Penulis
KOMPAS.com - Dekan FEM IPB University Irfan Syauqi Beik, mendapatkan penghargaan sebagai Principal/Dean of the Year pada LSDB Educational Awards Programme (LEAP) 2025 yang dilaksanakan di Sharjah Chamber of Commerce and Industry Building, Uni Emirat Arab.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh London School of Digital Business, suatu perusahaan sertifikasi digital berbasis di London, yang memiliki.jaringan di lebih dari 44 negara seluruh dunia.
Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah sebelumnya dilakukan pengumumam secara online pada 25 September 2025 lalu.
Baca juga: Guru Besar IPB: Sawah Kian Tergerus karena Alih Fungsi Lahan
Irfan Syauqi Beik menjadi satu-satunya akademisi dari Indonesia yang mendapatkan penghargaan tersebut pada tahun ini.
Dalam pernyataannya, Irfan menyatakan kebahagiaannya dan mendedikasikan award tersebut untuk seluruh dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa FEM IPB.
"Tanpa dukungan mereka, mustahil kami mendapatkan penghargaan ini," ujar Irfan pekan lalu.
Proses pemberian penghargaan ini dimulai dari profiling calon awardee berdasarkan akun mereka di linkedin, lalu penelusuran informasi mengenai kiprah global mereka, dan terakhir divalidasi melalui penyampaian CV calon awardee.
Tahap selanjutnya adalah pengumuman secara online pada 25 September 2025 dan dilanjutkan ptosesi secara offline di Dubai.
Irfan menyampaikan bahwa penghargaan ini juga membuka peluang kerjasama yang lebih luas antara IPB dengan universitas-universitas Selatan-Selatan, terutama di kawasan Asia, Afrika, Amerika Selatan dan sebagian Eropa Timur.
Hal ini sejalan dengan visi IPB untuk menjadi pemimpin universitas pada kerjasama antar perguruan tinggi di kawasan Selatan-Selatan.
"Penghargaan ini semakin membuka peluang bagi FEM untuk terus melakukan ekspansi ke kawasan ini," ujar Irfan.
Irfan mencontohkan bahwa beberapa produk pengetahuan yang dikembangkan IPB telah mulai digunakan negara lain.
Baca juga: IPB: Koperasi Bisa Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di RI dan Malaysia
Sebagai contoh, Model CIBEST sebagai alat ukur kemiskinan dan kesejahteraan yang telah digunakan di dunia perzakatan dan perwakafan nasional, kini mulai digunakan di Malaysia dan di negara-negara di kawasan Afrika Barat.
Irfan menyatakan komitmennya untuk terus berinovasi dan mengembagkan berbagai program yang membawa manfaat bagi IPB, masyarakat, bangsa dan dunia internasional.
"Penghargaan ini bukanlah akhir segalanya, namun menjadi penguat untuk terus berinovasi bagi kebaikan umat manusia," tutup Irfan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya