KOMPAS.com - Studi baru yang dirilis oleh perusahaan jasa profesional global Accenture mengungkapkan perusahan-perusahaan terbesar di dunia sekali lagi menetapkan tujuan nol-bersih di seluruh rantai nilai mereka setelah sempat berhenti pada 2024.
Peningkatan dalam penetapan target dan upaya pengurangan emisi itu terjadi meski konteks politik dan regulasi terus berkembang.
Menurut laporan perusahaan semakin menghubungkan inisiatif iklim dengan daya saing. Hampir 90 persen perusahaan juga menghubungkan upaya dekarbonisasi mereka dengan nilai bisnis.
Melansir ESG Today, Rabu (12/11/2025) dalam laporan berjudul Destination Net Zero 2025 tersebut, Accenture mengkaji sebanyak 4000 perusahaan publik dan swasta terbesar berdasarkan pendapatan secara global.
Termasuk menganalisis dokumen-dokumen yang tersedia untuk publik, mengumpulkan lebih dari 60 kriteria terkait dekarbonisasi, dan menggunakan data emisi dari S&P Global Trucost.
Baca juga: Perusahaan RI Paling Banyak Raih Penghargaan Asia ESG Positive Impact Awards
Sejak dimulainya seri Destination Net Zero pada tahun 2021, Accenture menemukan bahwa semakin banyak perusahaan yang menetapkan target nol bersih yang mencakup emisi Cakupan 1, 2, dan 3, meningkat dari 27 persen perusahaan pada tahun 2021 menjadi 37 persen pada tahun 2023.
Pertumbuhan tersebut terhenti pada tahun 2024, dan tetap berada di angka 37 persen.
Baru kemudian di laporan terbaru, Accenture menemukan bahwa penetapan target kembali bertumbuh dan berlanjut, dengan 41 persen dari 2000 perusahaan terbesar kini melaporkan memiliki target nol bersih rantai nilai.
Pertumbuhan proporsi perusahaan dengan target nol bersih dilaporkan di Eropa dan Asia Pasifik, dan bahkan di Amerika Utara, di mana proporsi perusahaan dengan target rantai nilai nol bersih justru menurun selama dua tahun berturut-turut.
Perusahaan-perusahaan Amerika Utara masih tertinggal di angka 29 persen, dibandingkan dengan 65 persen perusahaan Eropa dengan target Cakupan 1, 2, dan 3, dan 35 persen perusahaan Asia Pasifik.
Selain itu, laporan tersebut menemukan bahwa 73 persen perusahaan kini memiliki target nol bersih Cakupan 1 dan 2, naik dari 65 persen tahun lalu, dan dari jumlah tersebut, 70 persen memiliki rencana transisi yang terperinci.
Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang menetapkan target iklim, laporan tersebut juga menemukan bahwa mereka menggunakan lebih banyak alat dekarbonisasi, atau "pengungkit", untuk mencapai tujuan mereka.
Menurut laporan tersebut, di antara 21 pengungkit dekarbonisasi teratas yang diidentifikasi, perusahaan telah mengadopsi rata-rata 13, naik dari 11,5 persen tahun lalu.
Pengungkit teratas yang digunakan oleh perusahaan meliputi efisiensi energi, yang digunakan oleh 87 persen perusahaan, pengurangan limbah (87 persen), adopsi energi terbarukan (81 persen), langkah-langkah terkait bangunan (80 persen), dan bekerja sama dengan pemasok (79 persen).
Perusahaan juga semakin banyak menggunakan insentif karyawan untuk dekarbonisasi, meningkat menjadi 57 persen pada tahun 2025 dari 54 persen tahun lalu, dan hanya 23 persen pada tahun 2023.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya