Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

CDP: Bisnis Proyeksikan Kerugian 420 Miliar Dolar AS Akibat Risiko Cuaca Ekstrem

Kompas.com, 17 November 2025, 18:29 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Perubahan iklim telah menjadi risiko finansial langsung bagi sektor swasta.

Perusahaan-perusahaan besar memperkirakan bahwa mereka akan kehilangan 420 miliar dolar AS selama beberapa tahun mendatang akibat dampak cuaca ekstrem.

Sementara dalam jangka panjang, mereka memperkirakan risiko sebesar 650 miliar dolar AS akibat ancaman iklim kronis seperti kelangkaan air dan kenaikan permukaan air laut.

Itu merupakan dua temuan utama dari penelitian terbaru CDP berdasarkan dari analisis mendalam terhadap data lingkungan yang dilaporkan sendiri oleh lebih dari 24.000 perusahaan melalui platform pelaporan global CDP.

Baca juga: Krisis Plastik Kian Parah, Raksasa Bisnis Dunia Sepakat Desak Regulasi Baru

CDP menekankan bahwa saat ini perlu meminimalkan dan mengatasi risiko-risiko tersebut dengan biaya terjangkau.

Diperkirakan bahwa mitigasi risiko akut (420 miliar dolar AS) dapat dicapai dengan investasi sebesar 80 juta dolar AS.

Sekitar setengah dari investasi itu perlu dialokasikan untuk infrastruktur. Sisanya akan mendukung pengembangan keterampilan dan solusi berbasis teknologi.

Namun, melansir Edie, Jumat (14/11/2025) tanggung jawab aksi iklim tidak hanya dibebankan oleh perusahaan saja. Seberapa cepat mereka dapat bergerak dalam dekarbonisasi dan adaptasi iklim sangat bergantung pada tindakan yang diambil oleh pemerintah.

Hal yang sama berlaku untuk tindakan iklim pada tingkat lokal yang melaporkan melalui CDP.

Sepertiga di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak dapat memenuhi target iklim tanpa sinyal kebijakan nasional yang lebih jelas dan/atau pendanaan tambahan.

CDP berpendapat bahwa pemerintah, pada umumnya, masih memperlakukan dekarbonisasi, adaptasi iklim, alam dan penggurunan sebagai isu yang terpisah.

Hal ini mencegah pendekatan sistemik yang memadai untuk meningkatkan skala pendanaan dan pengembangan kapasitas untuk tindakan-tindakan dengan berbagai manfaat bersama.

Ada peluang bagi negara-negara untuk mengatasi kesenjangan ini dalam rencana baru mereka untuk mencapai Perjanjian Paris, yang dikenal sebagai Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC).

Baca juga: Perusahaan Terbesar Dunia Lanjutkan Target Nol-Bersih Usai Sempat Berhenti

Sekitar 110 dari 190+ negara yang berpartisipasi dalam proses iklim PBB telah menyerahkan NDC yang diperbarui tahun ini.

Upaya juga harus dilakukan untuk meningkatkan akuntabilitas misalnya, dengan membangun mekanisme pelacakan untuk kemajuan di tingkat nasional.

“Masih ada waktu untuk mencapai tujuan iklim global, tetapi transisi tidak akan terjadi tanpa pendanaan, dan pendanaan tidak akan berjalan tanpa kepercayaan. Data adalah pilar yang hilang dalam menghubungkan kebijakan dengan modal,” papar CEO CDP, Sherry Madera.

Baca juga: 3.099 Kasus Iklim Diajukan Secara Global hingga Pertengahan 2025

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Pemerintah
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
LSM/Figur
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
LSM/Figur
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Pemerintah
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Pemerintah
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Swasta
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Pemerintah
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
LSM/Figur
Babak Baru Kasus Anak Gajah Mati di TN Tesso Nilo, Polisi Tangkap Tersangka
Babak Baru Kasus Anak Gajah Mati di TN Tesso Nilo, Polisi Tangkap Tersangka
Pemerintah
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
LSM/Figur
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau