tata Kelola Transparan Sejak di Tingkat Tapak
Urgensi Membangun Tata Kelola Transparan Sejak di Tingkat Tapak
Pemerintah
'Ecomystic' dan Konstitusi Lingkungan Kurang Berdaya
"Ecomystic" dan Konstitusi Lingkungan Kurang Berdaya
Pemerintah
Maybank Marathon Bidik Ajang Lari Netral Karbon pada 2030
Maybank Marathon Bidik Ajang Lari Netral Karbon pada 2030
Swasta
IPB Kembangkan Empat Varietas Cabai Superpedas Lokal Pertama Indonesia
IPB Kembangkan Empat Varietas Cabai Superpedas Lokal Pertama Indonesia
Pemerintah
ITS Kembangkan Traktor Perahu Listrik, Ubah Pertanian di Lahan Gambut Jadi Lebih Ramah Lingkungan
ITS Kembangkan Traktor Perahu Listrik, Ubah Pertanian di Lahan Gambut Jadi Lebih Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
BUMN
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
LSM/Figur
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
Pemerintah
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Swasta
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau