BANDUNG, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) tahan terhadap krisis iklim dibandingkan dari sumber energi baru terbarukan (EBT) lainnya.
Misalnya, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). PLTP merupakan satu-satunya pembangkit listrik EBT base load.
Sebagai pembangkit listrik base load, PLTP bisa beroperasi secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. PLTP berkapasitas tinggi dapat menyuplai listrik kepada PLN secara stabil atau relatif tidak mudah terganggu faktor eksternal.
"Artinya, kapasitas PLTP tidak naik turun. Base load digunakan dalam jumlah besar karena produksinya stabil. Yang biasanya untuk base load ini PLTP dan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap), untuk EBT itu hanya di PLTP," ujar Pjs. General Manager Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Hendrik K. Sinaga, Kamis (6/11/2025).
Baca juga: IEA Proyeksikan Kapasitas Geothermal Global Naik Tiga Kali Lipat pada 2030
Namun, PLTP tetap pernah berhenti beroperasi (shutdown) secara tiba-tiba yang disebabkan petir atau faktor internal terkait kerusakan pada peralatan.
Selama setahun, penghentian operasional PLTP sangat jarang terjadi, dengan outage rate atau persentase seringnya pembangkit listrik mengalami gangguan hanya sekitar 0,26 persen.
Di sisi lain, faktor ketesediaan (availability factor) listrik dari PLTP juga sangat tinggi atau sekitar 98,9 persen.
"Meskipun kami pernah ada shutdown tiba-tiba, mungkin dalam sehari atau dua hari, kami (segera) lakukan maintenance, perbaikan secara cepat," tutur Hendrik.
Produk sekunder yang dihasilkan bersamaan dengan produk utama dalam proses produksi (by product) dari PLTU sebagai energi fosil adalah emisi karbon dioksida (CO2). Sementara itu, by product dari PLTP adalah uap, yang hampir tidak ada CO2-nya.
"Kalau pun ada (emisi) itu sedikit sekali, 0,0000 itu adalah by produck dari uapnya NCG, non-condensable gas, " ucapnya.
Dari segi reservoir, energi fosil termasuk sumber daya alam tak terbarukan yang bisa habis suatu hari nanti. Sedangkan panas bumi bisa dipertahankan potensinya dapat dipertahankan melalui manajemen reservoir.
Bahkan, sumber panas bumi wilayah kerja Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masih 'mengebul', meski sudah ada sejak 1926.
PLTP dikategorikan sebagai EBT karena air yang telah diekstraksi dapat dikembalikan lagi ke dalam sistem panas bumi di bawah permukaan.
"Kami menginjeksikan kembali air untuk menambah reservoirnya, untuk mempertahankan volume air di bawah. Air hujan juga akan terkumpul dan masuk ke reservoirnya, nah itulah mengapa reservoir itu enggak habis-habis, karena ada natural discharge dan injeksi," ujar Hendrik.
Baca juga: Pertamina Geothermal dan PLN IP Dorong Kapasitas Panas Bumi Lewat PLTP
Selain itu, penggunaan lahan secara langsung untuk operasional PLTP juga sangat kecil.
"Sumur re-injeksi itu luasan paling besar hanya 4 hektar. Tapi ketika sudah dioperasikan, kalau di bisnis kami di PGE, akan hijaukan kembali," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya