Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Terbesar Dunia Lanjutkan Target Nol-Bersih Usai Sempat Berhenti

Kompas.com, 13 November 2025, 16:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Studi baru yang dirilis oleh perusahaan jasa profesional global Accenture mengungkapkan perusahan-perusahaan terbesar di dunia sekali lagi menetapkan tujuan nol-bersih di seluruh rantai nilai mereka setelah sempat berhenti pada 2024.

Peningkatan dalam penetapan target dan upaya pengurangan emisi itu terjadi meski konteks politik dan regulasi terus berkembang.

Menurut laporan perusahaan semakin menghubungkan inisiatif iklim dengan daya saing. Hampir 90 persen perusahaan juga menghubungkan upaya dekarbonisasi mereka dengan nilai bisnis.

Melansir ESG Today, Rabu (12/11/2025) dalam laporan berjudul Destination Net Zero 2025 tersebut, Accenture mengkaji sebanyak 4000 perusahaan publik dan swasta terbesar berdasarkan pendapatan secara global.

Termasuk menganalisis dokumen-dokumen yang tersedia untuk publik, mengumpulkan lebih dari 60 kriteria terkait dekarbonisasi, dan menggunakan data emisi dari S&P Global Trucost.

Baca juga: Perusahaan RI Paling Banyak Raih Penghargaan Asia ESG Positive Impact Awards

Sejak dimulainya seri Destination Net Zero pada tahun 2021, Accenture menemukan bahwa semakin banyak perusahaan yang menetapkan target nol bersih yang mencakup emisi Cakupan 1, 2, dan 3, meningkat dari 27 persen perusahaan pada tahun 2021 menjadi 37 persen pada tahun 2023.

Pertumbuhan tersebut terhenti pada tahun 2024, dan tetap berada di angka 37 persen.

Baru kemudian di laporan terbaru, Accenture menemukan bahwa penetapan target kembali bertumbuh dan berlanjut, dengan 41 persen dari 2000 perusahaan terbesar kini melaporkan memiliki target nol bersih rantai nilai.

Pertumbuhan proporsi perusahaan dengan target nol bersih dilaporkan di Eropa dan Asia Pasifik, dan bahkan di Amerika Utara, di mana proporsi perusahaan dengan target rantai nilai nol bersih justru menurun selama dua tahun berturut-turut.

Perusahaan-perusahaan Amerika Utara masih tertinggal di angka 29 persen, dibandingkan dengan 65 persen perusahaan Eropa dengan target Cakupan 1, 2, dan 3, dan 35 persen perusahaan Asia Pasifik.

Selain itu, laporan tersebut menemukan bahwa 73 persen perusahaan kini memiliki target nol bersih Cakupan 1 dan 2, naik dari 65 persen tahun lalu, dan dari jumlah tersebut, 70 persen memiliki rencana transisi yang terperinci.

Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang menetapkan target iklim, laporan tersebut juga menemukan bahwa mereka menggunakan lebih banyak alat dekarbonisasi, atau "pengungkit", untuk mencapai tujuan mereka.

Menurut laporan tersebut, di antara 21 pengungkit dekarbonisasi teratas yang diidentifikasi, perusahaan telah mengadopsi rata-rata 13, naik dari 11,5 persen tahun lalu.

Pengungkit teratas yang digunakan oleh perusahaan meliputi efisiensi energi, yang digunakan oleh 87 persen perusahaan, pengurangan limbah (87 persen), adopsi energi terbarukan (81 persen), langkah-langkah terkait bangunan (80 persen), dan bekerja sama dengan pemasok (79 persen).

Perusahaan juga semakin banyak menggunakan insentif karyawan untuk dekarbonisasi, meningkat menjadi 57 persen pada tahun 2025 dari 54 persen tahun lalu, dan hanya 23 persen pada tahun 2023.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dukung Pembelajaran Anak Disabilitas, Wenny Yosselina Kembangkan Buku Visual Inklusif
Dukung Pembelajaran Anak Disabilitas, Wenny Yosselina Kembangkan Buku Visual Inklusif
LSM/Figur
Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Pemerintah
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Pemerintah
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
LSM/Figur
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
LSM/Figur
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
LSM/Figur
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
LSM/Figur
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
LSM/Figur
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
LSM/Figur
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Pemerintah
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
LSM/Figur
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau