KOMPAS.com - Aktivitas industri pengolahan logam kritis, seperti nikel, di wilayah timur Indonesia menggeliatkan perekonomian daerah setempat. Wilayah yang sebelumnya dianggap tertinggal pun perlahan mulai berkembang.
Maluku Utara, salah satu provinsi di kawasan tersebut misalnya, kini muncul sebagai provinsi dengan laju ekonomi tertinggi di Tanah Air.
Pada triwulan II 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 32,09 persen. Angka ini jauh melampaui rata-rata nasional yang tumbuh 5,12 persen.
Kinerja tersebut menopang wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) yang secara keseluruhan mencatat pertumbuhan 5,03 persen pada triwulan I 2025 dan 5,12 persen pada triwulan II.
Baca juga: Harita Raih Penghargaan Kementerian ESDM Bidang Pendidikan dan Kesehatan
Salah satu episentrum ekonomi baru di wilayah timur Indonesia adalah Pulau Obi di Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Pulau seluas 304.800 hektare (ha) ini sejak lama dikenal memiliki cadangan nikel melimpah. Nikel sendiri merupakan mineral penting untuk industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.
BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Halmahera Selatan pada 2024 mencapai 23,95 persen, tertinggi di Maluku Utara. Dari jumlah itu, sektor industri pengolahan menyumbang lebih dari separuh produk domestik regional bruto (PDRB), yakni 54,59 persen. Kemudian disusul pertambangan dan penggalian 16,36 persen.
Kelompok tani semangka Desa Buton yang merasa terbantu dengan program pendampingan oleh HARITA Nickel.Kemajuan tersebut tak terlepas dari pertumbuhan kawasan industri terpadu yang beroperasi di Pulau Obi. Salah satunya dikelola oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel), perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi.
Baca juga: Tambang Ramah Lingkungan Jadi Tren, Ini Upaya Harita Nickel dan Dairi Prima Jaga Alam
Dalam satu dekade terakhir, kawasan industri ini berkembang menjadi simpul ekonomi baru yang memadukan kegiatan ekstraksi, pemurnian, energi, dan logistik.
Perusahaan tersebut mengoperasikan tiga smelter rotary kiln electric furnace (RKEF), dua refinery high-pressure acid leach (HPAL). Fasilitas ini mengubah bijih nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi yang sebagian besar diekspor untuk kebutuhan industri kendaraan listrik.
Selain itu, perusahaan juga membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), terminal ekspor-impor, serta sistem pengolahan air yang menopang operasional industri.
Aktivitas industri di Pulau Obi ikut menggerakkan perekonomian lokal. Hingga 2024, lebih dari 23.000 tenaga kerja terserap, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Baca juga: Menambang Kepercayaan dengan Audit Ketat IRMA: Strategi ESG Harita Nickel Menjawab Tuntutan Dunia
Selain itu, tercatat transaksi dengan pemasok lokal senilai sekitar Rp 150 miliar per tahun serta program pemberdayaan bagi 65 kelompok tani dan 51 perempuan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Peningkatan aktivitas ekonomi membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satu contohnya adalah program relokasi penduduk Desa Kawasi ke kawasan baru, sebuah inisiatif bersama antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan perusahaan melalui program CSR.
Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan sosial-ekonomi warga dengan mengedepankan dialog sosial, menghormati hak-hak masyarakat, menampung masukan dari berbagai pemangku kepentingan, dan memastikan evaluasi berkelanjutan agar manfaatnya optimal.
Kini, kawasan tersebut telah menjadi wajah baru Pulau Obi dengan 259 unit rumah layak huni, akses listrik dan air bersih 24 jam, sekolah, layanan kesehatan gratis, serta pusat ekonomi terpadu yang menjadi sumber kehidupan baru bagi masyarakat setempat.
Baca juga: Demi Tembus Pasar AS dan Eropa, Harita Nickel (NCKL) Jalani Audit Terketat di Dunia
Salah satu perempuan pelaku UMKM di Desa Kawasi, Suryani Joronga, menjadi saksi perubahan tersebut. Ia mengaku kehidupan ekonomi masyarakat kini jauh lebih baik dibandingkan sebelum industri nikel berkembang.
“Perekonomian kami meningkat pesat, terutama dari sisi pemberdayaan ibu-ibu. Dulu kami belum berdaya. Setelah ada program binaan UMKM, kami merasakan dampak besar bagi kesejahteraan dan pola pikir,” ujarnya lewat jawaban tertulis kepada Kompas.com, Senin (20/10/2025).
Pemberian bantuan pemasangan listrik di Dusun Tabuji, Desa Baru, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan disalurkan ke 36 bangunan dengan 34 di antaranya adalah rumah warga yang tidak mampu.
Suryani kini mengelola usaha makanan olahan bersama sejumlah ibu di desanya. Mereka mendapatkan pelatihan pengemasan, pengawetan, dan pemasaran produk. Selain itu, perusahaan juga membantu membuka akses pasar bagi produk-produk lokal, termasuk dari tangan Suryani.
Ia mengenang masa ketika listrik terbatas dan air bersih sulit diakses. Kini, warga menikmati fasilitas dasar yang lebih baik, seperti jaringan listrik, air bersih, dan internet, serta disertai peluang ekonomi baru di sekitar kawasan industri.
Baca juga: Strategi Harita Nickel (NCKL) Genjot Laba dan Pendapatan di Tengah Penurunan Harga Nikel
“Kalau dulu ekonomi kami berjalan tersendat, kini hasilnya benar-benar terasa,” katanya.
Menurut Suryani, pembangunan permukiman baru Desa Kawasi mengubah wajah kampung mereka. Jalan desa lebih lebar dan bersih, got tertata, dan rumah-rumah kini memiliki lantai tegel serta fasilitas sanitasi yang layak.
“Perkembangannya luar biasa. Saya lahir dan besar di Kawasi, jadi tahu betul bagaimana dulu Pulau Obi sangat terpinggirkan,” ujarnya.
Transformasi Pulau Obi tidak hanya terlihat pada infrastruktur dan ekonomi lokal, tetapi juga di bidang ketenagakerjaan. Banyak warga Maluku Utara kini memiliki kesempatan meniti karier di industri strategis.
Salah satunya adalah Rudi Sapsuha yang bekerja di divisi Fire Emergency Service (FAS) sejak 2022. Baginya, bekerja di industri nikel menjadi titik balik dalam hidup.
“Perubahan terbesar tentu soal kepastian dan rasa aman. Keluarga jadi lebih tenang karena saya punya pekerjaan tetap,” tuturnya.
Ia menyebut perusahaan menyediakan berbagai pelatihan dan sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja, termasuk pelatihan keselamatan bersama Basarnas.
“Saya sudah ikut pelatihan pemadam kebakaran, Water Rescue bersama Basarnas di Ternate, hingga sertifikasi yang mendukung tugas di lapangan. Semua itu membuat saya lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi darurat,” kata Rudi.
Baca juga: Komitmen Keberlanjutan, Harita Nickel Bakal Diaudit IRMA
Menurutnya, industri yang tumbuh di Pulau Obi memberi ruang besar bagi tenaga kerja lokal untuk berkembang, tidak hanya di lapangan, tetapi juga di jenjang strategis.
“Sekarang, tinggal bagaimana kita sendiri, apakah mau belajar dan berkembang, atau berpuas diri di kondisi yang ada,” ujarnya.
Rudi melanjutkan, kemajuan industri di Pulau Obi menjadi contoh bahwa kegiatan ekstraksi dan pemurnian logam kritis dapat menggerakkan ekonomi daerah dan sekaligus membuka ruang sosial baru.
Ia berharap, pembangunan di Pulau Obi terus berjalan seiring upaya menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
“Saya melihat kemajuan perusahaan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai warga Maluku Utara, saya tertantang untuk terus belajar agar selalu relevan dengan perkembangan industri ini,” ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya