Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investasi Energi Terbarukan Capai Rp 21,64 Triliun, REC Dinilai Bisa Percepat Balik Modal

Kompas.com, 6 November 2025, 19:49 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT) pada semester I tahun 2025 mencapai sekitar 1,3 miliar dollar AS atau setara Rp 21,64 triliun.

Angka ini mendekati target investasi EBT tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 1,5 miliar dollar AS.

Sebagai perbandingan, realisasi investasi EBT pada 2024 mencapai 1,49 miliar dollar AS atau sekitar Rp 24,04 triliun.

Baca juga: Transisi Energi di Daerah 3T harus Disesuaikan dengan Potensi Sumber Energi Baru

Sementara itu, data Climate Policy Initiative (CPI) mencatat total investasi di sektor ketenagalistrikan Indonesia selama 2019–2023 mencapai 38,02 miliar dollar AS atau rata-rata 7,6 miliar dollar AS per tahun.

Dari jumlah tersebut, rata-rata investasi tahunan khusus untuk sektor EBT mencapai 1,79 miliar dollar AS.

Direktur Utama Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) Fajar Wibhiyadi, menilai potensi pengembangan energi terbarukan di Indonesia dapat semakin meningkat dengan adanya perdagangan Renewable Energy Certificate (REC).

Dampak Ganda

Menurutnya, REC memberikan dampak ganda bagi pengembang pembangkit listrik berbasis EBT karena menghadirkan tambahan pendapatan di luar penjualan listrik.

“Adanya pendapatan tambahan ini bisa mempercepat pengembalian modal investasi (payback period). REC dapat menjadi semacam insentif atau sweetener bagi pelaku usaha yang mengembangkan pembangkit listrik berbasis EBT,” ujar Fajar dalam keterangan tertulis, Kamis (6/11/2025).

Fajar menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan, mulai dari tenaga air, surya, panas bumi, bayu, hingga tenaga sampah.

Baca juga: IESR Desak Reformasi Pengadaan EBT, Lancarkan Transisi Energi yang Tersendat

REC sendiri merupakan sertifikat atas produksi listrik yang dihasilkan pembangkit energi terbarukan sesuai standar nasional maupun internasional, di mana 1 REC setara dengan 1 MWh.

Perdagangan REC di Indonesia dijalankan oleh ICDX (BKDI) dan terhubung dengan sistem registri internasional seperti Evident I-REC dan APX TIGRs.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau