Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisa Suplai Listrik Stabil, Panas Bumi Lebih Tahan Krisis Iklim Ketimbang EBT Lain

Kompas.com, 7 November 2025, 10:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BANDUNG, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) tahan terhadap krisis iklim dibandingkan dari sumber energi baru terbarukan (EBT) lainnya.

Misalnya, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). PLTP merupakan satu-satunya pembangkit listrik EBT base load.

Sebagai pembangkit listrik base load, PLTP bisa beroperasi secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. PLTP berkapasitas tinggi dapat menyuplai listrik kepada PLN secara stabil atau relatif tidak mudah terganggu faktor eksternal.

"Artinya, kapasitas PLTP tidak naik turun. Base load digunakan dalam jumlah besar karena produksinya stabil. Yang biasanya untuk base load ini PLTP dan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap), untuk EBT itu hanya di PLTP," ujar Pjs. General Manager Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Hendrik K. Sinaga, Kamis (6/11/2025).

Baca juga: IEA Proyeksikan Kapasitas Geothermal Global Naik Tiga Kali Lipat pada 2030

Namun, PLTP tetap pernah berhenti beroperasi (shutdown) secara tiba-tiba yang disebabkan petir atau faktor internal terkait kerusakan pada peralatan.

Selama setahun, penghentian operasional PLTP sangat jarang terjadi, dengan outage rate atau persentase seringnya pembangkit listrik mengalami gangguan hanya sekitar 0,26 persen.

Di sisi lain, faktor ketesediaan (availability factor) listrik dari PLTP juga sangat tinggi atau sekitar 98,9 persen.

"Meskipun kami pernah ada shutdown tiba-tiba, mungkin dalam sehari atau dua hari, kami (segera) lakukan maintenance, perbaikan secara cepat," tutur Hendrik.

PLTP sebagai EBT

Produk sekunder yang dihasilkan bersamaan dengan produk utama dalam proses produksi (by product) dari PLTU sebagai energi fosil adalah emisi karbon dioksida (CO2). Sementara itu, by product dari PLTP adalah uap, yang hampir tidak ada CO2-nya.

"Kalau pun ada (emisi) itu sedikit sekali, 0,0000 itu adalah by produck dari uapnya NCG, non-condensable gas, " ucapnya.

Dari segi reservoir, energi fosil termasuk sumber daya alam tak terbarukan yang bisa habis suatu hari nanti. Sedangkan panas bumi bisa dipertahankan potensinya dapat dipertahankan melalui manajemen reservoir.

Bahkan, sumber panas bumi wilayah kerja Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masih 'mengebul', meski sudah ada sejak 1926.

PLTP dikategorikan sebagai EBT karena air yang telah diekstraksi dapat dikembalikan lagi ke dalam sistem panas bumi di bawah permukaan.

"Kami menginjeksikan kembali air untuk menambah reservoirnya, untuk mempertahankan volume air di bawah. Air hujan juga akan terkumpul dan masuk ke reservoirnya, nah itulah mengapa reservoir itu enggak habis-habis, karena ada natural discharge dan injeksi," ujar Hendrik.

Baca juga: Pertamina Geothermal dan PLN IP Dorong Kapasitas Panas Bumi Lewat PLTP

Selain itu, penggunaan lahan secara langsung untuk operasional PLTP juga sangat kecil.

"Sumur re-injeksi itu luasan paling besar hanya 4 hektar. Tapi ketika sudah dioperasikan, kalau di bisnis kami di PGE, akan hijaukan kembali," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau