JAKARTA, KOMPAS.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat bahwa penjualan battery electric vehicle (BEV) melonjak hampir sembilan kali lipat. Head of Center Indef, Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef, Abra Talattov, mengatakan proyeksi 2025 memperkirakan BEV menembus 126.000 unit atau sekitar 10 persen dari total pasar.
Kendati begitu, penjualan mobil listrik di Indonesia menurun dari 1,048 juta unit pada 2022 menjadi 866.000 unit di 2024.
"Ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen ke arah kendaraan rendah emisi meskipun pasar otomotif secara keseluruhan sedang lesu," ungkap Abra dalam keterangannya ditulis Selasa (11/11/2025).
Baca juga: EV Bukan Cuma Tren: Pacu Ekonomi Hijau, Pangkas Beban, Ciptakan 150 Ribu Green Jobs
Peneliti Indef juga melaporkan ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) tumbuh pesat, naik dari 1.081 unit pada 2023 menjadi 3.233 unit pada 2024. Abra menyebut, dampaknya terlihat berdasarkan transaksi pengisian yang melonjak 3,4 kali lipat dan konsumsi listrik yang naik 3,7 kali lipat.
Rata-rata energi per transaksi ikut melonjak dari 20,6 kilowat per hour (kWh) di 2023 menjadi 24,9 kWh pada 2025, menandakan jarak tempuh lebih jauh atau dominasi model BEV yang lebih besar.
"Meski demikian, distribusi SPKLU masih belum merata terutama di luar Jawa, dan lonjakan saat mudik menunjukkan perlunya penguatan jaringan di koridor utama," tutur dia.
Menurut Abra, saat ini pemerintah telah menetapkan tarif kendaraan listrik melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Day Mineral Nomor 1 Tahun 2023 dan Keputusan Menteri Nomor 182.K Tahun 2023. Selain itu, memberikan insentif fiskal berupa PPN yang ditanggung pemerintah untuk mendorong harga BEV lebih terjangkau.
Baca juga: Subsidi Turun, Tarif Trump Menghantam, Tapi Penjualan EV Melonjak
Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik di dalam negeri masih menghadapi tantangan berupa harga awal kendaraan yang tinggi, keterbatasan pilihan pengisian di rumah, kekhawatiran atas jarak tempuh dan umur baterai, serta belum matangnya standar teknis maupun ekosistem pendukung.
"Artinya, meskipun kemajuan sudah terlihat nyata, adopsi massal EV masih membutuhkan strategi jangka panjang yang lebih komprehensif," jelas Abra.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya