MEDAN, KOMPAS.com - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA menggelar pelatihan pewarnaan alami yang ramah lingkungan untuk melestarikan kain tradisional Indonesia atau wastra.
Pelatihan itu digelar untuk para penenun di empat daerah, yakni Timor Tengah Selatan dan Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur (NTT), Baduy di Banten, serta Medan di Sumatera Utara.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, mengatakan tujuannya tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang bagi penenun agar bisa menembus pasar ekspor.
"Kalau untuk luar negeri, kami masih bekerja sama dengan partner-partner kami. Misalkan, kami pernah bekerja sama dengan World Bank Headquarters di AS," ujar Hera ditemui di Istana Maimoon, Medan, Selasa (4/11/2025).
Baca juga: Lestarikan Lagi Tenunan Berpewarna Alami, BCA Libatkan 32 Penenun Songket Melayu
Perusahaan juga memperhatikan aspek hak cipta dan perlindungan kekayaan intelektual terhadap motif-motif wastra. Sehingga, kata Hera, pihaknya sangat berhati-hati sebelum memperluas kain tenun ramah lingkungan ke pasar ekspor tertutama terkait royalti dan hak paten.
Di sisi lain, tantangan utama mengembangkan produk wastra berbasis pewarna alami yakni menyesuaikan kualitas, harga, dan pasar yang tepat.
"Maka, market orientated sebagai salah satu target ketika kami membina atau melakukan intervensi menjadi pertimbangan yang penting. Tantangannya tentu untuk market yang mungkin tidak sesuai dengan harga jual kerajinan tangan, jadi sebuah challenge," tutur dia.
Sementara ini, BCA memanfaatkan berbagai event korporat seperti BCA Expo yang rutin digelar dua kali setahun di BSD, Serpong untuk menjangkau pasar dalam negeri. Dia mencatat, penjualan dalam gelaran tersebut meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Selain itu, BCA juga menggunakan produk-produk mitra binaannya sebagai suvenir dan simbol penghargaan saat kegiatan internal maupun korporasi.
"Mudah-mudahan akses pasar ini bisa terus ada, agar teman-teman yang memproduksi binaan kami juga tetap optimistis bisa mendapatkan penghasilan dari produk mereka," ucap Hera.
Baca juga: Dukung Pemberdayaan Ekonomi, BCA Dorong UMKM Lokal Menembus Pasar Global
BCA melakukan sejumlah kajian untuk menentukan anggota binaan Bakti BCA, sekaligus menjustifikasi jenis-jenis kerajinan yang berisiko punah. Kemudian, melihat karakter pengrajin yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan.
"Kalau oke, kami akan masuk ke sana, kita akan intervensi, siapkan kalender plan-nya, seperti apa pelatihannya. Lalu sampai tujuan akhirnya itu bisa dijual," jelas Hera.
Pendampingan dilakukan secara berkala dengan evaluasi capaian dan perencanaan jangka panjang. Hera menyebutkan saat ini penggunaan warna alam dalam proses penciptaan kain tenun makin kalah pamor dari pewarna sintetis.
Produksinya yang panjang menyebabkan pewarna alam dianggap lebih sulit digunakan dan mahal daripada pewarna sintetis.
"Komunitas perajin di sini tak hanya sekadar mempertahankan tradisi tapi juga dapat bersaing di pasar lokal maupun global,” kata dia.
Berdasarkan Market Research Future 2025, nilai pasar pewarna alam dunia dapat mencapai 7,2 miliar dollar AS pada 2032 dengan estimasi pertumbuhan per tahun sekitar 8,5 persen sepanjang 2026-2033.
Tren pasar yang makin memperhitungkan dampak lingkungan dalam proses produksi menjadi pendorong utama popularitas pewarna alam.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya